Bamby Menulis

Tentang pikiran, rasa, pengalaman hidup dan imajinasi

Sebuah Tempat Bimbang

Cermin (Cerita Mini)

Apalagi alasan pembenaranku berada di tempat ini. Aku sendiri Alam_sutra_by_frcaturbs bimbang untuk mempertimbangkan ulang apakah tetap bertahan atau keluar.

“Kamu selalu tidak punya pendirian disaat kamu harus menentukan pilihan,” bisik batinku pelan, seperti hantu yang lewat begitu saja.

“Aku tidak mau terperosok, tapi aku juga tidak bisa membendung keinginan ini,” balasku pada batinku, seperti berteriak tanpa suara, kerongkonganku tercekat.

“Menangkan egomu, sekali ini saja!” batinku memohon kali ini hantu itu sudah berwujud. Sebuah keinginan.

“Harus ada pembenarannya aku ada di sini!” bentak aku kepada batinku untuk meyakinkan.

“Tidak perlu! Kamu hanya perlu keberanian untuk memulai,” aku bergumam sendiri lirih sekali.

Seorang wanita cantik dengan parfum menyengat menghampiriku, mempersilakan aku masuk ke dalam kamarnya, dengan genit dia berbisik dekat sekali di telingaku, “baru pertama kali ya  mas?”

Aku masih berdiri terpaku, memikirkan keinginanku melepas syahwat di tempat durjana ini. Sementara istriku di rumah sedang hamil tua, menantiku pulang. Suami Jahanam!***

PENULIS OBITUARI

Penulis

Penulis obituari, itulah pekerjaan ayahku. Pekerjaan yang membuatnya sangat terkenal di kota sekecil ini. Bagaimana ayah tidak terkenal, hampir setiap hari pasti ada orang mati. Nah, itulah yang membuatnya terkenal, kematian. 

Ayah adalah penulis lepas yang dipercayakan oleh redaksi koran lokal di kota ini untuk mengisi sekaligus memanfaatkan rubrik khusus obituari. Menulis obituari, adalah menulis berita tentang kematian seseorang berikut riwayat hidupnya. Itulah yang dilakukannya setiap hari. Awalnya, ayah sendiri yang mencari informasi tentang berita kematian seseorang, melakukan interview dengan keluarga untuk mendapatkan catatan riwayat hidup, pekerjaan terakhir, keluarga atau prestasi dari orang yang telah meninggal itu.

Namun dengan berkembangnya waktu, ayah semakin terkenal. Semula pekerjaan tersebut dilakukannya dengan  santai dan sambil lalu, sekarang tidak lagi. Dalam sehari ayah bisa melakukan interview dengan keluarga atau kerabat orang yang mati sampai tiga kali. Dulu dia mengetik berita kematian itu dengan mesin ketik manual, yang bisa membuat aku tidak bisa tidur karena mendengar suara ketak ketik yang ditimbulkan oleh mesin ketik. Sekarang sudah berubah, ayah menggunakan komputer. Pekerjaan ini sudah digelutinya dengan serius.

Aku sebagai anaknya menjadi ikut terkenal. Tapi aku tidak suka menjadi terkenal karena ayah. Di sekolah teman-temanku sering bertanya, dan pertanyaan itu yang aku anggap sebagai penghinaan buatku.

“Pras, hari ini siapa yang mati?” begitu pertanyaan teman-temanku setiap hari. Padahal mereka tidak perlu bertanya padaku. Tinggal baca Koran habis perkara siapa yang mati hari ini.

Suatu hari saat aku pulang sekolah, tiba-tiba aku ditonjok oleh seorang perempuan sebaya denganku. Anak perempuan itu begitu geram dan benci melihatku.

“Hai Pras! Bilang sama bapakmu, kalau buat berita yang benar, jangan bohongin orang!” teriak anak perempuan itu sambil berkacak pinggang. Kalau saja dia bukan perempuan, aku sudah tonjok balik.

Sambil memegang bibirku yang ngilu aku bertanya,”Memang ada apa dengan berita yang ditulis bapakku?”

“Bapakmu menulis berita bohong!” anak itu melemparkan aku sebuah Koran dan dia pergi berlalu.

***

Malam hari saat selesai makan malam, aku protes keras ke ayah. Koran yang dilempar oleh anak perempuan tadi aku sodorkan ke ayah.

“Yah, kenapa ayah menulis berita orang itu?” kataku sambil menunjukkan foto dibagian obituari.

“Oh, itu Pak Manaf, dia seorang pengusaha. Memangnya ada apa?” ayah memegang Koran itu sambil memperhatikan foto mendiang Pak Manaf dan ayah tersenyum.

“Kenapa ayah tersenyum? Ayah pasti menyembunyikan sesuatu,” kejarku. Ibu dan dua adikku hanya memperhatikan percakapan kami. Aku dan ayah memang terbiasa berdiskusi, soal apa saja. Tetapi kali ini aku sedang tidak berdiskusi dengannya.

“Pak Manaf itu pengusaha kaya. Sebenarnya ayah menulis almarhum karena permintaan keluarganya. Beliau itu masih bersaudara  dengan pak Bupati,” ayah menarik nafas, matanya masih tertuju ke foto Pak Manaf.

“Lalu?” tanyaku tak sabar.

“Pras, kadang-kadang ayah harus berbohong untuk menulis berita,” lanjut ayah.

“Selama ini ayah mengajarkan kami bahwa bohong itu dosa, kenapa justru ayah yang berbohong?” balasku sengit.

“Ayah mengerti, tetapi terkadang kebohongan ini ayah tujukan untuk membahagiakan keluarga yang ditinggalkan oleh orang yang meninggal. Contohnya Pak Manaf itu, dalam berita ayah tulis ia meninggalkan seorang istri dengan empat orang anak. Dan ayah menyembunyikan tiga  istrinya dan anak-anaknya yang lain.”

Terjawab sudah pertanyaanku. Wajar aku ditonjok oleh anak perempuan itu, pasti dia salah satu anak dari istri-istri Pak Manaf yang tidak disebutkan ayah di Koran. Karena aku anak penulis obituari, maka aku yang kena getahnya. Hal seperti ini yang aku tidak suka atas ketenaran ayah.

Dalam menulis obitiari ayah tidak memilih-milih orang, siapa saja ayah akan tulis, mulai dari hanya seorang tukang becak yang meninggal di atas becaknya, seorang pegawai negeri dengan jabatan paling rendah, sampai keluarga dan kerabat pengusaha atau pejabat kota, seperti Pak Manaf pengusaha yang masih kerabatnya Pak Bupati. Itulah maka ayah menjadi sangat tekenal, orang-orang memanggilnya dengan sebutan Pak Jurnalis.

***

Akhir-akhir ini aku melihat ayah lebih banyak di rumah. Paling sesekali beliau pergi ke warung depan rumah untuk beli rokok. Ada perubahan diraut wajah ayah. Wajahnya tampak sering muram. Mungkin ibu juga tahu perubahan ayah, tetapi ibuku lebih banyak diam tidak bertanya.

Sambil bercanda disuatu sore aku bertanya kepada ayah.

“Yah, kok ayah sering tampak murung dan lebih banyak di rumah? Sudah tidak ada orang meninggal ya,” candaku.

“Orang mati itu setiap hari Pras. Selama rubrik obituari muncul di Koran sama artinya setiap hari ada yang orang mati,” jawab ayah singkat.

“Tidak seperti biasa saja, ayah banyak diam,” lanjutku penasaran ingin mengetahui keadaan ayahku saat ini.

Ayah kemudian akhirnya bercerita. Bahwa beliau kalau bertemu dengan orang, orang tersebut pasti menghindar. Padahal kata ayah, ayah hanya ingin bertegur sapa saja ketika mereka bertemu di jalan. Masih kata ayah, telah beredar kabar orang yang bertemu dengan ayah keesokan harinya meninggal. Aku sangat tidak paham.

Rupanya orang-orang tidak mau bertemu dan bertegur sapa dengan ayah karena takut akan terjadi sesuatu yang mereka tidak harapkan, yaitu kematian. Saking seringnya ayah mewawancarai keluarga orang yang meninggal, orang-orang jadi sangat percaya bahwa ayah bisa mengetahui nasib orang tersebut.

Makanya ayah sering di rumah, dari pada kehadiran ayah di masyarakat mengganggu ayah sekarang sudah jarang menghadiri pertemuan-pertemuan desa atau kota. Agar orang merasa nyaman. Itu alasan ayah mengakhiri pembicaraan denganku sore itu.

Aneh sekali, kenapa orang menganggap ayahku seperti cenayang? Memangnya karena ayah sering bercerita tentang seseorang yang  telah mati terus dia akan tahu hari kematian seseorang? Aku tidak habis pikir.

***

Penulis_nangis

Hari ini, tidak ada tulisan obituari di Koran lokal kota ini. Semua warga kota kecil ini bertanya-tanya apakah sudah tidak ada yang mati?

Halaman rumahku saat ini penuh dengan orang-orang, semuanya kerabat ayah, mulai dari tukang sampah, pemilik warung rokok , camat dan bupati. Mereka semua berwajah sedih sepertiku.

Pagi ini aku, Ibu dan kedua adikku sedang menangis di depan jenazah ayah. Tadi malam menjelang subuh ayah meninggal dunia, pagi ini tidak ada yang menulis obituari untuknya.

Terngiang di kupingku. “Pras! Hari ini siapa yang mati?”

“Ayahku,” jawabku berlinang.

Tidak ada lagi yang menulis obituari di koran kota, aku berharap suatu hari nanti aku akan menulis obituari untuk ayah.***

Cerpen ini terinspirasi dari sebuah Cerpen dengan judul NISTAGMUS karya Danarto yang dimuat dalam Buku Kumpulan Cerpen KOMPAS Pilihan tahun 2005-2006

The KITE RUNNER sebuah Inspirasi

Kite_runner_1 Membaca novel dan menonton film The Kite Runner sama asyiknya. Mungkin karena penggarapan filmnya dilakukan oleh Hollywood, dengan setting alam Afghanistan  atau juga aku membaca novelnya setelah menonton filmnya. Padahal ada pemeo yang sangat populer di Amerika, cepat baca novelnya sebelum Hollywood merusaknya.

The Kite Runner, adalah sebuah novel karya Khaled Hosseini, yang kemudian mendapat penghargaan dari UNHCR berupa Humanitarian Award  2006. Novel yang diterjemahkan ke dalam 42 bahasa dan lebih dari 2 tahun bertengger di daftar New York Times Bestseller.

The Kite runner adalah sebuah kisah penuh kekuatan tentang persaudaraan, kasih sayang, pengkhianatan dan penderitaan. Khaled Hosseini dengan brilian menghadirkan sisi-sisi lain Afghanistan, negeri indah yang hingga kini masih menyimpan duka. Di tengah belantara puing di kota Kabul, akankah Amir (sang tokoh utama) menemukan kebahagiaan yang kelak menyapu kesedihannya karena telah mengkhianati Hassan, satu-satunya sahabatnya, saudaranya.

Dalam Bab Empat novel ini, ada bagian yang sangat menyentuh buatku. Yaitu dimana proses kreatif Amir menjadi seorang penulis hebat terjadi.

***

Ini cukilan ceritanya:

Suatu hari di bulan Juli 1973, aku kembali membuat gurauan kecil untuk mempermainkan Hassan. Aku sedang membaca untuknya, dan tiba-tiba aku memtuskan untuk berhenti membacakan kisah yang tertulis di buku. Aku berpura-pura tetap membaca, tetap membalik halaman buku, tapi aku tidak membaca tulisan dalam buku itu, aku mengambil alih cerita itu dan menceritakan kisah karanganku sendiri.

Hassan tentu saja tidak menyadarinya. Baginya, kata-kata yang tertulis di halaman buku hanyalah serangkaian kode acak, tidak terpecahkan, misterius. Kata-kata adalah pintu rahasia dan akulah pemegang kuncinya. Sesudahnya, aku menanyakan pendapatnya tentang cerita itu. Seketika aku ingin tergelak ketika Hassan mulai bertepuk tangan.

“Apa yang kau lakukan?” tanyaku.Kite_runner_amir_hasan

“ Itu adalah kisah terbaik yang pernah kau bacakan untukku selama ini,” katanya, masih bertepuk tangan.

Aku tertawa. “Benarkah?”

“Benar.”

“Ini benar-benar memukau,” aku menggumam. Aku benar-benar tak percaya. Ini… sungguh tak terduga. “Kau yakin, Hassan?”

Hassan masih bertepuk tangan. “Kisah yang hebat, Amir agha .Maukah kau membacakannya untukku lagi besok?”

“Sungguh memukau,” ulangku, napasku sedikit berat, aku merasakan bagaikan seorang yang baru menemukan harta karun terpendam di halaman rumahnya. Saat berjalan menuruni bukit, berbagai ide meledak-ledak di kepalaku seperti pesta kembang api di Chaman.

***

Itu adalah sepenggal kisah novel Khaled Hosseini, sebuah kisah inspiratif seorang anak bernama Amir, yang kemudian menjadi penulis hebat dalam cerita novel itu.

Bahkan The New York Times, mengatakan bahwa, “Hosseini dengan brilian menggambarkan keadaan Afghanistan prarevolusi yang hangat dan nyaman, namun telah diwarnai oleh gesekan antar-kelompok etnis…. Novel ini menyajikan detail-detail yang akan senantiasa menyentuh sanubari anda.”***

Cerita : DI ATAS DUNIA

Prolog

Aku menendang Aktor_japan_ken
tubuh yang tergolek di tanah becek ini, aku pastikan tubuh itu tidak bergerak lagi, tidak bernyawa lagi. Dan memang darah segar mengucur deras dari batok kepala Sinichi Nakamura.

Sebuah peluru yang tadi kumuntahkan dari pistol, benar-benar telah membuat Sinichi keparat itu tidak bernyawa. Aku mencium ujung moncong pistol, masih panas, bau mesiu sisa tembakan tadi membuat seluruh tubuhku terpanggang gairah.

Sekali lagi aku tendang tubuh Sinichi Nakamura. Aku sedikit merapikan posisi krah jaketku, selesai tugas pemburuanku untuk saat ini.

***

Pagi ini, musim semi di kota Tokyo, aku buru-buru masuk kesebuah taxi yang telah menunggu di depan apartemenku. Tujuanku bandara Narita.

Perkenalkan namaku, Takeshi Watanabe, biasanya orang-orang memanggilku dengan Abe, itupun kalau mereka sudah sangat akrab denganku. Aku, juga memiliki beberapa nama lain, nanti akan aku ceritakan kenapa aku memiliki nama lain.

Aku mempunyai seorang istri dan dua orang anak, tapi itu dulu. Sudah lama sekali. Aku sendiri sudah lama melupakan mereka.

Taxi sudah melewati kawasan Ginza City, distrik paling terkenal di Tokyo, juga di seluruh dunia, kalau New York memiliki Time Square, maka Tokyo punya Ginza. Udara musim semi membuat seluruh jalanan penuh dengan orang-orang berjalan kaki, semuanya tertib.

Aku melirik jam tangan, dua jam lagi aku akan terbang ke Vietnam.

***

KENANGAN MUSIM SEMI DI ASAKUSA

Tokyo. Musim semi. Aku masih duduk di jok taxi yang akan membawaku ke Bandara Narita. Tujuanku Vietnam, ada pekerjaan yang harus aku lakukan di sana.

Badanku masih sedikit lebam, dan bibirku ada sisa darah kering. Pertempuranku semalam dengan Sinichi Nakamura menyisakan kepenatan yang cukup menyiksa. Tapi hatiku sangat tentram, jahanam itu sudah mati dengan kepala berlubang peluru. Aku tersenyum kecut.

Taxi terus melaju membelah jalanan kota Tokyo, memasuki kawasan tua Asakusa Tample. Perjalananku tersendat. Banyaknya pejalan kaki menghambat laju taxi. Sopir sesekali mebunyikan klakson. Orang-orang seperti berebutan untuk masuk kuil tertua di Jepang. Di kuil besar ini, dulu setiap hari minggu aku menghabiskan waktuku bersama Kiyoko istriku, Naomi anak pertamaku perempuan dan Hiro anak keduaku laki-laki.

***

Asakusa_kuil_jepang_1

Pikiranku menerawang di tengah kemacetan.

“Papa, Naomi ingin berdoa agar papa selalu sayang sama Naomi dan Hiro,” ujar Naomi ketika kami memasuki kuil ini melalui sebuah pintu besar. Pintu besar itu bernama Kaminarimon, menjadi pintu utama untuk masuk ke dalam komplek Asakusa Kannon Temple.

Aku tersenyum, memandang Naomi, istriku juga tersenyum. Cantik sekali, Kiyoko memakai Yukata, baju tradisional yang menurutku sudah ketinggalan jaman. Tetapi tidak buat Kiyoko, dia sangat menyukai hal-hal yang berbau tradisional. Termasuk mamakai kimono saat di rumah.

“Mamamu tidak kamu do’akan juga sayang, masak papa saja?” balas istriku sambil mengusap rambut Naomi. 

“Hi hi, mama itu suka iri kalau aku hanya berdoa untuk papa saja, iya deh mama pasti Naomi do’akan juga,” jawab Naomi dengan jenaka. Kami tertawa bersama. Hiro yang belum bisa bicara ikut-ikutan tertawa, dia merasakan aura kebahagiaan.

Keluarga. Aku tertegun, taxi belum bergerak juga. Pikiranku kembali melayang ke masa lalu bukan masa yang sedang aku jalani saat ini.

Aku, Kioko dan Naomi sudah berada di dalam kuil, banyak sekali orang, Kiyoko mengangkat Hiro dalam gendongan. Kami langsung menuju altar do’a, dupa kami nyalakan dan do’a kami panjatkan. Suasana begitu tenang. Naomi sangat serius, kedua matanya dipejamkan, mulutnya berkomat-kamit. Lucu sekali mimiknya.

Kami menuju kesebuah sumur, airnya menurut para lelehur berkhasiat. Entah apa khasiatnya, aku meminumnya hanya mengikuti tradisi saja. Hiro sangat senang, dia lebih senang di sumur, di altar terlalu banyak asap dupa.

“Pa, kita mau ke Sensoji Temple?” Tanya istriku. Aku memandang sebuah bangunan besar yang juga berada di area Asakusa Kannon Temple tidak jauh dari sumur. Aku mengangguk.

Dua jam tidak terasa, kami mengelilingi seluruh areal kuil. Semakin siang semakin banyak orang yang datang. Beberapa rombongan turis asing juga melakukan hal yang sama dengan warga lokal, membakar dupa dan meminum air dari sumur berkhasiat. Pemandangan yang sangat lucu. Apakah Tuhan kami akan mengabulkan do’a dan permohonan mereka juga. Aku kembali tersenyum sendiri.

“Sekarang kita cari makan dulu, mau makan dimana?” tanyaku memandang Naomi dan Kiyoko. “Terserah papa deh,” kata Kiyoko, Naomi langsung menyebutkan sebuah nama restoran.

Kami bergandengan tangan meninggalkan kuil, menuju parkiran mobil melalui pintu keluar. Sebuah pintu yang bernama Hozomon.

Kebersamaan dan kehangatan dalam lamunanku buyar. Taxi melaju kencang. Brengsek! Kenapa aku hanyut dalam kenangan melankolis seperti ini! Makiku. Takeshi Watanabe dengan seorang istri cantik dan dua anak sudah lama mati. Aku Abe, manusia tanpa hati.

***

Sebentar lagi taxi memasuki Narita, bandara yang terletak di sebuah wilayah di sebelah timur kota Tokyo. Taxi melewati Hotel Nikko, aku sudah berada di jalan Chiba. 10 menit lagi aku akan sampai di Bandara.

Perjalanku dengan Japan_police
taxi rupanya tidak semulus yang aku harapkan. Di depan pintu masuk Bandara Narita, terjadi antrian panjang mobil yang hendak masuk. Polisi terlihat memeriksa kendaraan satu per satu, seorang petugas memeriksa bagian bagasi mobil dan seorang lagi meminta identitas seluruh penumpang mobil.

Naluriku mulai berkata, situasi tidak baik untukku. Aku cepat-cepat keluar dari Taxi. Sopir taxi tidak senang dan curiga dengan tindakanku.***

Bersambung…

Cerita: CELANA DALAM SUAMIKU

Istri_dan_suami Akhir-akhir ini aku melihat suamiku sangat aneh. Aneh dalam pengertian tingkah laku dan gelagatnya. Setahun menikah dengannya baru kali ini aku melihat keanehan pada dirinya.

Suamiku sekarang menjadi lebih lama kalau berada di dalam kamar mandi. Terkadang setelah aku gedor pintu kamar mandi, barulah dia buru-buru membuka pintu dengan rambut yang masih basah sambil menghanduki tubuhnya.

"Kok lama banget sih mas?" tanyaku kesal sambil masuk ke kamar mandi. Dia tidak menjawab, aku kemudian mengunci kamar mandi.

Itu keanehannya yang pertama untukku. Mandi lama. Keanehan yang lain, saat kami berdua menunaikan kegiatan suami istri. Dia selalu memberikan aku pakaian dalam model lingerie, setelah itu kami bercinta. Dia selalu puas, akupun demikian. Tapi setelah itu aku tidak menemukan lagi lingerie yang dia suruh pakai.

"Mas, kemana lingerie yang kamu berikan ke aku?" tanyaku penasaran, karena sudah beberapa hari ini aku tidak melihat dalam lemari pakaian kami.

"Lho, bukannya kamu yang nyimpan," jawabnya singkat. "Mungkin terselip saat mba Pur selesai mencucinya," dia menegaskan sambil wajahnya dipalingkan ke arah belakang rumah kami, Mba Pur adalah pembantu kami yang datang pagi pulang sore untuk mengerjakan pekerjaan rumah memasak, mencuci dan bersih-bersih rumah.

Aku sendiri untuk urusan pekerjaan rumah tidak terlalu ambil pusing, pekerjaanku di kantor terkadang sudah membuatku pusing dan terbawa ke rumah.

Itu keanehan kedua, memberiku lingerie saat bercinta. Keanehan yang lain, saat kami berjalan di mall, dia suka sekali ke counter pakaian dalam wanita. Jangan-jangan dia punya selingkuhan? Dia akan memberikan wanita selingkuhan dia pakaian dalam, tentu semua wanita akan senang menerima pakaian dalam dari seorang laki-laki seganteng suamiku. Aku mulai curiga.

***

Terus terang kecurigaan cukup beralasan, dari aku kenal dia, suamiku adalah tipe laki-laki romantis. Teman-temannya kebanyakan wanita. Aku  mulai dibakar cemburu.

“Coba, kamu tanya baik-baik kenapa ada perubahan sikap dengan dirinya,” begitu nasehat seorang sahabat. Tapi aku malah makin yakin suamiku selinggkuh. Awas kalau dia selingkuh aku hajar dia, batinku geram.

Pada akhirnya, suatu sore di hari Minggu. Suamiku hanya memakai celana pendek sambil membaca Koran sore di ruang tamu sambil minum secangkir kopi buatanku. Tiba-tiba, entah kenapa cangkir kopi jatuh dari genggamannya. Suamiku langsung membungkuk untuk mengambil cangkir kopi yang jatuh di atas karpet.

Aku terkesiap, pinggul bagian belakang suamiku terlihat karena dia hanya memakai kaos oblong. Aku kaget setengah mati, aku melihat celana dalam suamiku berwarna pink dan berenda.

Aku berteriak. "Mas, kamu…..?"Wanita_bersedih

Rupanya dia sadar dan berkata,"aku memang suka memakai celana dalam wanita." Datar sekali  suaranya dan penuh penyesalan. Aku hanya mengusap kepalanya. Aku tetap sayang kamu mas, batinku sedih.***

P.S: Cerita ini pernah di posting di sebuah situs komunitas penulis dengan nama samaran

CERITA LEWAT E-MAIL

Kamu menangis sampai seluruh wajahmu memerah. Sambil meremas kertas-kertas yang berserakan di meja kerjamu, kamu umbar kesedihanmu lewat tangisan.

Kamu menangis, mengunci dirimu di dalam ruang kerjamu yang mewah dan harum bunga lavender kesukaanmu. Agar anak buahmu tidak tahu kalau kamu sedang menangis, hanya karena seorang anak kecil yang menemuimu.

Semua berawal saat sebuah proyek besar di kantormu yang dipercayakan kepadamu.

“Maria, saya mempercayakan proyek besar ini kepada kamu,” begitu hasil keputusan rapat yang langsung dipimpin oleh pemilik perusahaan tempat kamu bekerja. Pak Gondo, Sugondo Nitimiharjo, nama lengkap bossmu.

Kamu seorang yang terlalu sempurna. Orang selalu melihat kamu sempurna, karena memang hasil pekerjaanmu sempurna nyaris tidak ada cacat. Kamu juga secara fisik sempurna, cantik, tinggi, berbadan seksi dan selalu harum.

“Oke, saya sanggup mengerjakan proyek ini,” jawabmu penuh optimis. Jawabanmu mendapat sambutan dengan tepuk tangan seluruh peserta rapat. Seperti biasa Pak Gondo mangut-mangut, beliau seperti melihat anaknya sedang meraih kesuksesan.

Setelah itu, kamu mulai menyusun rencana untuk mengerjakan proyek besar ini. Pembangunan sebuah Apartement mewah di sebuah kawasan di bilangan Jakarta Selatan.Semuanya berjalan lancar di awal, sampai kemudian.

“Bu Maria, ada yang ingin bertemu dengan ibu,” Sekretarismu menelponmu. “Siapa?”katamu sambil tetap melihat gambar rancang bangun proyekmu.

“Seorang anak kecil bu,” jawab sekretarismu. Kamu tentu saja kaget, kenapa ada anak kecil ingin bertemu denganmu.

“Suruh dia masuk!” kamu meletakkan gagang telephone pada tempatnya.

Sesaat kemudian di depanmu telah berdiri seorang anak kecil perempuan, umurnya kira-kira enam tahun. Rambutnya sebahu dan hanya memakai sandal jepit. Kucel banget anak ini, batinmu. Kamu lalu mempersilakan dia duduk.

“Ade, mau ketemu dengan saya, ada apa?” tanyamu masih menyimpan keheranan.

“Nama saya Fiona bu,” kata anak itu dan tidak menjawab pertanyaanmu.

Kamu agak tidak sabaran. “Iya, ada apa kamu ke kantor ini,” kamu ganti pertanyaanmu.

Tanpa diminta Fiona, mulai bercerita tentang kedatangan dia menemuimu. Cerita Fiona rupanya menarik perhatianmu, wajahmu serius mendengarkannya. Sampai pada akhir cerita kamu tercekat, tiba-tiba kamu sangat merasa bersalah. Sesuatu yang jarang kamu lakukan, merasa bersalah.

Kamu mulai merasa bersalah. Ketika Fiano pamitpun, kamu masih tertegun gelisah. Beberapa saat kemudian meledaklah tangis kesedihanmu, rasa pilu dan bersalah berbaur menjadi satu kesatuan emosi yang merontokkan kesempurnaanmu.

Terngiang di telingamu kata-kata Fiona. “Hanya kuburan itu peninggalan kedua orang tuaku, hanya kuburan itu kenangan tentang ayah dan ibuku dan hanya kuburan itu tempat yang aku datangi tiap hari, jangan gusur tanah itu bu!” pinta Fiona memelas.

Kamu terus menangis. Karena apapun resikonya, proyek apartement ini harus terealisir sesuai dengan jadwal, itu sudah menjadi komitmen dengan seluruh team.

Walaupun kertas gambar rancang bangunnya sudah kamu remas dan sobek. Kalau sudah begini kamu kehilangan pegangan, tidak ada orang yang bisa kamu ajak diskusi karena kamu adalah si sempurna.

***

Di tengah jadwal ketat penyusunan target penjualan tahun 2008, saya mengirim cerita ini melalui e-mail kepada seorang teman, sekaligus mantan atasanku saat bertugas di department lain. Saya merasa bersyukur, setelah temanku membaca e-mail cerita tadi, dia tidak marah.

Dia menanggapinya dengan tersenyum ketika menelphoneku, dan berkata, “terima

kasih ya ceritanya bagus,” katanya sambil melanjutkan, “sindiran yang mengena, tapi

kayaknya aku gak segitu amat deh!” katanya tersenyum.

Kemudian kamipun larut dengan diskusi-diskusi tentang target penjualan perusahaan.***

NB : Cerita ini pernah di posting disebuah website komunitas penulis dengan nama samaranku.

PLAY GROUP TERPAKSA BUBAR

“Ayo dong nyanyi,” pinta seorang anak kecil gendut yang sedang berdiri persis di depanku. Anak itu memintaku bernyanyi sambil menggoyang-goyang tanganku.

Spontan tanganku menipis tangannya, tentunya dengan lembut. Karena aku melihat anak-anak kecil lainnya sudah tidak sabar juga untuk meminta.

“Jangan nyanyi, mending joget aja!” teriak anak kecil lainnya, sambil menahan tawa. Geli sekali melihatnya, aku hampir tertawa lepas melihat anak itu menahan tawa, mimiknya menjadi lucu.

Akhirnya aku menengahi, aku bernyanyi sambil berjoget. Aku sendiri tidak tahu aku sudah menyanyikan berapa lagu, mungkin banyak lagu dangdutnya, karena aku juga sibuk berjoget menyenangkan anak-anak kecil yang sedang mengelilingiku.

Capek juga. Aku berhenti bernyanyi dan diam sejenak. Anak-anak juga mendadak diam, lalu aku tersenyum ke arah anak-anak itu.

“Lagi dong, lagi dong nyanyinya,” pinta anak perempuan dengan kucir dua. Temannya yang lain menimpali. “Iya, lagi dong!” Sejurus kemudian menggema suara-suara anak-anak itu. Lagi, lagi, lagi, lagi, lagi sorai mereka kegirangan. Aku salah tingkah.

Aku tersenyum lagi menatap anak itu. Anak berkucir dua itu tersenyum dan kemudian tertawa melihatku.

Merasa tidak tega kemudian aku beryanyi lagi untuk menghibur sekitar 10 orang anak-anak kampung yang sedang mengerubungiku membuat lingkaran. Tentu aku sambil berjoget. Kali ini gerakan break dance, tadi aku berjoget dengan gaya tari India. Senangnya, tapi capeknya minta ampun.

Tiba-tiba dari arah belakang, seseorang berteriak keras. Itu suara ayahku.

“Sudah-sudah… bubar-bubaaar. Bubar!” teriak ayahku mengagetkan aku.

Sontak anak-anak kecil itu berlarian ketakutan. Hanya dalam hitungan detik batang hidung mereka lenyap.

Aku sekarang sendirian, ayah kemudian memegang tanganku dengan kasar dan menarik aku berjalan cepat melewati jalanan kampung. Aku menangis meraung-raung. Aku sedih, karena sebagai guru play group kelasku dibubarkan begitu saja oleh ayah.

Sambil mengikuti ayah. Aku sempat mendengar seorang ibu berbincang dengan ibu lainnnya. “kasihan ya si Atun, makin hari makin gila saja.”

Orang_gila_1  “Padahal Atun tadinya anak yang baik, cantik lagi. Sekarang dia menjadi gila,” lanjut seorang ibu sambil memandangku iba.

Aku memandang ibu-ibu itu sambil menjulurkan lidah. “Weeeek!” Aku melanjutkan tangisku***

UNDER “PRESSURE” WEAR

Bamby terdiam di depan sebuah toko. Wajahnya pucat, keragu-raguan menyelimuti perasaannya. Kenapa aku harus berada di sini, batinnya sambil tetap terpaku di depan toko.

Langkah kakinya mengajak untuk menjauhi toko, tetapi dengan berat dibatalkan niat itu. Bamby kembali seperti orang bingung di depan toko. Hatinya bergemuruh, aku harus nekad. “Aku harus masuk ke dalam toko itu, masa bodoh apa yang terjadi nanti!” bentak batinnya.

Bamby mantap melangkah masuk ke dalam toko, dia melihat sang pramuniaga sudah tersenyum ramah menyambutnya. Tiba-tiba keringat Bamby menetes deras, tubuhnya panas dingin. Badannya berbalik dan keluar dari toko. Nafasnya tersenggal.

Untuk menenangkan diri, Bamby duduk tertunduk disebuah bangku taman agak jauh dari toko. Batinnya kembali bergolak, kali ini suara hatinya berontak.

“Ayo Bam! apa kamu tidak kasihan dengan istrimu yang sedang terbaring di rumah sakit?” Bamby masih terdiam, kemudian dia teringat Kinar istrinya.

Kinar sudah dua hari ini dirawat disebuah rumah sakit. Penyakit lamanya kambuh, dari dulu Kinar mengindap gangguan liver. Kinar anfal saat mereka berdua berada di kota ini. Beberapa hari yang lalu Bamby dan Kinar datang ke kota ini untuk menemui seorang kerabat. Tetapi setelah sehari semalam mereka mencari alamat kerebat tersebut, hasilnya nihil. Alamat tidak ditemukan.

Akhirnya mereka memutuskan untuk menginap disebuah hotel Melati dekat alun-alun kota. Mungkin kecapaian, istri Bamby pingsan. Bamby panik, oleh petugas hotel Kinar dilarikan ke rumah sakit kota.

“Kin, kita tidak akan lama di kota itu, jadi kamu jangan terlalu banyak membawa pakaian, secukupnya saja,” pesan Bamby saat mereka berkemas untuk berangkat.

“Baik Mas,” kata Kinar, sambil memasukkan  dua pasang pakaian ke dalam ransel. Bamby telah lebih dahulu memasukkan pakaiannya ke dalam ransel besar itu.

***

Bamby menghela nafas panjang. Bayangan Kinar istri tercinta, silih berganti dengan bayangan pramuniaga toko tadi. Kali ini hatinya mulai mantap.

“Apapun akan kulakukan untuk istriku yang sedang sakit!” batin Bamby bergelora.

“Tapi, apa aku bisa?” kembali batinnya melemah. Membayangkan toko tadi, wajahnya kembali pucat pasi, keringatnya menetes dan jantungnya berdegup kencang.

Aku harus masuk ke toko itu! Harus, harus! Bamby mengepalkan kedua tangannya untuk mengumpulkan keberanian.

Bamby berdiri, wajahnya masih pucat, tangannya bergetar. Tapi dengan mantap langkah kakinya menuju ke toko itu lagi. Harga diriku menjadi taruhannya saat ini, apalah arti harga diriku, dibanding kecintaanku kepada istriku Kinar.

Pintu toko hanya tinggal beberapa jengkal, Bamby makin mantap. Pramuniaga menyapa dia dengan senyuman ramah.

“Selamat siang pak, ada yang bisa saya bantu?” sapa pramuniaga toko dengan ramah.

Bamby tergagap, dengan wajah manis pula dan mengatur nafas yang terengah-engah karena jantung berdegup kencang, terbata-bata Bamby berkata, “Mbak, saya mau beli celana dalam perempuan  tiga buah dan sebuah beha ukuran 36 A.”

Bamby serasa melayang. Malu rasanya, baru kali ini dia masuk toko pakaian dalam wanita. Tetapi istrinya lebih penting ketimbang harga Underwear_bra_565 dirinya, sudah dua hari Kinar tidak mengganti pakaian dalamnya.***

CERITA: KISAH BRAM DAN IRMA

BRAMANTO SETIAWAN

Suasana di kantor beberapa hari terakhir ini semakin tidak kondusif. Pagi ini saja beberapa meja divisi Purchasing sudah ditinggal oleh orang-orangnya, kabar yang beredar beberapa stafnya sudah dirumahkan.

Aku tidak langsung ke meja kerjaku, setelah menyapa beberapa rekan dari divisi Akunting aku menuju pantry, untuk membuat segelas kopi. Walaupun kantor ini memiliki office boy, aku lebih suka membuat kopi sendiri. Pernah aku menyuruh pak Andi office boy paling senior untuk membuatkan aku kopi, tapi tidak pernah cocok dilidahku. Terlalu manislah, kepahitanlah pokoknya tidak seenak kalau aku buat sendiri.

“Bu, gulanya udah mau habis nich,” kataku kepada Ibu Mur, Ibu Mur sebenarnya bukan karyawan kantor ini, semula dia pedagang makanan pinggir jalan, karena makanannya terkenal enak di kawasan perkantoran kami di Sudirman, akhirnya Bu Mur disuruh berjualan oleh Presiden Direktur perusahaan kami di ruang pantry kantor ini.

Mungkin gengsi juga Presiden Direktur harus berbasah-basah keringat untuk makan masakan Bu Mur dipinggir jalan, makan dipinggir jalan terkenal dikalangan karyawan kawasan Sudirman dengan istilah Café Amigos, kepanjangan dari  café Agak Minggir Got Sedikit. Makanya bu Mur dibajak oleh Pak Presdir.

“Iya den, nanti ibu suruh minta tolong pak Andi untuk membeli ke Supermarket di basement,” jawab bu Mur sambil terus mengulek sambel dadakan.

“Bu, bu… semua orang di kantor ini selalu dipanggil den, gak ada yang Raden di sini bu, mungkin Pak Presdir aja yang Raden,” sahutku bercanda. Bu Mur selalu memanggil aden atau den kepada seisi kantor, mau dia cewek atau cowok semua aden. Dan aku selalu mengulang perkataanku setiap dia memanggil aku den.

Segelas kopi telah selesai aku buat, aku cium dulu aromanya. Nikmat sekali. Tapi karena masih panas tidak langsung aku seruput. Aku melangkah keluar ruang pantry menuju meja kerjaku.

“Bram, kamu ke ruanganku!” tiba-tiba namaku dipanggil. Aku menoleh kearah suara panggilan, suara yang sangat akrab dikupingku. Suara Irma, Direktur Divisi Komunikasi dan Marketing. Bossku atasanku langsung di divisi ini.

“Sekarang atau nanti?” balasku.

“Sekarang!” tegasnya. “Bawa aja kopi kamu keruanganku,” lanjut Irma sambil masuk ke ruangannya.

Aku masuk ruangan Irma. Ruangan yang tertata rapih dan minimalis. Warna dindingnya ungu. Warna yang tegas menurutku.

Ketegasan Irma terpancar dari aura wajahnya yang cantik. Dia wanita yang hebat dalam pandanganku, walaupun dia tegas dan terkesan sombong, aku adalah laki-laki yang mengisi hari-harinya dengan kegairahan.

Dalam waktu singkat Irma telah menyalip posisiku. Buatku tidak masalah, Irmalah yang hebat. Dia sangat brilian, tetapi juga ada sisi rapuhnya.

Setelah kami berdua duduk Irma mulai berbicara. Pembicaraan langsung kepada kondisi perusahaan saat ini. Sebagai Manager Komunikasi di kantor ini aku langsung bisa menangkap isi pembicaraan Irma.

“Please Irma, apa tidak ada pilihan lain?” pintaku sedikit memohon. Irma menggeleng.

“Kamu disini direktur, masak suara kamu tidak di dengar?” aku melanjutkan omonganku yang sempat terpotong gelengan kepala Irma.

“Tidak ada Bram, kamu harus memilih!” suara Irma tegas. Kali ini mendadak suaranya begitu asing ditelingku.

***

IRMA WULANDARI

Malas sekali hari ini aku memulai kerja. Apalagi saat mobilku mulai mendekati gedung Wisma BNI 46, gedung tertinggi di Jakarta tempatku bekerja. Mendadak perutku mulas ketika memasuki lift menuju lantai 25.

Di dalam lift, pikiranku kembali berkecamuk. Hari ini buatku hari yang paling membuat suasana hatiku tidak nyaman.

“Selamat pagi bu Irma,” lamunanku buyar. Seorang lelaki separoh baya menyapaku saat dia memasuki pintu lift dari lantai 9.

“Eh, pak Andi, dari mana kok dari lantai 9?” tergagap aku menjawab salam pak Andi. Tapi aku berusaha untuk tenang, dan tentu tetap terlihat berwibawa.

“Saya habis mengantarkan surat bu,” jawab pak Andi. Rupanya dia mengantarkan surat kepada salah satu kantor mitra bisnis kami di lantai 9 gedung ini. Aku hanya mengangguk. Kesannya aku sombong.

Entah kenapa aku selalu bersikap begitu, aku selalu ingin terlihat sempurna dimata semua orang termasuk dikalangan office boy.

Lantai 25. Pintu lift terbuka, hanya aku dan pak Andi saja yang keluar dari lift. Pak Andi pamit menuju ruang foto copy.

Pandangan mataku langsung tertuju ke meja divisi Komunikasi. Kemana Bram, batinku. Mungkin dia belum datang, aku melirik jam tangan, baru jam 08.10 jam kantor masih 50 menit lagi. Biasanya Bram jam 08.00 sudah ada di mejanya. Kemana dia, tanyaku dalam hati.

Dengan suasana hati yang masih berkecamuk aku masuk ke ruanganku. Rasanya agak sedikit lebih nyaman saat aku masuk ruangan ini, ruangan yang aku tata sesuai dengan seleraku.

Aku bersandar di sofa, sambil memejamkan mata. Terbayang saat awal aku berkantor disini. Karirku cukup baik, awalnya aku asisten manager divisi Marketing, saat itu aku kenal Bram sebagai Manager Komunikasi.

Bram, pria matang yang pernah mewarnai hari-hariku. Setelah kurang lebih dua bulan bekerja, rupanya Bram menarik perhatianku. Padahal sebagai wanita yang dibesarkan dilingkungan pendidikan tinggi, aku dengan mudah masuk dalam buain kata-kata manis Bram.

Dan dengan Bram, aku merasakan kegairahan yang tiada dua. Aku dibuatnya melayang, benar-benar jatuh cinta aku padanya. Sampai akhirnya aku pasrahkan kegadisanku pada Bram.

Dari segi pekerjaan karirku menanjak, hanya dalam setahun aku menjadi Manager divisi Marketing. Kemudian dengan cepat aku menjadi direktur Marketing dan Komunikasi.

“Kamu memang wanita yang hebat,” begitu kata Bram saat aku dipromosikan menjadi Manager Marketing. Aku hanya tersenyum.

“Kenapa, kamu iri ya?” kataku sembari tiduran dipelukannya.

“Aku bangga dengan karirmu,” itu saja komentarnya. Setelah itu kegairahan merasuk sukmaku dan Bram. Aku merayakan promosi jabatanku dengan bercumbu dan bercinta dengan Bram.

Aku terjaga. Kulirik lagi arloji, Bram sudah datang belum ya? Setelah merapikan make up dan pakaianku aku keluar ruangan.

Aku lihat Bram keluar dari pantry dengan memegang segelas kopi panas. Dengan nada suara yang aku atur agar tidak terlihat sedang gundah aku memanggil Bram.

Aku harus menyampaikan keputusan meeting Direktur kepada Bram saat ini juga.

Bram masuk ke ruanganku, sambil memegang gelas kopi. Sebenarnya ingin sekali aku memintanya, aku sangat tahu kopi buatan Bram pasti enak. Tapi tidak kulakukan, hari ini aku harus bersikap resmi.

Aku membuka pembicaraan dengan Bram dengan menderitakan keadaan perusahaan saat ini. Dan Bram sangat mahfum.

“Bram, aku hanya ingin menyampaikan keputusan tim direksi bahwa kamu dipindahkan ke Cabang Medan atau kamu harus mengundurkan diri,” kataku lirih, suaraku tercekat.

Suasana seketika itu menjadi hening. Sesaat kemudian Bram memohon. Aku menggeleng.***

TAMENG UNTUK AYAH

AYAH seorang tukang jahit. Beliau sangat bersahaja. Kesehariannya selalu dihabiskan di sebuah kios kecil tepat di depan pintu rumah. Apabila order lagi sepi ayah mencari order keliling, sehingga ayah dikenal juga sebagai tukang jahit keliling oleh warga setempat.

Rumah kami berada di Kampung Zaitun. Rumah yang sebagian besar dindingnya tanpa plesteran semen ini lebih mirip sebuah kotak pembungkus televisi besar. Hanya ada sebuah pintu masuk, satu buah jendela tepat disamping pintu dan dua buah lagi jendela kamar. Tidak ada pintu belakang, karena tepat di belakang rumah kami berdiri juga rumah-rumah warga lain yang tidak kalah kumuhnya dengan rumah kami. Sangat rapat.

Kios tempat ayah berkerja untuk menjahit adalah ruang tamu, yang disekat menjadi dua bagian sekatan yang agak besar menjadi tempat ayah bekerja, menjahit baju pesanan langganannya.

Udara di luar rumah sangat panas. Hawa panas sampai menusuk ubun-ubun kepala. Mungkin akibat dominasi iklim laut. Iklim di tanah Palestina memang berubah-ubah, antara iklim laut tengan dan iklim gurun, kendati demikian pada masa-masa tertentu iklim gurun pasir juga mempengaruhi iklim keseluruhan.

Kampung Zaitun berada di Jalur Gaza. Ada beberapa kota yang berada di Jalur Gaza, di Gaza utara ada kota Beit Hanoun dan Beit Lahiya, dibagian Timur Jalur Gaza juga banyak perkampungan.

Karena kampung kami berbatasan langsung dengan Negara Yahudi Israel, kondisinya sangat menakutkan dan berbahaya. Peristiwa memilukan sering kami saksikan dengan mata kepala. Beberapa ruas jalan utama setiap hari di blokade oleh Pasukan Israel dengan persenjataan lengkap.

Mereka sering bentrok dengan orang-orang dewasa ataupun anak-anak tanggung bahkan dengan anak kecil seusiaku, bentrokan sering memakan korban jiwa.

***

Sebagian besar teman-teman seusiaku sudah tidak punya orang tua, ayah atau ibu mereka tewas akabat kekejaman tentara Israel.

Makanya aku sangat sayang dan hormat kepada ayah. Beliau tidak banyak berbicara dan sangat melindungi kami. Ibuku, aku dan adikku.

Namaku Jamal, Jamal Ahmad Fayyad. Usiaku sekarang baru 7 tahun. Adikku Fatimah Shafiyah. Ayahku sering dipanggil orang Mister Taylor, nama profesinya, nama sebenarnya Mohammad Al Fayyad. Ibuku bernama Siti Aisyah Mish’al.

Sering aku membayangkan hidup tanpa seorang ayah, aku paling sedih kalau mendengar cerita tentang teman-temanku yang kehilangan ayahnya karena pertempuran dengan pasukan Israel. Sebagian besar orang dewasa dan remaja memilih bergabung dengan Brigade Al Qassam, sayap militer Hamas yang menguasai seluruh Jalur Gaza.

Hari ini aku malas untuk bermain di luar rumah, biasanya menjelang siang setelah sekolah pasti aku, Abbas, Ali, Salam dan Yunus bermainan petak umpet dan perang-perangan dekat tembok pembatas. Kali ini aku memilih tinggal di rumah, sambil melihat ayah yang asyik sendiri dengan mesin jahitnya. Ibu di kamar mengipasi Fatimah yang tidur kepanasan.

“Jamal, coba kamu ke sini sebentar,” ayah memanggilku.

“Ada apa yah?” tanyaku.

“Temanin ayah ke pasar,” katanya sambil merapihkan sisa-sisa potongan kain.

“Asyik, nanti beliin Jamal mainan yah,” aku berseru kegirangan. Biasanya kalau ke pasar aku minta dibeliin mainan.

“Khan mainanmu masih banyak,” balas ayah memandangku.

Aku menunduk. Benar juga mainanku banyak. Semua mainan disimpan dengan amat rapih oleh ibu dalam sebuah kotak kayu besar.

Selesai sholat Dzhuhur, kami sudah bersiap. Ayah mengambil sehelai Kafiyeh dan dilingkari dikepalanya, mirip Yasser Arafat batinku. Tapi Yasser Arafat waktu berumur 38 tahun.

“Ayo kita jalan sekarang,” ayah langsung memegang tanganku. Ibu mengantarkan kami sampai ke depan pintu dan kemudian menutupnya rapat.

Jalanan siang ini tidak terlalu ramai oleh lalu lalang orang. Sebagian orang bergerombol di kedai-kedai atau di depan rumah yang berkanopi sambil ngobrol.

Kami berjalan kaki. Ayah masih menuntunku. Tangannya memegang erat tanganku. Padahal aku ingin tanganku jangan dipegang biar aku bisa jalan sambil berlari-lari atau menendang-nendang batu di jalanan yang berdebu.

Tetapi keinginan itu aku tidak sampaikan. Aku memandang wajahnya, wajah selalu serius. Menyadari aku menatapnya, ayah tersenyum.

“Kenapa lihat-lihat ayah?” tanyanya.

“Ayah keringatan tuh,” balasku. Beliau hanya tersenyum, sambil menyusutkan keringat di dahinya dengan kafiyeh.

“Kamu kepanasan juga ya, nanti di pasar ayah akan belikan jus dingin biar kamu segar,” rayu ayahku. Mungkin ayah pikir aku memandang dia karena kesal di ajak jalan ke pasar siang-siang.

Tujuan kami adalah pasar  Wahd, pasar yang paling ramai dan lengkap dikawasan Jalur Gaza. Pasar masih agak jauh untuk ditempuh dengan berjalan kaki.

Sesekali tanganku di lepas ayah, kemudian dipegang lagi, tadi tangan kanan, sekarang tangan kiri. Aku senang punya ayah sebaik Mister Taylor ini. Aku tidak akan berpisah dengannya. Aku membutuhkannya. Aku pandang lagi wajahnya.

***

Tiba-tiba dari arah depan kami, banyak orang-orang berlarian. Aku dan ayah menepi ke atas trotoar. Sebagian dari yang berlarian itu  terlihat berdarah-darah.

Ayah langsung memelukku dan menggendong tubuhku. Ayah mencari celah untuk bersembunyi. Kami akhirnya menemukan sebuah pot bunga besar di atas trotoar jalan.

Teriakan orang-orang menjadi lebih panik. Aku melihat tank-tank tentara Israel sudah mulai mendekat ke arah kami, suara tank-tank itu bergemuruh. Ayah tercekat. Di udara Helikopter serbu tentara Israel meraung-raung.

Disebelah jalan aku melihat beberapa pejuang sedang berusaha menembakkan roket RPG, aku hafal karena jenis roket tersebut sering kami lihat dipakai oleh para pejuang.

Roket RPG diluncurkan ke arah helikopter, tetapi tidak mengenai sasaran.

Balasan tembakan dari helicopter kemudian berdesing-desing dikuping. Aku menutup mata dan telinga. Ayah semakin rapat memelukku dibalik pot bunga besar. Beberapa rentetan tembakan membahana membelah siang yang panas. Keadaan sekeliling kami kocar-kacir. Akibat tembakan roket RPG, tentara Israel yang menggunakan tank kemudian membombardir jalanan.

Beberapa orang mulai melempar bom-bom Molotov ke arah tank. Pejuang Palestina terdesak di jalanan, aku bahkan melihat tiga tubuh tergolek bersimbah darah.

Aku tahu, ayahku bukan penakut. Dia sedang membela dan melindungi aku dari situasi pertempuran ini. Tubuhnya basah oleh keringat. Sekali-kali dia beristigfar dan menyebut asma Allah.

Deru tank-tank Israel semakin terdengar, petanda semakin dekat dengan tempat posisi kami bersembunyi. Tembakan mortir juga memekakan telinga. Menghancurkan rumah-rumah dan gedung yang berada di sepanjang jalan menuju pasar.

Suasana hingar bingar mendadak senyap. Ayah dan aku masih berjongkok, bersembunyi.

Tiba-tiba, ada suara lantang yang mengagetkan kami.

“Hai, keluar kalian dan angkat tangan!” hardik tentara Israel yang tiba-tiba sudah berada di depan kami.

Ayah tetap memeluk aku. Aku ketakutan luar biasa.

“Lepaskan anak itu!” kali ini tentara Israel sudah berjumlah tiga orang.

“Ini anak saya, biarkan kami pergi,” teriak ayahku kepada tentara Israel.

“Ngapain kalian di sini?” bentak seorang tentara berkumis tebal.

“Saya mau ke Pasar Wahd, dan kami terjebak dalam pertempuran ini,” jawab ayah tanpa terdengar takut.

“Cepat kalian pergi,” kata tentara lainnya.

Ayah cepat-cepat memegang aku, untuk pergi. Aku sangat curiga dengan perilaku ketiga tentara Israel ini. Mereka bersenjata lengkap, bahkan moncong senjatanya selalu mengarah ke muka kami.

Ayah berjalan cepat ke arah jalan menuju rumah kami, tanganku dipegang sangat erat. Ayah berjalan terus memandang ke depan. Aku berjalan sesekali kepalaku melihat-lihat ke belakang.

Ya, Allah! Aku terkesiap, saat aku memandang ke belakang tiga tentara itu sedang bersiap mengarahkan senjatanya ke arah kami, mereka telah mengokang senjata itu siap tembak.

“Tembak!” perintah seorang dari mereka.

Senjata laras panjang itu menyalak. Dengan refleks aku melepaskan tangan dari pegangan ayah. Aku berlari ke arah peluru yang sedang meluncur ke arah ayah. Keberanianku muncul, aku tidak mau kehilangan ayah, aku tidak mau ayah meninggal dibunuh tentara Israel.

Anak_palestina_2 Berondongan tembakan mengenai seluruh tubuhku. Ayah langsung berteriak memegang tubuhku yang hendak jatuh ke bumi. Aku tidak merasakan apa-apa, saat tubuhku tergolek dipangkuan ayah. Ayah menangis meraung-raung. Aku berusaha memegang wajah ayahku. Tapi tidak pernah sampai. Aku hanya tidak mau kehilangan ayahku. Aku tahu betapa sedih teman-temanku yang ditinggal mati seorang ayah. Namaku Jamal Ahmad Fayyad bin Mohammad Al Fayyad. Aku tameng untuk ayahku tercinta***