Bamby Menulis

Tentang pikiran, rasa, pengalaman hidup dan imajinasi

MY JOURNEY THRU TO YOUR MOUTH

AKU baru saja diturunkan di sebuah restoran cepat saji di kawasan Senen,  hari ini hari kamis, biasanya memang aku dan beberapa temanku selalu diturunkan di restoran ini setiap hari kamis atau hari senin.

Ternyata setelah melalui rute dari tempat kami diinapkan di daerah Pulo Gadung, kami sudah berada di pintu belakang McDonald’s Atrium Senen.

Beberapa karyawan McDonald’s menyambut kami dengan suka cita, mungkin karena kami datang lebih awal dari jadwal. Biasanya mereka akan ngedumel apabila jadwal kedatangan kami molor dari jadwal yang disepakati.

Aku sempat mendengar percakapan karyawan McD itu dengan driver yang membawa kami.

“Pak, gini dong datang lebih awal,” kata seorang crew dengan suara berseri-seri kepada driver kami.

“Kebetulan jalanan lancar mas,” sahut driver kami sambil dia menyerahkan beberapa lembar kertas, sepertinya kertas purchase order.

“Soalnya kalo bapak telat matahari keburu muncul pak, jadi kita kerjanya kepanasan,” lanjut crew yang bernama Rahman .

Sesaat kemudian, seorang karyawan McD yang lain muncul di pintu belakang restoran itu, mereka sering menyebutnya pintu back door, dia berdasi dan rapih, sementara si Rahman memakai seragam model polo shirt. Hmmm, rupanya dia Manager yang bertugas hari ini. Namanya Dewa Made. Dari namanya sepertinya dia orang Bali.

Kemudian Rahman dan Agung crew lainnya yang bertugas menyambut kami langsung bersiap di pintu mobil Truk Kontainer, bersama Mas Dewa. Aku panggil mas aja deh ke manager berdasi itu, tidak sopan kalau hanya panggil dia Dewa.

Kami disambut antusias dan penuh semangat, maklum hari masih pagi, jam belum menunjukkan pukul 08.00 WIB. Mas Dewa mulai mengabsen kami satu persatu sebelum kami diturun. Suaranya lantang.

Beef Patties, 5 case!” suara Mas Dewa memecahkan perhatianku.

French Fries, 10 case!” lanjut Mas Dewa. Sambil tangannya mencentang kertas purchase order.

Rahman dan Agung dibantu driver kami menurunkan teman-temanku yang disebutkan tadi.

Kini tiba giliranku.

Big Mac Buns, 7 tray!” seru mas Dewa. Aku sempat agak gelagapan saat aku diturunkan dari Truk.

Setiap mau diturunkan aku selalu gelagapan. Kata orang bule neuorves, gugup gitu. Gimana gak gugup, ada perbedaan temperatur  saat aku masih duduk di dalam Truk. Temperatur di dalam truk sangat dingin yaitu minus 7 derajat Celsius. Sementara saat aku diturunkan, aku langsung berada di suhu udara terbuka atau suhu ruang manusia.

Aku langsung keringatan. Badanku langsung basah.

Ya, aku sering disebut Big Mac Buns oleh orang-orang McD. Aku adalah sepotong roti beku. Makanya aku disimpan dalam truk dengan pendingin minus 7 derajat Celsius. Aku dibuat beku agar supaya lebih tahan lama.

Dalam keadaan beku, masa kadaluarsaku selama 60 hari di dalam freezer (ruang pendingin).

Aku adalah roti andalan McDonald’s, karena aku McDonald’s menjadi rajanya burger di dunia. Tubuhku berwarna coklat keemasan (golden brown), tubuhku tinggi  sekali dibanding dengan Reguler Buns atau Quarter Powder Buns, itu lho roti untuk membuat Beef atau Cheese burger dan McChicken Burger, selain itu tubuhku juga bagus dan seksi, aku ditaburi butir-butiran wijen secara merata.

Tubuhku terdiri  atas 3 bagian, yaitu Crown (mahkota yang bertabur wijen) di bagian atas, bagian tengah Club dan bagian bawahku namanya Heel. Pokoknya bentukku sangat semetris.

So, keseluruhan tinggi badanku yang atletis ini adalah 2 ½ inchi. Beratku 32 ons dan mempunyai diameter  atau lingkar perut 3 7/8 inchi. Kata teman-temanku aku sangat proporsional dan ideal. Makanya banyak yang tergila-gila padaku termasuk kaum hawa.

Biasanya setelah diturunkan dari truk delivery, aku langsung dimasukkan ke dalam Freezer restoran yang suhunya minus 18 derajat celcius. Tapi kali ini aku langsung di letakkan di area kitchen oleh Rahman untuk di thawing (dicairkan). Oh, aku tahu rupanya pagi ini mereka sudah kehabisan Big Mac Buns yang siap dimasak hehehe. Pantesan dari tadi Rahman, Agung dan Mas Dewa sumringah, rupanya akibat liburan panjang banyak persedian produk mentah yang run out alias habis hari ini. Mereka bisa selamat dari complain customer atau boss mereka hehehe.

Umurku sangat singkat kalau sudah di thawing, hanya 48 jam. Aku tahu McDonald’s sangat menjaga kualitas kami.

Tepat jam 12.00 siang, Riki nama crew yang bertugas di kitchen membuka plastik pembungkus tubuhku. Aroma roti yang masih fresh langsung menyebar keseluruh ruangan kitchen.

Rupanya ada seorang customer yang sudah memesanku.

Dengan sigap Riki, memilah-milah bagian tubuhku di Bigmac_burger
atas buns tray. Bagian Heel tubuhku sudah tergolek di atas buns tray, sementara bagian Crown dan Club pasrah tergeletak di atas buns spatula.

Aku menutup mata. Sebentar lagi tubuhku akan dipanggang oleh mesin pemanggang roti, namanya Toaster. Sebenarnya aku akrab banget dengan mesin toaster, hanya saja suhu toaster ini suka membuat aku kepanasan.

Benar saja, ceeeeessss, bagian club dan heelku sudah ditindih oleh toaster yang  panasnya 215 derajat Celsius. Aku dipanggang selama kurang lebih 35 detik, agar penampilanku terkaramelisasi dengan baik dan tentunya benar-benar hot dan fresh.

Setelah 35 detik, timer toaster berbunyi. Riki mengangkat bagian Club dan Heelku dengan menggunakan bun spatula. Lalu memasukkan bagian Crownku di bagian atas toaster untuk dipanggang juga.

Di atas bun tray, aku menuju meja dress. Untuk diberi bumbu-bumbu dan sayuran segar. Aku sempat melirik Riki memasukkan 2 buah beef patties ke dalam mesin Grill. Yup, karena aku adalah Big Mac Burger, maka tentunya untuk menyempurnakan cita rasaku, harus ada 2 buah potongan daging sapi import yang ikut dalam proses penyempurnaan ini.

Daging sapi dalam bentuk patties ini kemudian di masak dengan mesin Grill selama 38 detik. Aku mesem-mesem sendiri melihat beef patties dimasak, maklum mesin Grill sama panas dengan toaster. Suhu pemasakan Grill untuk bagian bawah (lower) platen 177 derajat Celsius dan bagian atas platen (upper) 218 derajat Celsius. Pasti mereka juga kepanasan.

Sambil menunggu beef patties matang, Riki kemudian memberi  aku baju dibagian Heelku, tepatnya sich bukan baju tapi semacam kerah dari kertas. Lalu setelah itu aku diberi saos, namanya big mac sauce sebanyak 1/3 flus ons ke bagian club dan heel. Selanjutnya di atas bigmac sauce dengan tangannya yang cekatan Riki menaburi onions (bawang dalam butiran kecil) sebanyak 1/8 tea spoon, dan akhirnya tubuhku diberikan sayur selada segar namanya Lettuce masing-masing ½ ons ke bagian club dan heel.

Belum cukup sampai di situ. Riki kemudian mengambil selembar cheese slice di letakan di atas lettuce di bagian heel dan memberikan 2 buah irisan pickles (acar timun) di atas lettuce di bagian club.

Bagian upper platen Grill mulai terbuka, itu pertanda waktu pemasakan beef patties sudah selesai. Glek, aku menelan ludah, aroma daging panggang menyengat lezat. Aku lihat Riki dengan kalemnya mengangkat 2 lembar daging sapi yang selesai dimasak itu. Diletakkannya 1 iris beef patties matang di atas cheese slice di bagian heel, satu lagi di atas 2 potongan pickles di bagian club.

Aku hampir berteriak, tapi aku urungkan. Rupanya Riki tidak lupa untuk mengambil bagian tubuhku yang masih dipanggang toaster, dengan menggunakan bun spatula bagian Crown di angkat dan digabung di atas bagian Club. Setelah itu Riki mengangkat bagian Club dan Crown untuk digabungkan dengan bagian Heel yang sudah berkerah. Sempurna! Batinku dalam hati. Aku sudah menjadi Big Mac Burger McDonald’s yang masih hot dan fresh. Santai dulu, aku masih telanjang nich.

Riki kemudian membungkus aku dengan kertas wrap.

Counter Crew,  one Big Mac ready, take it please!” teriak Riki kepada petugas counter yang memesan aku tadi. Riki melemparku ke transfer bin, tempat dimana produk jadi dari kitchen disimpan untuk diambil oleh petugas counter.

Thank you,” sahut petugas counter, segera itu dia mengambilku dan meletakkan aku di sebuah nampan.

Customerku seorang wanita. Cantik dan cukup seksi, aku mengintip dari balik pembungkus.

“Terima kasih ya,” kata wanita itu dengan sopan kepada petugas counter. “Sama-sama mbak,” jawab petugas counter tak kalah ramah dan sopan. Dengan lembut aku diangkatnya dengan nampan menuju meja lobby.

Rupanya wanita ini salah satu penggemar berat Bigmac_juga
Big Mac Burger. Dengan satu gigitan, aku telah berada dalam kunyahannya, masuk ke dalam perutnya dan beberapa gigitannya yang lain telah memenuhi selera kulinernya. Puas sekali aku, sama puasnya dengan wanita cantik itu saat mengusap mulutnya dengan tissue selesai menyantapku habis. Very fully total customer satisfaction!***

Bigmac_paket_4

CERITA: RAWALPINDI SUATU HARI

MALAM berselimut kabut. Udara diluar flat sangat dingin, angin menghembus membuat orang-orang mengetatkan jaket dan sweter mereka. Beberapa orang yang tidak mempunyai urusan penting lebih memilih tinggal di dalam rumah menghangatkan diri dengan secangkir kopi atau teh.

Flat ini memang kondisinya sudah agak tua, kusam dan terkesan tidak terurus. Hanya ada beberapa keluarga yang menempati kamar-kamar flat. Hembusan angin menyeruak masuk melewati jendela pintu flatku yang dibeberapa bagian kusennya sudah rapuh dan bolong.

Aku membiarkan angin masuk. Beberapa hari terakhir ini memang cuaca kota Rawalpindi sedang buruk, sering turun hujan dan kabut dimalam dan pagi hari. Kota ini banyak menyimpan kenangan saat aku tumbuh dewasa, kota yang berada di provinsi Punjab Pakistan berada persis dilereng selatan pengunungan Himalaya dan bukit Murree. Dibelah oleh aliran sungai Leh, Indus dan Jhelum. Sebuah kota yang indah, buatku selalu penuh kenangan.

Kenangan terakhir saat aku masuk ke sebuah Perguruan Tinggi cukup besar, namanya NUST Institute Of Information Technology Rawalpindi. Sebagai seorang yang baru menjadi mahasiswa, belajar di sebuah perguruan tinggi teknologi membuatku sangat bangga.

Walaupun aku terlahir dari keluarga sederhana, tetapi orangtuaku sangat memperhatikan pendidikan anak-anaknya. Sebelum memilih kuliah, sebenarnya aku pengen sekali bekerja di Afganistan. Maklum orangtuaku masih berdarah Afganistan, aku seringkali mendengar orang tuaku berbicara dengan kerabatnya dengan bahasa Pashto, yaitu bahasa pertuturan bangsa Pastun di Afganistan dan barat Pakistan. Kadang lucu mendengar logat pertuturan mereka.

Entah kenapa harus Afganistan. Yang pasti, saat naik ketingkat dua semester ketiga, aku harus meninggalkan bangku kuliah. Aku benar-benar pergi ke Afganistan.

***

Walaupun malam dingin kota Rawalpindi menjadi maha hangat, semua orang tampak bersuka cita. Jalan-jalanan di kota meriah penuh dengan bendera, umbul-umbul, baliho besar dan banner. Semuanya berisi slogan dan gambar Benazir Bhutto.

Aku masih di dalam flat. Perasaanku sangat tegang, aku berusaha untuk rileks dengan mengenang masa aku tumbuh besar di kota ini. Aku membuka laptop meyambungkan kabel telpon untuk membuka internet. Beberapa situs dalam dan luar negeri aku buka, aku berusaha untuk mencari lebih banyak informasi tentang kedatangan Benazir Bhutto ke Rawalpindi besok.

Sesekali aku beringsut ke springbed tempat tidur, aku memeriksa kondisi benda yang tergolek dalam koper hitam besar. Melihat kedua benda itu aku semakin tegang, entah kenapa aku berkeringat cemas. Jantungku berpacu cepat. Tidak sabar aku menunggu pagi. Malam ini terasa begitu panjang dan membosankan.

Benda itu akhirnya aku usap, sebuah senjata. Namanya Kalashnikov, aku memeluknya untuk melepas kecemasanku. Aku periksa amunisinya dan perlahan aku bersihkan ujung moncong senjata buatan Rusia ini. Setelah itu aku raih sebuah lagi, Pistol Bareta. Kupastikan pelurunya terisi dalam magazin. Pikiranku kemudian menerawang, entah apa yang aku pikirkan. Aku pengen malam berlalu cepat.

***

City_of_rawalpindi Pagipun tiba, kota Rawalpindi gegap gempita. Semua orang keluar dari rumah masing-masing. Tidak peduli dengan udara dingin. Hari ini Benazir Bhutto akan berkampanye di depan ribuan massa pendukungnya Partai Rakyat Pakistan. Kedatangannya sudah lama ditunggu sejak ia mengasingkan diri.

Gemuruh sorai sorai orang-orang di luar flat terdengar sangat keras. Tetapi justru gemuruh itu membuatku semakin tenang, semakin nyaman tiada rasa cemas dan takut.

Aku mengambil Jas dan memakainya. Mengenakan dasi di depan cermin, aku melihat lama pantulan wajahku di cermin. Wajahku cukup cakep untuk ukuran pemuda Pakistan masa kini, badanku tegap dan usiaku masih muda, belum genap berusia 30 tahun. Aku terus menatap wajahku dalam-dalam dalam cermin yang retak diujung bingkainya. Setelah puas aku ambil kacamata hitam dan memakainya.

Acara kampanye Benazir Bhutto sudah dimulai. Aku sempat berpapasan dengan beberapa reporter dan kameramen stasiun TV lokal dan Internasional di depan jalan keluar dari Flat.

Flatku sangat dekat dengan lapangan kampanye Benazir Bhutto, aku cukup jalan kaki saja melihat kemeriahan dan keramaian pesta politik ini. Pengamanan cukup ketat. Beberapa polisi dengan senjata laras panjang berada di setiap jalan, apalagi jalan menuju panggung kampanye.

Rupanya kampanye sudah selesai, massa pendukung Bhutto berteriak-teriak mengeluk-elukannya. Sampai aku sendiri terdesak-desak di antara orang-orang yang berpeluh dan bersemangat. Aku lihat Bhutto menaiki sebuah mobil entah Land Cruiser atau Toyota Cygnus Putih aku tidak terlalu perduli. Hanya aku mengamati mobil tersebut dilengkapi dengan jendela di atap (sunroof).

Aku menyelinap di antara kerumunan massa, jantungku berpacu cepat, aku hanya melihat sekelilingku berwarna abu-abu kabut, tidak ada suara, hanya terdengar suara semilir angin menghembus. Bhutto melambaikan tangannya padaku, seketika itu aku ambil pistol yang menyelip dipinggangku. Aku menembak Bhutto, tembakan pertama mengarah ke leher dan kedua ke arah dada, aku tidak yakin tembakanku mengena sasaran. Pandanganku mulai gelap dan kabur, aku memicu detonator yang ada dalam saku jasku. Warna kilat menghantam penglihatanku. Bom yang aku siapkan benar-benar sukses meledak tanpa aku tahu apa yang terjadi selanjutnya.

Pistol_1 

……..(tiada yang tahu namaku, tiada yang tahu siapa aku, aku hanya bagian cerita penghujung tahun 2007, cerita tragedi yang tragis)

ADELIN LIS

MASIH ingat dengan Adelin Lis? Itu lho tersangka pencucian uang yang masih buron sampai dengan hari ini.

Adelin Lis berstatus buron setelah kabur begitu Majelis Hakim PN Medan menjatuhkan vonis bebas dalam kasus pembalakan liar di Mandailing Natal SUMUT, pada 5 November 2007.

Banyak yang menduga, Adelin Lis disembunyikan orang, mungkin termasuk kalangan pejabat tinggi di tanah air, karena dia punya jaringan dan banyak duit.

Aku sich hanya mau sumbang saran, syukur-syukur blog ini dibaca oleh yang berkompeten.

Coba pencarian di fokuskan di Bali, karena kemungkinan besar Adelin Lis masih berada di Indonesia. Di Bali, kelihatannya dia bersembunyi di sebuah rumah di kawasan Kuta.

Kenapa Bali yang dipilih, karena Bali merupakan tempat tujuan wisata. Di sana banyak orang berlalu lalang, sehingga kemungkinan untuk luput dari pengawasan publik sangat besar.

Kita masih ingat, para teroris Bom Bali, yang menjadikan Bali sebagai tempat beraksi dan bersembunyi. Kita juga tentu masih ingat dengan mantan Perdana Menteri Thailand Thaksin Shinawatra, setelah lengser dari jabatan doi berleha-leha di Bali, dan baru ketahuan setelah beberapa hari dia berada di Bali oleh media.

So, ayo dong cari buronan ini sampai ketemu. Jangan sampai nasibnya seperti Edi Tansil, hilang ditelan bumi. Hanya Tuhan dan orang-orang yang membantu dia lari saja yang tahu nasibnya.

Adelin_lis_dan_kaki_tangan_1 Aku juga membuat sebuah lukisan rekaan Adelin Lis dengan seorang yang membuatnya aman sampai dengan sekarang.

“MELIHAT” KE DEPAN DI 2008

Visit_ind TAHUN 2008, beberapa teman memaksaku untuk "melihat" ke depan saat kami ngumpul dalam rangka arisan di CITOS (hehehe cowok kok arisan), tapi memang arisan, karena ngumpulin duit, kemudian kocok nama, dan keluarnya pemenangnya. Kebetulan aku nyuruh temanku sebut saja si Ita yang ngocok nama, dan dialah yang mendapatkan iuran duit dari 13 orang. Lumayan untuk tahun baru.

Akhirnya aku didaulat untuk "melihat" tahun 2008, dengan tidak bermaksud meramal, tapi hanya iseng memprediksi beginilah Tahun 2008 dimataku.

Semua berawal dari huruf B, BAHAGIA. Bukan karena namaku berinisial B. Beda banget! Bisa juga, Bismillahir rahmaanir rahiim.

Ekonomi SITUASI EKONOMI

Tingkat inflasi akan turun 1,2% dari tahun 2007, bahkan untuk nilai tukar rupiah akan berkisar menjadi Rp 8.510,- suatu prestasi buat para Menteri Ekonomi.

Namun, nilai tukar akan bergejolak mencapai Rp 12.500,- Hal ini disebabkan adanya peningkatan suku bunga BI (SBI) menjadi 7% dan harga BBM menjadi Rp 7.500,- per liter.

Ada kabar BAIK buat para pencari kerja, investasi (luar negeri) akan meningkat 85%, dan buat para karyawan swasta dan PNS BERGEMBIRA-lah karena akan ada kenaikkan gaji hingga 75%. Namun kok tingkat penggangguran malah naik jadi 12% ya?

Gak usah resah, karena itu tambahan dari jumlah lulusan SMA dan Perguruan Tinggi yang belum terserap di dunia kerja. Makanya ciptakan peluang kerja sendiri dong!

Sby SITUASI POLITIK

Yang ini seru, panas dan nyesekin. So, Be Happy aja. Ambil positifnya buat kita.

Dalam tahun 2008 akan ada 4 posisi Menteri yang akan dicopot atau diganti, angka 4 mungkin angka keramat buat SBY.

Ada perubahan besar Menteri dengan inisial B (silakan menduga-duga sendiri).

Menjelang Pemilu 2009, akan ada 181 Partai Politik baru (wah, banyak sekali ya…), nah mereka ini yang mendaftar ke KPU, dari partai gurem, teri sampai Paus, Gurita.

Terus, ada 17 pasang kandidat CAPRES dan WACAPRES yang akan mencalonkan diri untuk jadi Presiden (tentunya gak termasuk aku, kecuali Friendster buat Partai, terus aku dicalonin hahaha).

Calon-calon yang melaju adalah SBY, Jusuf Kalla, Megawati, Gamawang Fauzi, Fadel Muhammad dan beberapa tokoh dari kalangan TNI (mungkin bang Yos). Maaf, Pak Amien Rais dan Gus Dur, gak kelihatan.

Bams_samsons SITUASI SELEBRITIS

Hanya akan ada kabar BAHAGIA, tahun 2008 ada beberapa pesohor yang akan menikah, seperti BAM SAMSON, Virnie Ismail dan Fira Basuki. Dan banyak lagi sich, cuman 3 nama itu yang kelihatan.

Oya, akan ada sensasi dari TITI DJ, atau seleb dengan nama ada TITI-nya. Mudah-mudahan sensasi bahagia. Amien.

Swedia SITUASI OLAH RAGA

Kompetisi Sepak Bola EURO 2008, sepertinya SWEDIA harus diperhitungkan. Buat para penggemar sepak bola, boleh kecewa kalo unggulannya rontok.

Di tanah air, sepak bola di awali juga dengan B. Namun sayang, B-nya BURUK. Oya, Taufik Hidayat dikabarkan gantung raket (masak sich???).

Harry_potter_7_1 SOSIAL BUDAYA

Akan banyak buku-buku Marketing yang akan beredar di toko buku. Buku Harry Potter edisi ke-7 akan menjadi best seller di Indonesia karena ini edisi bahasa Indonesia yang terakhir.

Beberapa penulis lama akan berkiprah lagi, membuat novel atau hanya sekedar buat buku bacaan ringan.

Wow, masih akan ada 3 jenis seni budaya yang akan di klaim Malaysia (Resek juga tuh orang malaysia).

Banjir B = BUKAN BAHAGIA, BANJIR, BENCANA

Bencana alam, masih terus ada. Banjir di Jakarta akan pindah di bulan Maret atau lebih awal di bulan Februari 2008. Tapi dengan banyak berdoa, semoga tidak banjir.

Ini ngeri, kecelakaan pesawat dengan inisial B. Ah, gak usah dibahas dech.

Nah, itu dech beberapa yang "Kelihatan" di depan, di tahun 2008.

Namanya juga hanya mencoba "melihat" ke depan jadi jangan di anggap serius ya.

Bangun tidur, 29 Desember 2007

CERBUNG: “KAPTEN GANTENG”

Kapten_tni_lukas NAMANYA, Kapten AL Lukas Priambodo. Perwira Pertama di lingkungan TNI Angkatan Laut baru beberapa hari selesai mengemban tugas negara, dia baru saja pulang dari Lebanon. Setahun Kapten ganteng ini menjadi bagian dari Kontingen Garuda (Konga) XXIII A bertugas sebagai team Misi Perdamaian PBB (UNIFIL) tidak membuatnya kehilangan pesona.

Sekilas orang akan menyangka dia seorang foto model atau peragawan, pekerjaan yang jauh dari kesan "keras" tetapi siapa sangka Kapten lajang ini anggota tentara yang pernah juga bertugas di KRI Dewaruci sebelum bergabung dengan Kontingen Garuda.

Mungkin cewek-cewek akan langsung klepek-klepek kalau dapat senyuman Lukas, tatapan matanya tajam dan orangnya sangat ramah. Saat ini Lukas sedang mengambil cuti panjang, mungkin sampai tahun baru.

Aku jadi heran sendiri, dari mana Gilang bisa berkenalan dengan seorang seperti Lukas. Tetapi keheranan itu aku tepis, karena Gilang kenal Zakky saja melalui sessi chating. Aku tidak berusaha untuk menduga-duga saat kami bertiga janjian ketemu di McDonald’s Sarinah Thamrin.

"Lukas, kenalkan ini Mas Bamby," Gilang mengambil inisiatif sebelum kami mendapatkan tempat duduk. Restoran ini memang sangat ramai, walaupun sudah jam 11 malam dan bukan malam week end.

Aku langsung menyodorkan tanganku. "Bamby Khaeruman," Jawabku menyebutkan nama lengkapku. Sejurus kemudian kami duduk. Gilang langsung menuju counter memesan menu, aku memesan Panas Spesial Komplit, Lukas paket Bigmac dan Gilang sendiri entah apa.

Sambil menunggu Gilang, aku membuka percakapan dengan Lukas. "Rencana cuti mau kemana aja mas?" tanyaku. "Ah, jangan panggil aku mas, panggil aja Lukas," sahutnya. Aku tahu Lukas sedang cuti karena sebelumnya Gilang sudah cerita di telephone.

Pantesan beberapa hari belakangan ini Gilang menghilang, bahkan dia tidak pernah tidur di kos-kosannya. Gilang bagai ditelan bumi, bahkan saat Zakky masuk rumah sakitpun dia tidak tahu. Awal bulan ini saja tiba-tiba dia sms aku minta ketemuan di McDonald’s Sarinah.

"Kamu gak tahu Zakky masuk rumah sakit Lang?" aku langsung telepone dia, sesaat aku baca isi smsnya. "Emang tuh anak kenapa mas?" Gilang pura-pura bego atau memang bego beneran. "Dia komplikasi ginjal, tapi masa kristisnya dah lewat," aku agak sedikit membentak. Keterlaluan pacarnya sakit tapi gak tahu. Sebenarnya ada apa dengan Gilang dan zakky? Itu menjadi pertanyaan besar buatku.

***

"Kayaknya gak sopan banget kalo aku manggil Pak Kapten ini hanya dengan sebutan nama saja," jawabku spontan. Bayangin aku sekarang lagi duduk dan berbicara dengan seorang Perwira Pertama TNI AL, walaupun usianya kira-kira lima tahun dibawahku.

"Gak usah sungkan mas," lho malah dia manggil aku mas batinku. "Ya, udah aku panggil anda mas juga aja ya," kami tertawa berbarengan. Sebagai lelaki yang secara orientasi seksual normal, aku sedikit mengagumi Lukas. Deretan giginya rapi dan putih, senyumnya bagus, kulitnya untuk ukuran tentara terlalu putih dan hidungnya mancung. Kayak Indra Brugman nich orang, tapi Lukas lebih kelihatan macho dan dewasa dengan rambut cepak standar tentara.

"Aku mungkin akan ke Solo," katanya menjawab pertanyaanku. Ternyata Lukas orang Solo asli,  bahkan masih darah biru, ayahnya saja bergelar Raden. Pantesan tutur katanya halus. Dari percakapan ini, aku jadi tahu Lukas salah seorang lulusan terbaik AKMIL AL angkatannya tahun 1999. Karirnya melejit cepat. Aku jadi teringat Agus Harimurti suami Anissa Pohan selebritis yang masih Letnan Satu. Ternyata di Lebanon mereka satu Divisi.

"Rencananya aku akan ke Solo ditemani Gilang," lanjutnya sambil memajukan wajahnya ke arah Gilang yang masih ngantri di Counter. Aku mengikuti arah muka Lukas, sebentar lagi kami akan makan, Gilang sudah membayar pesanan kami.

"Berangkat kapan?" Tanyaku. "Besok mas," Gilang yang menjawab. Rupanya Gilang sudah duduk di depan kami. "Pakai kereta atau pesawat?" pandanganku ke arah Lukas. "Aku bawa mobil sendiri mas," kata Lukas sambil menyeruput soft drink.

"Kamu gak besuk Zakky dulu? dia masih di rumah sakit lho," aku mengingatkan. Gilang diam saja, sambil memakan McChicken Burger yang kelihatannya masih hangat, hot and fresh. "Mungkin sepulang dari Solo," balasnya singkat.

Aku sangat tahu karakter Gilang. Sepertinya Kapten Lukas menjadi teman dekatnya sekarang, akhirnya aku menduga-duga juga.

Setelah itu, kami terlibat percakapan dengan kisah-kisah Lukas saat bertugas di Lebanon. Sesekali dia bertanya tentang aktivitasku. Bahkan masalah aku pernah sakit dan di operasipun menjadi bahan obrolan kami.

Kapten AL Lukas, aku akui seorang yang mempesona. Terjawab sudah pertanyaan kenapa Gilang begitu saja meninggalkan Zakky tanpa rasa berdosa. Dalam hati aku geram. Begitu cepatkah seorang gay meninggalkan pacarnya, karena menemukan lelaki lain?

Aku gak ngerti. Buatku kita harus setia dengan pasangan kita.

Malam semakin larut, tetapi kehidupan malam Jakarta semakin bergairah. Segairah Gilang dan Lukas saat ini.

BERSAMBUNG…

KILAS BALIK: “ROAD TO JAPAN”

Hotel_nikko_narita JANUARI 2001. Inilah saat yang sangat membahagiakan buatku. Bulan ini kami akan melaksanakan Store Manager Convention di Las Vegas USA.

Tentu saja kegirangan ini bukan milikku saja, tetapi semua rekanku Store Manager McDonald’s se-Indonesia. Namun buatku ini kebahagiaan yang sangat luar biasa, terus terang aku sebelumnya belum pernah ke luar negeri.

Paling jauh aku ke Manado, itupun karena numpang lahir. Terus ke Bali dan ke Medan karena tugas.

Rupanya kami menggunakan jasa penerbangan JAL (Japan Airlines), jadi kami akan transit di Jepang. Negeri Sakura. Amboi, sudah kubayangkan bunga-bunga sakura dan gadis-gadis Jepang memakai Yukata atau Kimono.

Hari perjalananpun tiba, kami berkumpul di Terminal 2D Bandara Soekarno-Hatta, malam hari. Kami akan berangkat ke Jepang sekitar jam 23.45 WIB. Harap-harap cemas meliputi persaanku, jangan sampai pesawat delay. Bisa bete nunggu di Bandara.

Alhamdulillah, segalanya beres. Setelah check in, ngurusin boarding pass dan segala tetek bengek administrasi perjalanan luar negeri akhirnya kami duduk juga di kelas ekonomi pesawat JAL.

Pesawatnya bagus, pramugarinya cantik-cantik dan ramah. So, perjalanan Jakarta-Tokyo yang katanya kurang lebih 8 jam pasti gak akan berasa berarti.

Dalam perjalanan, di pesawat kami bersenda gurau, kadang-kadang sangat keterlaluan dan norak, sehingga mengganggu kenyamanan penumpang lain. Masa bodo, yang penting happy hahaha.

Delapan jam perjalanan terlalu cepat berlalu, mungkin karena separuh perjalanan udara aku pakai untuk tidur. Aku perlu menyiapkan stamina, karena agenda tour di Jepang sudah sangat padat. Kami hanya akan nginep semalam di Jepang.

Pesawat dengan mulus mendarat di Bandara Narita, sebuah wilayah di sebelah timur kota Tokyo. Saat menuruni tangga pesawat udara dingin menyengat kulit dan agak sedikit menusuk tulang, tapi udara musim dingin Jepang sudah kalah dengan kehangatan bahagianya bisa menginjakkan kaki di negeri orang. Lagian kita udah diwanti-wanti untuk bawa sweter dan jaket anti dingin. Allahu Akbar! seruku dalam hati.

Dari Bandara kami naik Shutte Bus menuju Hotel Nikko Narita, yang terletak di Jalan Chiba-0106, hanya 10 menit perjalanan kami sudah sampai di Hotel. Panitia sudah wanti-wanti agar kami tidak tiduran, katanya bisa-bisa kena Jet Lag. Maklum ada perbedaan waktu, di Jepang waktu lebih cepat 2 jam dibanding waktu di Jakarta.

***

Foto_temple_di_jepang1 Setelah memasukkan koper ke kamar hotel, dan sedikit cuci muka dan sikat gigi, kami sudah berkumpul di lobby Hotel.

Tujuan kami adalah GINZA. Dengan Bus yang telah disiapkan panitia perjalanan kami menuju ibu kota Jepang, Tokyo. Cerocosan pemandu wisata lokal yang jago bahasa Indonesia hanya kudengar sedikit, aku lebih fokus melihat kiri kanan, mengagumi kerapihan jalanan tol, kebersihan dan keteraturannya sambil membandingkannya dengan Jakarta. Kata orang "Jauh man!" hahaha.

Sebelum jam 12 siang waktu setempat kami tiba di Ginza. Wow… gedung-gedung pencakar langit seolah-olah melambai mengucapkan selamat datang. Aku hanya terpaku bengong melihat ke langit, tinggi-tinggi amat gedung di Ginza. Ya, Ginza berada tepat di jantung kota Tokyo, menjadi pusat bisnis dan perdagangan. Buat wisatawan menjadi pusat belanja. Tapi di Ginza, aku dan beberapa teman hanya menikmati suasana kotanya dan sekedar window shoping, harga-harga barang yang di jual di sana kelewat mahal.

Setelah makan siang di sebuah restoran, kami diberi waktu bebas untuk jalan-jalan.

Tujuan kami hanya foto-foto, cari restoran McDonald’s, foto-foto lagi. Dengan kelompokku kami keluar masuk toko, tapi gak ada yang dibeli. Waduh, tiba-tiba perutku mulas, mungkin lambungku belum bisa beradapatasi dengan makanan lokal Jepang. Aku nyari-nyari toilet tapi gak ketemu, gak ada yang nyediaan toilet kecuali di restoran. Akhirnya aku memencarkan diri sendiri, aku kembali ke restoran dimana kami makan siang tadi. Haaah, lega rasanya sekarang.

Sekarang aku yang bingung, aku mencari sisa-sisa rombangan, tapi gak ketemu. Akhirnya aku menelusuri trotoar jalan yang aku lewati tadi. Untuk memotong jalan aku masuk ke sebuah gang kecil yang menyambungkan ke jalan besar. Ternyata di Gang tersebut ada Sex Shop. Iseng-iseng aku masuk, khan di Indonesia belum ada toko ginian. Sungguh suprisse… banyak sekali benda-benda "lucu" orang dewasa yang aku temui disitu hehehe. Aku foto-foto sendiri.

Akhirnya aku bertemu juga dengan rombongan. Setelah itu kami menuju Bus dan kami akan berkunjung ke Asakusa Temple.

Kuil besar ini bernama lengkap, kalo tidak salah Asukusa Kannon Temple, terdiri dari dua pintu utama. Kami masuk lewat pintu Kaminarimon, pintu lainnya namanya Hozomon yang menjadi pintu keluar. Di dalam kuil tersebut berdiri juga Sensoji Temple. Sayangnya karena hanya 2 jam waktu yang disediakan panitia, jadi aku tidak terlalu sempat melihat detail kuil-kuil yang sangat termasyur ini. Tidak apalah, yang penting aku sudah pernah menginjakkan kakiku di kuil ini dan berfoto. Itu sudah cukup.

Sebenarnya banyak tempat wisata di Jepang khususnya di Tokyo, tetapi karena waktu kami tidak banyak jadi hanya dua tempat yang dapat kami kunjungi.

Sore sudah datang, sinar matahari sudah mulai redup, diganti dengan gelap malam yang diselingi oleh gemerlap lampu-lampu gedung bertingkat. Saat itu, aku dan rombongan sudah di Hotel, kami berisirahat sejenak, terlelap sedikit.

Oh Jepang, malam ini titik-titik hujan salju mulai turun. Dan tengah malam nanti kami akan terbang lagi, menuju negeri Paman Sam.

Terima kasih Jepang atas keindahan alam dan kotamu. Aku terlelap dalam perjalanan terbang menuju Los Angeles USA.

(Selanjutnya: Road to America!)

CERBUNG: “OPERASI”

ASTRID. Wajahnya itu begitu imut dimataku, dia sedang menangis saat aku sadarkan diri.

"Papa udah bangun ya?" sepertinya dia mengharapkan jawaban dariku. Aku mengangguk. Dia tersenyum, sambil menyeka air matanya dengan tissue, hidungnya memerah matanya sembab. Rupanya dia kebanyakan menangis saat aku pingsan.

Dia anakku satu-satunya, hasil penikahanku dengan Dewi. Dewi istriku, entah dimana dia. Sejak kami bercerai lima tahun yang lalu dia memilih tinggal di Jerman, bersama orang tuanya yang menjadi dosen di sebuah universitas ternama di sana.

Saat ini Astrid, baru kelas 2 SD. Dia gadis yang lincah, cerdas dan mandiri, cuman isengnya minta ampun. Paling suka dia menyembunyikan sisirku. Maklum, aku paling suka nyisir, bahkan untuk tidurpun aku sempatkan untuk nyisir. Dia akan tertawa terbahak-bahak kalo kami mau tidur, terus aku nyisir dulu.

"Pa, nanti juga rambutnya berantakan lagi," katanya sambil ketawa renyah. "Jangan salah, barangkali papamu ketemu cewek cekep dimimpi, khan gak malu-maluin,"celotehku sambil terus nyisir. Astrid guling-guling menahan lucu. Ah, setelah itu kami terlelap dengan mimpi masing-masing.

***

Rupanya aku harus menjalani operasi by pass jantung. Betapa malang nasibku, masih muda tetapi keropos.

"Anda akan dibius total," Dokter Erwin membuyarkan lamunanku. Aku sudah berada di atas meja operasi, peralatan operasi aku dapat lihat dengan ujung mataku. Mengerikan!

Setelah segalanya dianggap beres, dokter Erwin menghampiri aku. "Okey, tenang, rileks… dalam hitungan tiga, anda akan tertidur," katanya sambil memegang tanganku. "Satu…dua….tiga!" Semuanya gelap, aku terlelap. Tidur pulas.

Aku masih merasakan gelap, eh ada cahaya diujung lorong sana batinku. Aku cepat-cepat berlari ke arah cahaya di ujung lorong. Hah, akhirnya aku melihat sebuah rumah.

Aku ingat ini rumahku saat aku masih kecil, sebuah rumah dengan pekarangan luas di Ampana, sebuah kota kecamatan di Kabupaten Poso Sulawesi Tengah. Setelah bertugas selama 10 tahun di Manado, kemudian di Bitung Sulawesi Utara, ayahku dipindah tugaskan di Ampana sebuah kota kecil tanpa listrik.

Untuk menempuh kota ini dari Poso, dibutuhkan waktu sehari semalam, dengan menggunakan mobil jenis Jeep hartop yang kemudian menjadi kendaraan dinas ayah. Harus menempuh jalanan berkubang lumpur, kemudian melintasi beberapa sungai besar dengan rakit kayu dan sekali-kali ketemu dengan segerombolan orang hutan, mungkin monyet kali ya.

Hahaha hore, aku sedang mandi di pesisir pantai Ampana yang indah. setelah itu dengan beberapa teman kami bermain perang-perangan di pusat pasar kota Ampana. Aku selalu menjadi komandan perang.

Sejak kecil bakat kepemimpinanku sudah menonjol. Saat ikut Pramuka siaga, aku selalu menjdi ketua regu. Lho, aku heran sendiri. Kok aku sekarang sudah berada di sebuah alun-alun. Ini bukan di Ampana, terlalu rame di sini.

Rupanya ini alun-alun kota Tegal, ya Tegal. Ayahku hanya 3 tahun di Ampana. Kemudian kami sekeluarga pindah ke Tegal, kota pelabuhan di Jawa Tengah. Hmmm, aku melangkahkan kakiku ke arah kantor pos besar Tegal. Aku senyum-senyum sendiri.

Aku pernah menjadi Juara ke-2 Lomba Menggambar kantor pos Tegal, yang memang sebuah bangunan tua peninggalan kolonial belanda. Kantornya besar, dengan tiang-tiang dan tembok yang kokoh. Aku tersenyum karena saat itu, aku masuk di berita daerah TVRI, waktu itu aku kelas 6 SD. Padahal cuman gambar foto hitam putih yang terpampang di monitor hitam putih TV di rumah kami. Tapi itu cukup membanggakan kami sekeluarga. Keesokan harinya aku disambut bak pahlawan oleh guru dan teman-temanku di sekolah. Maklum, aku khan Juara 2 lomba gambar se-Kabupaten Tegal untuk tingkat SD.

Aku masih tersenyum-senyum. Tiba-tiba, plaaak! sebuah tendangan keras menampar mukaku. Aku terjatuh, wajahku panas sekali, mungkin hidungku berdarah. Oh, ternyata tidak. tapi tendangan tadi cukup membuatku sakit dan sedikit berkunang-kunang.

"Kamu gak apa-apa?" seseorang berseragam putih-putih menghampiriku. Lho, itu khan sabam Siregar. Ada dimana aku sekarang? Horas! Aku sedang di arena sparing tae kwondo di sekolahanku. Cepat sekali aku ada disini, otakku masih mikir. Aku kemudian mudeng, setelah 2 tahun kami di Tegal, ayahku dipindah tugaskan ke Medan. Semboyan "Ini Medan Bung!" masih melekat dalam ingatanku sampai sekarang.

Ikut tae kwondo, sebenarnya lebih kepada gengsi. Biar gak ada yang ganggu, maklum perawakanku cukup mungil untuk ukuran anak kelas 2 SMP, makanya dengan beberapa kawan sekelas kami mengikuti kegiatan ekstra kurikuler tae kwondo. Sejak itu, aku menjadi sangat pede, bahkan saking pedenya, aku malah sering memalaki anak-anak baru kelas 1 SMP dimana aku sekolah. Aku jadi preman kecil-kecilan di sekolah. Aku juga sering kabur dari kelas kalau pelajaran biologi atau matematika. Pelajaran yang sangat aku benci.

Untuk meredam kebandelanku aku diajak oleh ketua OSIS untuk menjadi panitia perayaan Isra Mir’aj di sekolah. "Bam, kamu punya potensi seni," begitu rayu Hendra ketua OSIS yang juga teman sekelasku. Hendra anak pejabat, kami sering panggil nama ayahnya dengan sebutan Mr. HH (kepanjangan dari Harsudiono Hartas, Pangdam saat itu). "Oke, tapi hanya untuk kali ini aja ya. Kalau bukan kau yang ngajak, aku pasti gak mau," kataku dengan logat di batak-bataki.

Dekorasi panggung perayaan isra mir’aj sukses. Kepala Sekolah Pak Rambe sampai terkagum-kagum. Akhirnya disetiap perayaan atau kepanitiaan OSIS aku selalu mejadi seksi dekorasi. Jabatanku kemudian naik menjadi penanggung jawab majalah dinding (mading)sekolah. Tetapi kebiasaan memalak adik-adik kelasku tetap berljalan, hitung-hitung side job. Kebadunganku tidak berhenti.

Aku tertegun. Aku mendengar orang-orang menangis. Ada apa ini, batinku bertanya-tanya.

"Papa meninggal bam," begitu kata orang disampingku. Aku kaget sekali. Orang yang bilang kepadaku adalah ayahku sendiri.

BERSAMBUNG…

CERBUNG: “PENGAKUAN”

"SIALAN!" umpatku. Dari mana Gilang bisa tahu aku nulis tentang dia dan Zakky di blog friendster. Padahal aku tidak pernah cerita-cerita kesiapapun kalo aku ikutan friendster, termasuk kepada Astrid.

Pantesan pagi-pagi kemaren Gilang telpon aku. Aku pikir dia akan menawarkan produk terbaru asuransi dimana dia bekerja. Ternyata tidak, Gilang marah-marah.

"Mas, keterlaluan, masak elo beberin gue di FS!" bentak Gilang. Aku tahu dia marah besar. Biasanya Gilang sangat respek ke aku, bukan dia saja, Zakky juga. Termasuk mantan pacar-pacar Gilang yang telah diputus setelah dia ketemu Zakky.

Aku mencoba menjelaskan, tapi sia-sia. "Gue benci kamu mas!" Telpon ditutup. "Sialan!" sekali lagi aku mengumpat. Cerita ini tidak bisa aku hentikan. Sepanjang perjalanan ke kantor aku berpikir, tentang perasaan Gilang, tentang aku. Aku yakin Zakky belum tahu, dia masih di Rumah Sakit.

***

Setahun yang lalu, tiba-tiba Gilang sudah muncul ditempat kerjaku. Biasanya dia telpon dulu kalau mau mampir.

"Mas, ada waktu gak?" tanyanya basa-basi. "Gak ada!" jawabku sekenanya. Dia agak memaksa aku untuk menerima dia, sepertinya ada yang ingin dia bicarakan. Untung saat itu aku bisa mengambil break diawal, tidak ada kerjaan yang berarti saat itu.

Kami langsung keluar, mencari makan. Gilang seperti ragu-ragu ingin mengatakan kepadaku apa yang dia ingin ungkapkan. "Elo mau ngomong apa lang?" aku membuyarkan keragu-raguannya.

"Aku mau curhat mas," agak malu dia. Mau bicara apa sich si Gilang, batinku. Aku lihat dia menarik nafas agak panjang, lalu berceritalah Gilang. Ceritanya merupakan suatu pengakuan. Pengakuan yang sebenarnya tidak perlu dia ceritakan. Aku anggap ini statement resmi Gilang, semacam legal formal untuk aku, bahwa Gilang seorang gay. Homo.

Gilang rupanya merasa ketertarikan kepada laki-laki sejak kelas 1 SMP, sejak ibunya meninggal. Ada trauma psikologi yang dia alami sehingga dia mengalami deviasi secara seksual. Rupanya ayah tiri Gilang juga seorang homo, Gilang sempat memergoki ayahnya bersetubuh dengan laki-laki saat dia pulang dari sekolah. Gilang semula sangat takut, jijik, marah melihat adegan ayah tirinya itu. Namun setelah itu muncul gairah, Gilang merasakan kehangatan disekitar kemaluannya, kemudian badannya bergelinjang. Tidak ada kemarahan untuk ayah tirinya.

Sejak kenal dengan Gilang aku sebenarnya sudah tahu dia gay. Dari bahasa tubuhnya, dari siapa-siapa saja yang dia kenalkan padaku, tidak pernah perempuan. Teman dan relasinya semua laki-laki, yang ternyata pacar-pacarnya.

Aku hanya sempat berpesan. "Coba kamu cari cewek, terus pacaran atau kawinlah sama perempuan," khotbahku. Agar dia bisa normal. Normal???

***

Aku mematut diri di depan cermin. Sepertinya aku normal. Tidak ada kejanggalan dalam struktur fisik tubuhku. Astrid saja selalu memuji penampilanku, baik saat aku bangun tidur, mau kerja ataupun saat aku mau tidur. Bahkan, dia bisa tertawa kalau sebelum tidur aku menyisir rambutku dulu. Katanya buat apa nyisir, nanti juga berantakan. Betul juga Astrid.

Tetapi aku selalu merasa tidak normal. Aku selalu merasa iri melihat orang-orang diseusiaku masih melakukan hal-hal yang dilakukan oleh orang-orang usia remaja. Atau aku sangat iri dengan orang-orang tua yang masih bisa beraktivitas selayaknya orang muda.

Aku merasa, aku hidup didua dunia yang berbeda. Dunia nyata, ada juga dunia nyata lainnya, tetapi bukan dengan orang-orang yang aku kenal. Kadang dalam duniaku, aku sekelebat saja melihat orang-orang yang kukenal dalam dunia lainku.

Suatu hari sepulang kerja, aku jalan-jalan sendiri disebuah mall. Suasana mall cukup ramai, mungkin karena hari itu hari jum’at. Namun sesaat kemudian, aku tiba-tiba melangkah memasuki sebuah ruangan yang sangat besar, putih bercahaya, tidak ada suara tidak ada orang. Aku terperanjat, bagaimana mungkin aku ada disini. Aku sempat bingung, dan akhirnya aku berteriak-teriak minta tolong. Suaraku bagai ditiup angin, aku teriak langsung senyap, begitu seterusnya. Tiba-tiba aku merasakan kedinginan diujung kaki-kakiku, dingin itu merambat naik mencapai perutku. Aku meronta, aku berusaha mengusap-usap tanganku ke bagian perut agar hangat, tetapi sia-sia. Dingin menjalar kedadaku, keleherku. Aku tidak bisa bernafas! Dadaku serasa mau pecah, tenggorokanku tercekat.

Tiba-tiba ada yang menghampiriku, dia memandangku. Aku meminta tolong, tapi orang berbadan besar berbaju putih berkilau itu hanya mengeluarkan satu ucapan, lirih sekali, tapi sangat bergetar dikupingku. "Belum saatnya!"

Ada apa ini? Kenapa orang-orang mengerubungiku. Aku tidak kenal wajah-wajah mereka semua. Tapi aku tahu aku sedang berada di mall, ya di Mall Ambassador. Aku juga heran, aku dibopong oleh beberapa orang, diantaranya berpakaian Satpam. Mereka sangat terburu-buru sekali, sampai aku juga ikut terengah-engah.

***

Astrid tampak cemas, dia memegang tanganku sambil menangis. Dimana aku? Hidungku kenapa memakai masker, masker oksigen. Kenapa juga ada kabel-kabel didadaku?

"Papa bangun papa…," Astrid menangis menghibah.

BERSAMBUNG…

CERBUNG: HARI YANG TERLEWAT

Zakky KORIDOR Rumah Sakit Cipto masih sepi. Mungkin karena hari masih pagi sekali. Lamat-lamat terdengar suara telapak sepatu dua orang memasuki kamar rawat inap Zakky.

Dokter Satya dan Suster Eva, memeriksa kondisi Zakky. Zakky tidak berbicara sedikitpun. Matanya menerawang, menembus jendela kamar rumah sakit, dia hanya melihat hijau pepohonan di luar sana.

Hari ini begitu menyiksa buat Zakky. Bukan karena leukimia yang makin senang menggerogoti bagian ginjalnya. Tetapi hari ini seharusnya Zakky berorasi di Bundara HI (Hotel Indonesia), hari ini harusnya menjadi hari istimewa buat Zakky.

Beberapa hari yang lalu oleh Yayasan AIDS Indonesia, Zakky didaulat untuk berorasi pada peringatan hari AIDS dunia. Ya hari ini, 1 Desember. Harusnya Zakky memimpin aksi demo simpati untuk memperingati hari AIDS Sedunia. Jalurnya demo sudah dirancang jauh-jauh hari. Surat izin demo dari Polda Metro Jaya sudah ada ditangannya.

"Kita berkumpul di depan Hotel Indonesia, nanti di bunderan HI saya akan berorasi. Dan teman-teman lainnya membagi-bagikan bunga dan kondom!" Jelas Zakky bersemangat kepada beberapa temannya yang menjadi koordinator lapangan.

"Setelah itu, kita long march menuju Istana Negara," Lanjut Zakky.

Mereka juga membicarakan aksi demo menentang demo mereka, Zakky sudah mendengar akan ada beberapa kelompok masyarakat yang menentang demo simpati LSM AIDS. Karena salah satu materi demo simpatik mereka adalah pembagian kondom gratis. Ada beberapa kelompok masyarakat yang menilai, pembagian kondom hanya akan menumbuh suburkan seks bebas. Tetapi semuanya politis. Zakky menyadari hal itu. Pasti ada yang pro ada yang kontra. Bahkan sebelum menjelang tanggal 1 Desember, beberapa media massa telah banyak beropini menyalurkan aspirasi masyarakat.

Namun apa daya, malam hari setelah rapat demo, Zakky pingsan. Oleh teman-temannya dilarikan ke Rumah Sakit Cipto. Zakky sempat beberapa hari di Ruang ICU, dan akhirnya setelah melewati masa kritis sekarang dia berbaring di ruang rawat inap.

Menurut dokter, bagian ginjal Zakky infeksi berat, sehingga racun dalam darah menyebar sampai ke jantung. Zakky pasrah.

Adalagi yang mengganjal perasaannya. Gilang. Ya, sejak berkenalan dengan Gilang rupanya Zakky sangat simpati dengan Gilang. Zakky sangat tergila-gila dengan Gilang. Orangnya cerdas, ramah, penuh humor dan sepertinya penyayang. Beberapa kali mereka ketemu, akhirnya mereka memutuskan untuk menyewa satu kamar kost. Sejak itu Zakky dan Gilang hidup serumah.

Dengan berjalannya waktu, sifat Gilang berubah. Tepatnya ketika Zakky pulang dari Canada. Ada yang tidak beres dengan Gilang.

Gilang sering tidak tidur di kos-kosan.

***

Hari ini tepat seminggu Zakky berada di Rumah Sakit Cipto. Dokter belum memberikan sinyal kapan dia bisa pulang. Zakkypun tidak memaksakan diri. Dia tahu hasil laboratorium, penyakitnya semakin parah.

Zakky merasa bersyukur mempunyai banyak teman. Beberapa hari yang lalu teman-teman dari Yayasan AIDS Indonesia menjenguknya. Bahkan Ketua Umum Yayasan AIDS Indonesia, telah memberitahukan Zakky bahwa seluruh biaya perawatan selama dia di rumah sakit ditanggung oleh pihak Yayasan.

"Alhamdulillah, ya Allah terima kasih atas segala kebaikanMu. Engkau telah mempertemukan aku dengan orang-orang baik," syukur Zakky saat mengetahui kabar ini.

BERSAMBUNG…

CERBUNG : KEPUTUSAN HEBAT

GILANG masuk ke kamar kostnya dengan geram. Hari ini dia menahan amarah yang amat sangat. Dihempaskan tubuhnya di atas spring bad. Sambil memegang kedua kepalanya. Selanjutnya dia menangis terisak-isak. Entah apa yang sedang terjadi pada dirinya.

Beberapa saat kemudian, dia mengambil air wudhu dan pergi sholat. Malam ini dia banyak merenung, biasanya Gilang masing berkeliaran di pusat keramaian ibu kota setelah ia pulang kerja.

Gilang terlahir dari keluarga china. Ayahnya tauke kaya di kawasan sunter 35 tahun yang lalu, saat ibunya melahirkan Gilang, ayahnya meninggal. Ibu Gilang hanya seorang ibu rumah tangga biasa yang sangat tergantung kepada suaminya, ibu Gilang juga china. Setahun setelah kematian ayahnya, ibunya Gilang menikah lagi dengan seorang pria china miskin asal Medan.

Gilang seorang yang cerdas, dari sejak SD hingga SMA prestasi belajarnya sangat cemerlang. Gilang bersekolah di sekolah rakyat biasa, karena dia china, sering sekali dia diledek oleh teman-temannya. Dia sendiri juga heran, kenapa dia dipanggil china, oleh teman-teman SD-nya, rupanya Gilang belum memahami masalah ras saat itu. Harta peninggalan ayahnya, dihabiskan oleh ayah tirinya untuk bermain judi. Makanya Gilang hanya dapat bersekolah dengan anak-anak pribumi di sebuah kawasan kumuh di Tanjung Priuk.

Kelas 5 SD, dengan uang tabungannya Gilang memutuskan untuk di sunat, alias di khitan. Aneh sekali kedengarannya, seorang anak kecil, china lagi, datang ke dokter, untuk di sunat. Tanpa ditemani oleh orang tuanya Gilang nekad memotong ujung kemaluannya, Gilang benar-benar disunat. Rupanya, saat mandi di sebuah sungai dengan teman-temannya, dia sempat melihat kemaluan teman-temannya tidak seperti dia, dan hal ini yang membuat dia terinspirasi untuk menyamakan bentuk kemaluannya dengan teman-teman sepermainannya di sungai. Lucu sekali, pemikiran yang polos, hanya agar tidak berbeda.

Mengetahui anaknya di sunat, ci Kwan ibu Gilang marah besar, tetapi ibunya hanya menangisi kebodohan anaknya. Berbeda dengan ko Acian, ayah tiri Gilang, dihajarnya Gilang sampai anak itu menggigil dan demam berhari-hari.

Ibunya merasa perlu menenangkan anaknya, keesokan hari, ibunya membuatkan bubur ayam kesukaan Gilang. Diusapnya kepala Gilang sambil menciumnya berkali-kali, seolah-olah ingin meminta maaf atas kelakuan ayah tirinya yang membuat tubuh kecil Gilang meriang karena dihajar oleh ayah tirinya.

"Maafkan ibumu, achai," bisik ibunya sambil memeluk Gilang yang tekulai lemas di tempat tidur. Achai, nama china Gilang. Lee Kwan Chai nama lengkapnya di akte kelahiran. Namanya menjadi Gilang Komara, sejak si Achai kecil memutuskan masuk Islam ketika dia kelas 3 SMP.

***

"Gila, elo dapat hidayah dari mana Lang?" begitu aku menanggapi cerita masa kecilnya di sebuah resto McDonald’s di kawasan Senayan.

"Gak tahu mas, waktu gue memutuskan untuk disunat datang begitu aja, gitupun waktu gue mutusin untuk masuk Islam, datang begitu aja," jawabnya enteng sambil mengunyah beberapa potong french fries renyah McDonald’s.

"Tapi, untuk masuk Islam, mungkin karena lingkungan teman-teman gue Islam semua," katanya. Selain itu, keindahan kemundang adzan dan lantunan ayat-ayat suci Al Qur’an dari mesjid kecil seberang rumahnya membuat jiwanya tenang. Begitu tambahan singkat penjelasan Gilang.

Akunya terpekur sedikit. Sambil menyeruput soft drink, ice lemon tea yang aku pesan. Aneh. Tapi ini adalah hidayah Allah. Allah yang maha tahu, batinku.

"Oke…. sekarang, gue mau tanya, kenapa elo jadi gay?" Nada suaraku agak aku pelankan dan aku atur agar tidak terlalu menyinggungnya.

BERSAMBUNG….