Cerita-cerita di bawah ini adalah cerita pendek 100 kata, kalau ingin iseng menghitung jumlah kata dalam cerita-cerita ini ditanggung pasti jumlahnya 100 kata.
PERAMAL
Aku melihat guratan tangan kiri. Sebagai peramal aku menyarankan tangan kiri alasannya jarang dipakai.
“Hmm, garis tangan ini agak membingungkan!” gumanku
“Garis percintaan, kacau balau, tidak ada seorang wanitapun yang tertarik,” kataku memperhatikan garis jodoh.
“Untuk garis keuangan, juga sangat buruk, hutang di sana sini, gali lubang tutup lubang,” desahku.
“Kesehatan, sering sakit-sakitan. Terutama sakit kepala, apabila sakit kepala telah mendera bagaikan palu godam menghantam!” cerocosku berbusa.
“Apabila kelak menikah, punya kecenderungan untuk berpoligami,” kataku mantap.
“Ada tiga garis kecil nyata di bawah kelingking, itu garis penikahan!” tandasku.
Aku mengangkat tangan kiri itu. Betapa kagetnya aku, itu tanganku sendiri!***
KETIKA BERTEMU TEMAN
Ada perasaan kurang nyaman merambat di relung hati ketika harus bertemu dengan teman-teman lama, terutama mereka yang terakhir bertemu denganku di akhir tahun 2005.
Mereka selalu memandangku prihatin, kasihan dan selalu menanyakan kondisi kesehatanku.
“Apakah kamu merasa sehat?”
“Kenapa kamu begitu kurus?”
“Kamu masih sakit?”
Pertanyaan disertai pandangan yang bermaksud mendapatkan jawaban dariku, tetapi malah menjalarkan energi negatif buat pikiranku. Dan setiap selesai bertemu mereka, aku merasa terpuruk terpukul, begitu burukkah kondisi fisikku sekarang?
Rasanya lebih baik aku mencari dan bertemu dengan teman-teman baru, yang belum pernah mengenal sosokku sebelumnya. Karena mereka mengenal diriku dengan sosok apa adanya.
DI DALAM KERETA BAYI
Hampir setiap hari pasangan suami istri itu berada di taman kota, mereka selalu membawa kereta dorong bayi tertutup berwarna biru tua. Pagi dan sore setiap cuaca cerah mereka bermain di taman kota dengan sang bayi.
Warna biru tua kereta dorong, setua usia mereka. Sang suami sudah terbungkung bungkuk dan sang istri berambut kelabu dengan raut wajah keriput.
Mereka selalu memandang ke dalam kereta dorongan bayi itu sambil tersenyum atau sesekali membunyikan mainan berkerincing. Pasti sang bayi merasa senang dan bahagia selalu disapa setiap hari cerah.
Sebenarnya tidak ada bayi dalam kereta dorong, di dalamnya ada harapan untuk mempunyai buah hati.***
BELUM BISA BICARA
Ingin sekali saya meremasnya sambil mengulum putingnya menghisap susu yang terkandung di dalamnya.
Kulit dadanya yang putih bersih membuat saya sangat ingin berbaring di atasnya, saya membayangkan tidur nyenyak seperti di atas kasur bulu angsa yang empuk.
Saya tidak terlalu suka apabila sembulan dadanya ditutupi oleh bra berenda dengan bahan lycra, membuat saya susah untuk menjamahnya apalagi untuk meremasnya dan mempermainkan putingnya.
“Saya sangat dahaga, berikan dadamu untuk aku hisap susunya,” saya merengek meminta kepadanya.
Bra renda yang menutupi dadanya tidak segera diturunkan untuk sedikit menyembulkan putingnya agar saya segera menghisapnya.
Sekali lagi saya merengek meminta Air Susu Ibu,“Oooowweeek!”.***
KENANGAN MEI 1998
Hari ini suasana tempatku bekerja sangat lenggang tersiar kabar akan terjadi malapetaka besar.
Biasanya menjelang makan siang pelanggan telah mengantri untuk mendapatkan menu makannya.
Melewati waktu makan siang kami diinstruksikan untuk segera menutup restoran tanpa bantahan.
Aku bergegas meminta pelanggan yang masih makan di restoran untuk segera meninggalkan tempat.
“ Sesuatu akan terjadi,” begitu kataku sambil meminta maaf.
Restoran sudah terkunci dan lampu telah dipadamkan.
Tiba-tiba sesuatu yang mengejutkan terjadi. Inilah awal dari malapetaka.
“Praaaaaang….!!!” bunyi kaca pecah diikuti oleh derap orang-orang kalap memasuki restoran bukan untuk makan, tetapi membakar dan menjarah seisi restoran. Tanpa belas kasih. Menjarah nurani.***
ADA DUA CERMIN
Ada dua buah cermin di rumahku. Sebuah cermin berada di pojok kamar tidurku dan sebuah lagi tergantung di kamar mandi.
Cermin di dalam kamar tidurku menyatu dengan meja rias, aku bisa melihat paras cantikku, rambut panjangku yang hitam berkilau saat aku menyisirnya. Ada lagi yang membahagiakan aku sebagai perempuan, lekuk tubuhku sangat indah memantul dari cermin itu.
Aku sangat benci dengan cermin yang tergantung di kamar mandi, apabila aku memandang wajahku di cermin itu, kulit mukaku sangat pucat, wajahku tirus, payudaraku melempem seperti balon kempes, aku sangat tersiksa, sepertinya cermin itu memantulkan diriku sebenarnya.
Cermin itu berkata aku "pelacur" murahan!***
TERMANGU DI CILIWUNG
Aku termangu di pinggiran sungai Ciliwung. Memandangi bayangan wajahku yang terpantul dari air sungai keruh, penuh sampah.
Sesekali aku berdiri, berkacak pinggang dan kembali jongkok termangu seperti orang bodoh yang kehilangan kesabaran.
Air sungai mengalir cukup lancar, karena semalam Jakarta diguyur hujan lebat. Sampah-sampah plastik dan limbah buangan lainnya terseret pelan mengikuti air ke hilir.
Aku kembali berdiri, gelisah, peluhku mulai menetes.
“Kenapa aku harus selalu seperti ini setiap pagi!” aku mulai menggerutu.Rasanya beban yang kutahan ingin aku tumpahkan di sungai ini. Tetapi tidak aku lakukan.
Karena aku tidak terbiasa buang hajat besar di sungai. Aku butuh WC!***
TRAINING YANG SIA-SIA
Hari pertama aku bekerja.
“Bersikap tetap tenang,” kata Menajerku membuka pembicaraan.
“Kemudian berikan semua yang diminta,” lanjutnya dengan mimik serius.
“Jangan menjadi pahlawan!” tegasnya.
Aku berpikir, kenapa tidak boleh menjadi pahlawan? Akhirnya aku bertanya kepada Menejerku.
“Kenapa tidak boleh menjadi pahlawan?” tanyaku.
“Karena nyawamu lebih penting!” tandasnya.
Setelah itu ia melanjutkan pembicaraannya.
“Perhatikan ciri-ciri fisik dan ke arah mana ia keluar,” ujarnya menutup percakapan.
Beberapa hari kemudian, peristiwa perampokan terjadi di tempat kerjaku, sebagai kasir yang bertugas pada malam itu aku tidak sempat lagi melakukan langkah-langkah menghadapi perampokan yang telah diajarkan oleh Menejerku, karena aku telah pingsan duluan.***
GARA-GARA PENJUALAN MENURUN
“Bam, penjualan store kamu menurun?” tanya Ibu Erni atasanku mempermasalahkan omzet penjualan yang menurun.
“Menurut analisa saya, penjualan menurun saat pemerintah menaikkan harga BBM bulan lalu,” kataku dengan percaya diri.
“Tetapi beberapa store lain penjualannya malah meningkat,” balas Ibu Erni sambil memperlihatkan data penjualan store yang lain.
“Ya, jelas saja Bu, itu khan store-store 24 jam apalagi sekarang lagi musim EURO 2008, pasti malam-malam banyak yang order delivery,” kataku berkelit.
“Tetapi selain penjualan menurun, jumlah customer complain juga meningkat, sepertinya kamu kurang melakukan follow-up terhadap storemu dan jumlah CERPENmu meningkat di Blog.Friendster!” kesabaran Ibu Erni meledak.***