Tasikmalaya, 16 Agustus 1987.
Pagi sangat cerah, sebagian masyarakat kota Tasikmalaya telah beraktifitas semenjak subuh usai tadi. Saya dan beberapa teman tim ekspedisi pendakian gunung Galunggung sudah berkumpul di halaman pendopo kantor Walikota.
Saya bersalaman dengan Walikota Tasikmalaya, kemudian kami melepas sepasang burung merpati berwarna putih sebagai simbol dimulainya kegiatan pendakian gunung Galunggung perkumpulan siswa pencinta alam sekolah. Saya adalah ketua perkumpulan, sekaligus ketua ekspedisi pendakian gunung Galunggung. Kami akan mengibarkan bendera merah putih tanggal 17 Agustus di puncak Galunggung.
Gunung Galunggung untuk masyarakat Tasikmalaya mempunyai daya tarik sekaligus kenangan yang tak terlupakan, gunung tersebut meletus di paruh tahun 1980 yang membuat kota Tasikmalaya dan sekitarnya tertutup awan hitam berbulan-bulan akibat hujan debu dan pasir. Pasir yang menutupi seluruh wilayah Tasikmalaya kemudian dimanfaatkan untuk percepatan pembangunan Bandar Udara Soekarno-Hatta dan beberapa ruas jalan tol di Jakarta.
Saya merapikan posisi ransel, memandang anggota ekspedisi dan mengajak mereka berdoa sebelum memulai perjalanan pendakian. Kemudian kami menaiki sebuah truk pasir yang telah dipersiapkan untuk membawa kami ke kaki gunung Galunggung di sebuah desa kecil bernama Indihiang.
Semenjak kematian Ayah dua tahun yang lalu, saya menjadi dewasa dari segi pemikiran dan bersikap untuk ukuran remaja kelas tiga SMA. Pemikiran dewasa yang memancarkan aura kepemimpinan yang cukup berkesan, saya menjadi ketua OSIS sekaligus ketua perkumpulan pencinta alam sekolah.
Harapan saya bersekolah di Tasikmalaya terpenuhi, tetapi berkat kematian Ayah. Ayah dimakamkan di Tasikmalaya kota kelahiran Ibu saya.
Tidak sulit mencapai puncak gunung Galunggung, karena rute ini sudah beberapa kali kami daki. Dan di puncak ini sebelum kami mengibarkan bendera merah putih sesuatu terjadi. Sesuatu yang membuka kenangan di kompleks perumahan saat di Medan dulu.
Saya berdiri berkacak pinggang memandang ceruk lembah raksasa yang tergenang air dari puncak gunung, kawah ini sangat indah, air dalam kawah menyerupai birunya lautan, seperti lautan mini di tengah samudra.
Saya berdiri di atas sebuah batu besar yang menjorok ke arah kawah, tepatnya sebuah jurang menganga terbentang di bawah sana. Saya kemudian menikmati semilir angin pegunungan yang sejuk membuai.
Dari kejauhan saya melihat teman-teman memanggil saya dengan suara keras bernada gusar, saya menatap mereka heran, mereka terus memanggil-manggil dan melambaikan tangan. Sebagian metutup mata mereka, sebagian tercekat. Heri wakil ketua ekspedisi berlari ke arah saya, tangannya berupaya menggapai. Saya tidak paham apa yang terjadi. Heri berubah menjadi kabut asap di depan mata saya, seperti embun pagi yang tiba-tiba menetes jatuh di atas daun dari udara. Gema gaung suara Heri yang memantul terdengar seperti sangat jauh, jauh dari jangkauan nalar saya.
“Pegang tanganku Galih, Galiiiiih……..” teriakan Heri lamat-lamat menghilang.
Pusaran kabut putih tipis kemudian menggulung-gulung di depan saya, membentuk spiral angin ternado dan berubah menjadi bayangan hitam pekat besar. Gulungan angin menghancur semua materi yang di ada di depan dan di sekeliling saya. Batu-batu terangkat ke langit, batang pohon dan daun-daun kering. Gemuruh angin sangat dashyat, saya belum menyadari apa yang terjadi.
Tubuh saya terangkat ke langit mengikuti angin yang menggulung, badan saya seperti kapas tak berdaya tetapi kenapa saya dalam keadaan sadar? Bayangan hitam pekat itu. Saya ingat, bayangan itu yang mebuka pintu rumah kami di Medan di tengah malam dan kemudian pergi bersatu dengan kegelapan malam mengikuti angin bercampur udara.
Saya merasa baru saja berpisah dengan dunia saat gulungan angin terus mengangkat tubuh saya ke langit. Sangat tinggi, menjauh terus menjauh melampaui awan-awan tebal yang dingin, semakin tinggi, tinggi dan akhirnya terhempas bukan ke langit apalagi ke surga,tetapi ke sebuah ruang.
***
Rupanya saya berada di sebuah ruangan dengan kursi-kursi panjang berderet, dinding ruangan ini menghembuskan hawa dingin sedingin es, hidung saya berembun saat bernafas.
Saya bersedekap, berdiri dan mengelilingi ruangan ini. Seperti ruang tunggu bergumam saya tak terucap.
“Kak Galih!” saya mendengar sebuah suara panggilan dari seseorang, seorang anak kecil, suara itu, itu suara Bayu!
“Bayu…?! Kamu dimana?” saya berseru bertanya mengedar pandangan.
Tiba-tiba sebuah cahaya putih menyilaukan pandangan mata saya, cahaya itu menyengat menyakitkan bola mata. Mata saya pejamkan untuk mengurangi efek sakit dan membukanya lagi setelah efek sakit berkurang. Agak sedikit berkunang-kunang saya melihat Bayu sedang bermain di depan saya.
Bayu adalah adik Rizal teman saya di Medan, Bayu meninggal karena sakit radang otak akut. Bayu berhenti bermain bola-bola bercahaya, seperti bola kristal, rupanya pantulan cahaya bola Kristal itu yang membuat bola mata saya sakit.
“Kak, aku menunggu lama di sini,” ucap Bayu cadel anak kecil.
“Kamu menunggu aku di sini? Lama?” tanyaku mashgul. Saya mendekati Bayu, mengelus-elus rambutnya yang pirang lembut. Hal yang sering saya lakukan saat ia masih hidup. Ia tersenyum lucu.
“Kak Galih, batunya masih kakak simpan?” kali ini Bayu yang bertanya.
“Batu apa Bay?” balas bertanya saya.
“Batu sungai Kak!” suara Bayu yang cadel terhenti. Ia menangis. Saya menjadi bingung. Ada apa dengan batu sungai yang dimaksud oleh Bayu?
“Batu itu kakak harus balikin…” lanjut Bayu merengek menatap saya, air matanya berderai. Saya mencoba merengkuh tubuh mungil Bayu, ia menepis. Bayu berlari ke arah sebuah pintu tanpa daun pintu, tubuhnya menghilang di ujung pintu.
“Batu yang mana Bay?” teriak saya.
“Batu yang membuat aku menunggu lama di sini….” sahut Bayu suaranya lenyap seketika.
Saya berusaha untuk memanggilnya, agar ia kembali ke ruangan dan mau bercerita tentang batu yang membuat ia harus lama menunggu di ruangan dingin ini.
Saya penasaran, saya panggil Bayu berkali-kali hingga suara saya parau. Saya berusaha mengingat tentang batu yang dimaksud Bayu.
“Bay… Bay.. Bayuuu….” Suara saya melemah masih terus memanggil Bayu, dari mulut saya keluar banyak darah dan darah itu tertelan setiap saya berteriak memanggilnya.
Sesosok bayang-bayang putih samar-samar terlihat sedang memegang wajah saya sambil berkata,”Tenang, tenang… jangan bersuara dulu, kamu pasti akan baik-baik saja.” Saya berusaha berontak.
“Siapa kamu?” hardik saya lemah. “Kamu malaikat maut kah? Kamu ingin saya mati ya!” bentak saya berusaha untuk bangun.
“Kamu tidak akan mati, kamu tenang saja, coba kamu tidur lagi,” katanya lembut menenangkan. Bayangan putih itu sibuk membuat sesuatu di wajah saya, sepertinya ia sedang menjahit. Ia menjahit wajah saya.
“Saya dimana, saya dimana? Kenapa saya ada di sini?!” teriakan saya mengeluarkan buih-buih warna merah, darah dari mulut bersemburan memerahkan sprei ranjang berbahan flannel tebal. Masih samar-samar dalam penglihatan bayangan putih itu menyuntikan sesuatu ke tangan saya. Setelah itu rasa kantuk menyerang. Saya tertidur. Tanpa mimpi.
***
“Galih kamu sudah sadar Nak?” itu suara Ibu nadanya cemas menahan isak. Saya terbangun, tetapi saya tidak bisa bangun, seluruh persendian kaku, sakit dan ngilu. Untuk bangkit dan duduk pun saya tak mampu. Ingatan saya mulai menggumpal, serpihan-serpihannya mulai menyatu dan menyentuh syaraf otak saya. Memori saya pulih.
“Saya dimana Bu?” tanya saya lirih memandang Ibu yang duduk bersimpuh di samping ranjang putih tanpa corak.
“Kenapa saya di sini Bu? Saya khan sedang berada di gunung, saya belum mengibarkan bendera di sana Bu!”
“Galih, kamu mengalami kecelakaan. Kamu jangan banyak bicara dulu, luka-lukamu masih basah dan berdarah,” Ibu saya berusaha membuat tenang dibalik isakan tangis tertahan. Saya beristigfar.
Kemudian saya mengangkat kedua tangan yang penuh dengan perban dan selang infus di lengan kiri. Kaki kanan tidak bisa saya gerakan, seperti terbungkus beton cor dan sesuatu yang mengerikan menghinggapi perasaan, wajah saya tertutupi perban persis seperti mumi. Hanya bagian mata, lubang hidung dan mulut yang tidak tertutupi perban. Saya merasakan sakit yang luar biasa, seperti sembilu yang menyayat entah di bagian apa. Hati atau jantung, tidak tahu.
Rasa sakit bertambah saat bahu saya terguncang menangis. Kecelakaan yang menimpa saya di gunung Galunggung, membuat kaki kanan patah dan wajah saya hancur, sobek dengan gigi-gigi di mulut rontok. Tubuh saya terjatuh di ceruk kawah, terguling-guling dan menghantam batu. Saya diselamatkan oleh team SAR kota Tasikmalaya.
Tetapi saya tidak ingin hidup lagi, saya ingin bertemu Bayu di ruang tunggu yang dingin, saya lebih ingin bertemu kematian. Waktu itu umur saya 17 tahun.***
Bersambung…