Bamby Menulis

Tentang pikiran, rasa, pengalaman hidup dan imajinasi

Archive for June, 2008


PEMUDA PENJAGA LIFT

Catatan cerita : Menurut saya dunia roh punya kehidupannya sendiri, seperti dalam cerita ini :

PEMUDA PENJAGA LIFT

“Selamat pagi, ke lantai berapa Pak?” tanyamu kepada seorang Bapak berpakaian safari rapi dan perlente. Bapak itu kemudian memperlihatkan lima jarinya tanpa bicara, kamu rupanya sudah paham, tombol lift kamu pencet angka 5. Kamu juga selalu berpakaian rapi, rambutmu selalu tersisir dengan sedikit minyak rambut membuat rambutmu berkilau apabila tertimpa cahaya lampu lift.

Kamu selalu tersenyum ramah kepada setiap orang yang menggunakan lift ini, setiap hari, mungkin setiap shift-mu karena pasti kamu pun membutuhkan libur untuk mengatasi kebosanan menjaga lift dan bertanya ke lantai berapa kesetiap orang yang menggunakan lift di apartemen ini setiap hari.

Hari ini kamu tidak berada di dalam lift ini. Seorang wanita muda menjaganya, mungkin kamu libur. Wanita muda itu tidak seramah kamu, senyumannya seperti senyuman yang dipaksakan tidak tulus. Sepertinya ia sangat terpaksa menjalankan profesi menjaga lift dari pada tidak bekerja sama sekali.

Sudah hampir sebulan kamu tidak menjaga lift dan sebulan ini beberapa petugas pengganti silih berganti. Kamu kemana? Apakah kamu sakit? Ataukah kamu mendapatkan pekerjaan baru?

Ingin sekali aku bertanya kepada temanmu, wanita muda yang sekarang menjadi penjaga lift itu. Sudah sebulan kamu tidak bertugas, tetapi tidak aku lakukan, aku tidak mau semuanya berubah menjadi runyam dan kacau.

Pagi ini sangat sepi, aktifitas apartemen belum dimulai seperti biasa aku memasuki lift. Aku sangat senang pagi ini aku menemui kamu berada di dalam lift dan sudah bertugas kembali.

“Mau ke lantai berapa Mbak?” tanyamu dengan suara yang sangat ramah. Aku terkejut bercampur bahagia kamu sudah menjaga lift ini lagi. Sambil memandangmu aku mengacungkan kesepuluh jariku, ke lantai 10. Kamu memencet tombol angka 10.

Tiba-tiba lift berhenti mendadak di lantai 2 padahal tidak ada orang yang berhenti untuk keluar di lantai 2. Pintu lift terbuka, masuk wanita muda penjaga lift penggantimu itu, ia bersama temannya, tetapi mereka tidak menegurmu. Kamu pun diam saja tidak menegur mereka. Aku dan kamu terdiam dalam bisu, hanya teman-temanmu yang berbicara.

“Sudah sebulan aku bekerja di sini, baru kali ini aku merasakan bulu kudukku berdiri merinding seperti ini,” kata wanita muda itu kepada temannya dengan ekspresi seperti orang yang ketakutan.

“Ya, aku juga merasakan hal yang sama,” kata teman wanita muda itu sambil bergidik dan memegang lehernya sendiri.

“Apa mungkin rohnya si Markum penjaga lift yang meninggal kecelakaan motor sebulan yang lalu sedang gentayangan di sini ?” lanjut wanita muda penjaga lift itu kepada temannya sambil memencet tombol lift ke lantai dasar.

“Mungkin saja, dulu juga waktu seorang gadis muda bunuh diri dari lantai 10 di lift ini sering terjadi sesuatu yang aneh-aneh dan menyeramkan,” kata temannya.

Terus terang aku sangat terkejut. Pandanganku beralih kepadamu yang sedang berdiri manis di pintu lift sambil tersenyum, mengangguk dan mengangkat bahu. Kamu bernama Markum. Pantas kamu bisa menegurku pagi ini.***

Kumpulan Cerita 100 Kata

Cerita-cerita di bawah ini adalah cerita pendek 100 kata, kalau ingin iseng menghitung jumlah kata dalam cerita-cerita ini ditanggung pasti jumlahnya 100 kata.

PERAMAL

Aku melihat guratan tangan kiri. Sebagai peramal aku menyarankan tangan kiri alasannya jarang dipakai.

“Hmm, garis tangan ini agak membingungkan!” gumanku

“Garis percintaan, kacau balau, tidak ada seorang wanitapun yang tertarik,” kataku memperhatikan garis jodoh.

“Untuk garis keuangan, juga sangat buruk, hutang di sana sini, gali lubang tutup lubang,” desahku.

“Kesehatan, sering sakit-sakitan. Terutama sakit kepala, apabila sakit kepala telah mendera bagaikan palu godam menghantam!” cerocosku berbusa.

“Apabila kelak menikah, punya kecenderungan untuk berpoligami,” kataku mantap.

“Ada tiga garis kecil nyata di bawah kelingking, itu garis penikahan!” tandasku.

Aku mengangkat tangan kiri itu. Betapa kagetnya aku, itu tanganku sendiri!***

KETIKA BERTEMU TEMAN

Ada perasaan kurang nyaman merambat di relung hati ketika harus bertemu dengan teman-teman lama, terutama mereka yang terakhir bertemu denganku di akhir tahun 2005.

Mereka selalu memandangku prihatin, kasihan dan selalu menanyakan kondisi kesehatanku.

“Apakah kamu merasa sehat?”

“Kenapa kamu begitu kurus?”

“Kamu masih sakit?”

Pertanyaan disertai pandangan yang bermaksud mendapatkan jawaban dariku, tetapi malah menjalarkan energi negatif buat pikiranku. Dan setiap selesai bertemu mereka, aku merasa terpuruk terpukul, begitu burukkah kondisi fisikku sekarang?

Rasanya lebih baik aku mencari dan bertemu dengan teman-teman baru, yang belum pernah mengenal sosokku sebelumnya. Karena mereka mengenal diriku dengan sosok  apa adanya.

DI DALAM KERETA BAYI

Hampir setiap hari pasangan suami istri itu berada di taman kota, mereka selalu membawa kereta dorong bayi tertutup berwarna biru tua. Pagi dan sore setiap cuaca cerah mereka bermain di taman kota dengan sang bayi.

Warna biru tua kereta dorong, setua usia mereka. Sang suami sudah terbungkung bungkuk dan sang istri berambut kelabu dengan raut wajah keriput.

Mereka selalu memandang ke dalam kereta dorongan bayi itu sambil tersenyum atau sesekali membunyikan mainan berkerincing. Pasti sang bayi merasa senang dan bahagia selalu disapa setiap hari cerah.

Sebenarnya tidak ada bayi dalam kereta dorong, di dalamnya ada harapan untuk mempunyai buah hati.***

BELUM BISA BICARA

Ingin sekali saya meremasnya sambil mengulum putingnya menghisap susu yang terkandung di dalamnya.

Kulit dadanya yang putih bersih membuat saya sangat ingin berbaring di atasnya, saya membayangkan tidur nyenyak seperti di atas kasur bulu angsa yang empuk.

Saya tidak terlalu suka apabila sembulan dadanya ditutupi oleh bra berenda dengan bahan lycra, membuat saya susah untuk menjamahnya apalagi untuk meremasnya dan mempermainkan putingnya.

“Saya sangat dahaga, berikan dadamu untuk aku hisap susunya,” saya merengek meminta kepadanya.

Bra renda yang menutupi dadanya tidak segera diturunkan untuk sedikit menyembulkan putingnya agar saya segera menghisapnya.

Sekali lagi saya merengek meminta Air Susu Ibu,“Oooowweeek!”.***

KENANGAN MEI 1998

Hari  ini suasana tempatku bekerja sangat  lenggang tersiar kabar akan terjadi malapetaka besar.

Biasanya menjelang makan siang pelanggan telah mengantri untuk mendapatkan menu makannya.

Melewati waktu makan siang kami diinstruksikan untuk segera menutup restoran tanpa bantahan.

Aku bergegas meminta pelanggan yang masih makan di restoran untuk segera meninggalkan tempat.

“ Sesuatu akan terjadi,” begitu kataku sambil meminta maaf.

Restoran sudah terkunci dan lampu telah dipadamkan.

Tiba-tiba sesuatu yang mengejutkan terjadi. Inilah awal dari malapetaka.

“Praaaaaang….!!!” bunyi kaca pecah diikuti oleh derap orang-orang kalap memasuki restoran bukan untuk makan, tetapi membakar dan menjarah seisi restoran. Tanpa belas kasih. Menjarah nurani.***

ADA DUA CERMIN

Ada dua buah cermin di rumahku. Sebuah cermin berada di pojok kamar tidurku dan sebuah lagi tergantung di kamar mandi.

Cermin di dalam kamar tidurku menyatu dengan meja rias, aku bisa melihat paras cantikku, rambut panjangku yang hitam berkilau saat aku menyisirnya. Ada lagi yang membahagiakan aku sebagai perempuan, lekuk tubuhku sangat indah memantul dari cermin itu.

Aku sangat benci dengan cermin yang tergantung di kamar mandi, apabila aku memandang wajahku di cermin itu, kulit mukaku sangat pucat, wajahku tirus, payudaraku melempem seperti balon kempes, aku sangat tersiksa, sepertinya cermin itu memantulkan diriku sebenarnya.

Cermin itu berkata aku "pelacur" murahan!***

TERMANGU DI CILIWUNG

Aku termangu di pinggiran sungai Ciliwung. Memandangi bayangan wajahku yang terpantul dari air sungai keruh, penuh sampah.

Sesekali aku berdiri, berkacak pinggang dan kembali jongkok termangu seperti orang bodoh yang kehilangan kesabaran.

Air sungai mengalir cukup lancar, karena semalam Jakarta diguyur hujan lebat. Sampah-sampah plastik dan limbah buangan lainnya terseret pelan mengikuti air ke hilir.

Aku kembali berdiri, gelisah, peluhku mulai menetes.

“Kenapa aku harus selalu seperti ini setiap pagi!” aku mulai menggerutu.Rasanya beban yang kutahan ingin aku tumpahkan di sungai ini. Tetapi tidak aku lakukan.

Karena aku tidak terbiasa buang hajat besar di sungai. Aku butuh WC!***

TRAINING YANG SIA-SIA

Hari pertama aku bekerja.

“Bersikap tetap tenang,” kata Menajerku membuka pembicaraan.

“Kemudian berikan semua yang diminta,” lanjutnya dengan mimik serius.

“Jangan menjadi pahlawan!” tegasnya.

Aku berpikir, kenapa tidak boleh menjadi pahlawan? Akhirnya aku bertanya kepada Menejerku.

“Kenapa tidak boleh menjadi pahlawan?” tanyaku.

“Karena nyawamu lebih penting!” tandasnya.

Setelah itu ia melanjutkan pembicaraannya.

“Perhatikan ciri-ciri fisik dan ke arah mana ia keluar,” ujarnya menutup percakapan.

Beberapa hari kemudian, peristiwa perampokan terjadi di tempat kerjaku, sebagai kasir yang bertugas pada malam itu aku tidak sempat lagi melakukan langkah-langkah menghadapi perampokan yang telah diajarkan oleh Menejerku, karena aku telah pingsan duluan.***

GARA-GARA PENJUALAN MENURUN

“Bam, penjualan store kamu  menurun?” tanya Ibu Erni atasanku mempermasalahkan omzet penjualan yang menurun.

“Menurut analisa saya, penjualan menurun saat pemerintah menaikkan harga BBM bulan lalu,” kataku dengan percaya diri.

“Tetapi beberapa store lain penjualannya malah meningkat,” balas Ibu Erni sambil memperlihatkan data penjualan store yang lain.

“Ya, jelas saja Bu, itu khan store-store 24 jam apalagi sekarang lagi musim EURO 2008, pasti malam-malam banyak yang order delivery,” kataku berkelit.

“Tetapi selain penjualan menurun, jumlah customer complain juga meningkat, sepertinya kamu kurang melakukan follow-up terhadap storemu dan jumlah CERPENmu meningkat di Blog.Friendster!” kesabaran Ibu Erni meledak.***

Sorry…. di delete

Maaf tulisan ini dalam proses perbaikkan. Terima kasih.

(bamby cahyadi)