“Pitekantropus Erektus!”
Seandainya Eugence Dubois tidak menemukan manusia jawa purba, yang kemudian ia namai dengan Pitekantropus Erektus, tentu saja aku tidak segeram ini. Tidak akan sampai semarah ini. Aku benar-benar murka, tersinggung dan terlecehkan oleh Kurowanto, seorang Manajer Personalia yang sok ganteng di kantorku.
Hanya gara-gara aku membuat segelas kopi yang terlalu manis, Kurowanto mengataiku seperti Pitekantropus Erektus. Aku tahu, ia sengaja mengatai aku dengan sebutan itu, agar derajatku sebagai manusia modern jatuh hingga sama dengan manusia jaman purbakala. Kurang ajar sekali si Kurowanto! Memangnya aku tidak tahu tentang Pitekantropus? Aku tahu, aku pernah baca dalam buku sejarah. Jangan mentang-mentang kamu Manajer, kamu bisa sewenang-wenang memberi stempel manusia purba kepadaku. Darahku bergelegak.
Namun sedikit demi sedikit kemarahanku kian surut. Entah karena aku mengguyur kepalaku dengan air dari kran washtafel atau memang murkaku sudah reda. Aku menyeka wajahku yang kuyub oleh air dengan kedua telapak tangan. Sambil masih menyeka muka, aku perhatikan wajahku yang terpantul dari cermin di atas washtafel.
“Sedemikian burukkah aku?” aku bertanya kepada pantulan wajahku di cermin. Diriku yang di sebelah kaca bening itu hanya mengatakan hal yang sama dari bibirnya. Aku menepuk-nepuk pipiku, menghilangkan sisa air yang masih menempel. Dengan menggunakan selembar toilet tissue, aku mengeringkan wajahku. Aku rasa emosiku sudah redam. Aku bersenandung dan sedikit bersisir dengan tangan.
“Tidak terlalu buruk,” gumamku, melihat sekilas ke cermin dan kemudian aku berpaling menuju ruang Personalia. Aku akan menemui si Kuro.
Kurowanto tidak aku temui di ruang Personalia, seorang stafnya mengatakan bahwa Pak Kuro sakit perut mendadak sehabis minum kopi. Kopi kemanisan buatanku tadikah yang membikin perutnya mulas mendadak? Aku hanya tersenyum, menyumpahinya. Puas kamu!
“Mas Kuncoro, ada urusan apa dengan Pak Kuro?” tanya Dona staf personalia yang lain.
“Ah, tidak ada kok Mbak Dona. Kalau begitu saya pamit dulu,” jawabku tergeragap.
“Kayaknya dia tadi memarahi Mas Kuncoro ya? Kenapa?” tanya Dona seperti penasaran dengan urusanku. Dona tidak menyebut lagi Kuro dengan kata Pak, tetapi dia. Aku pikir pasti mereka juga merasa senang si Kuro pulang karena sakit perut.
“Ya, Mbak. Tadi saya membuatkan kopi untuknya, katanya kemanisan. Lalu saya dikatai…” belum sempat menuntaskan perkataanku. Dona dan staf personalia yang lain berbareng mengatakan,”Pitekantropus Erektus! Ha ha ha…!” Pecah tawa mereka.
Sialan! Ternyata mereka juga sama saja dengan Kurowanto, batinku kesal sambil keluar dari ruangan Personalia dengan darah kembali mendidih. Aku membanting pintu.
Aku kembali ke dalam toilet. Berdiri terpaku di depan cermin di atas
meja washtafel. Sesaat kemudian aku membasuh wajah dengan air kran. Segar! Dengan seksama aku perhatikan raut wajahku di cermin, di sana terpantul seraut wajah dengan tulang dahi menonjol, tulang hidung melesak ke dalam alias pesek dan mulut sedikit monyong
karena struktur gigi yang menonjol ke depan. Ada lagi, tulang pipiku sangat menonjol. Pantas memasuki usiaku yang berkepala empat, aku belum pernah memiliki kekasih wanita yang dengan tulus mencintaiku. Pantas, Kurowanto mengataiku Pitekantropus Erektus. Karena aku memang mirip dengan gambaran manusia jawa purba yang ditemukan oleh Eugence Dubois itu. Tidak pantas aku marah yang pantas aku menangis!***
August 28th, 2008 at 3:44 am
Ramuan yang menarik antara pengalaman, keinginan, dan proyeksi dari kisah kehidupan penulis dan orang-orang di sekitarnya. Akhirnya ramuan itu menciptakan menu sastra yang ringkas dan tajam dalam paradigma autokritik yang sederhana.
B.
August 28th, 2008 at 5:16 am
Biar philantropus Erektus.. tetep mendapat cintanya yang gak terputus..
September 6th, 2008 at 3:22 am
Lho kok tampilannya jadi kayak gini??? Terima kasih buat Kang Luigi dan Mas Bahril yang telah membaca cerpen si Pite
September 6th, 2008 at 3:23 am
Commentnya yang lain mana teman-teman?
September 7th, 2008 at 2:25 am
kadang muka cakep gak sesuai ma dalemannya…cakep wajahnya tp hatinya gak cakep bwt apa?hanya untuk pajangan aja….cakep yg sebenarnya datangnya dari hati..so unt yg satu ini susah banget di dapat..