Cerbung: TEMAN WANITAKU
Ada beberapa wanita yang dekat denganku sejak aku bercerai dengan Dewi, apalagi Astrid sangat mendukungku untuk segera mencari pengganti ibunya yang sekarang tinggal di Jerman. Astrid anakku terkadang ikut terlibat dalam proses pencarian calon ibunya. Tetapi terkadang aku merasa risih kepadanya, karena tidak semua wanita itu mempunyai rasa keibuan, sabar dan penyayang seperti sering ia lihat di tayangan sinetron televisi.
Nicky adalah seorang yang dekat denganku saat ini. Cewek berdarah campuran Manado dan Sunda ini adalah Sekretaris Marketing di tempatku bekerja. Nicky, cantik dan manis. Aku katakan cantik, karena wajahnya memang cakep untuk ukuran cewek berkepala tiga dan manis karena memandangnya tidak akan pernah bosan, kulitnya tidak putih namun tidak juga hitam, sawo matanglah. Rambutnya tebal dan panjang, di ujung rambutnya yang melambai ada sedikit gulungan-gulungan kecil yang membuatnya semakin modis.
Aku sendiri heran kenapa cewek secakep Nicky kini menjadi teman dekatku. Aku katakan masih teman dekat, karena kami belum berikrar untuk pacaran. Sepulang kerja sering kami habiskan waktu untuk sekedar makan malam bareng atau nonton film, atau saat libur kami sering jalan bareng di mall. Aku belum memperkenalkan Nicky kepada Astrid.
Malam ini Nicky mengajakku mampir ke rumahnya sebuah rumah mungil minimalis, dengan mengendarai mobilnya aku dan Nicky sudah berada di sebuah komplek perumahan di daerah Cibubur.
“Ayo turun, masuk dulu,” katanya setelah memarkirkan mobil di garasi rumahnya.
“Ada siapa saja di rumah ini?” tanyaku basa-basi sambil turun dari mobil.
“Hanya aku, sesekali adikku nginap di sini, sekarang dia kost dekat kampusnya,” Nicky menjawabku sambil membuka pintu rumahnya.
Pintu rumah terbuka, Nicky menyalakan lampu taman dan beberapa lampu lain di ruang tengah.
“Bam, kamu mau minum apa?” teriaknya dari dalam, aku masih terpaku duduk di sofa ruang tamu.
“Apa sajalah, asal jangan yang dingin!” balasku.
Tidak ada jawaban darinya. Aku mengitari ruang tamu Nicky dengan pandanganku. Ada sebuah lampu duduk di pojok ruangan, di atas meja kecil dekat lampu terdapat sebuah pesawat telephone dan sebuah vas bunga kecil. Sofa hanya tiga buah, dua buah berukuran sedang dan sebuah berukuran panjang. Meja terbuat dari besi tempa dengan kaca tebal hitam tidak terlalu besar di atasnya terdapat sebuah vas bunga segar. Karpet tebal berwarna hijau lumut bermotif bunga lotus menghiasi lantai keramik yang tampaknya selalu bersih dan sebuah pigura foto ukuran cukup besar, Nicky dan keluarga besarnya.
“Bam, teh manis hangat ya,” Nicky meletakkan secangkir teh di depanku. Kemudian ia mengambil posisi duduk di sofa panjang, ia masih mengenakan pakaian kerja tangannya memegang sebuah gelas besar.
“Kamu minum apa Nick?” tanyaku.
“Jus, jus strawberry, kamu mau?” balasnya memandangku sambil tersenyum. Aku menggeleng.
“Oya, rumahmu rapi banget, siapa yang ngurus?” tanyaku sambil menyeruput teh hangat buatan Nicky.
“Aku semua, semuanya aku yang urus, aku sudah terbiasa mengurus rumah sendiri, bahkan untuk urusan genting bocor aku tangani sendiri,” jelas Nicky. Aku tersenyum.
“Kenapa kamu tersenyum, gak percaya dengan omonganku ya?” tebaknya sambil mengibaskan rambutnya ke sisi yang lain, wangi parfumnya menebar. Cantik, batinku. Ia tersenyum, kali ini manja.
“Aku percaya kok, masa sekretaris gak bisa ngurus rumah sendiri?” kataku.
Malam ini aku makan malam dengan masakan buatan Nicky. Aku tidak menyangka cewek seperti Nicky bisa memasak dan juga mengatur rumah dengan sangat rapi. Setahuku sebagai Sekretaris Marketing pekerjaannya sangat banyak dan memerlukan ketelitian dalam mengerjakan sesuatu hal. Aku semakin kagum dengan kepribadiannya.
“Bam, udah minum obat?” Nicky mengingatkan. Aku hanya mengangguk mengiyakan.
Kedekatan aku dengan Nicky berawal selesai aku di operasi. Ia dan beberapa staf Marketing membesukku di rumah sakit, waktu itu ia bertanya, siapa yang menjaga aku, tentu saja hanya Astrid yang menjagaku. Entah kenapa, keesokannya hampir setiap hari Nicky menengokku di Rumah Sakit dan Nicky selalu datang di saat Astrid sedang tidak bersamaku.
Setelah aku bisa bekerja lagi, Nicky sering mangajak makan siang bersama dan akhirnya kami sering jalan bersama.
“Bam, kamu masih suka menggambar?” pertanyaan Nicky yang tiba-tiba sempat membuatku sedikit gelagapan.
“Apa?”
“Kamu masih suka menggambar, melukis gitu?”
“Masih, kenapa?”
“Hmmm… kalau gambar suka gambar apa?”
“Akhir-akhir ini aku lebih suka menggambar ekspresi, ekspresi wajah orang. Sedih, gembira, melamun, menatap.”
“Gak gambar bunga?”
“Bunga?” aku berpikir. Rasanya aku belum pernah menggambar bunga, saat senggang aku memang suka menggambar, tetapi belum pernah aku menggambar bunga. Semua gambar lebih banyak gambar manusia dan ekspresinya atau gambar alam dan suasana sebuah tempat, misalnya pasar.
“Boleh gak aku request? kamu gambarin aku bunga,” suara Nicky memohon, sangat manja.
“Nick, kenapa bunga?”
“Aku suka bunga.”
“Bunga apa?”
“Semua bunga!”
“Jadi aku harus menggambar semua jenis bunga?” kataku terbelalak diikuti tawa. Nicky pun ikut tertawa.
Malam yang indah ini aku lalui dengan bercakap-cakap berbagai hal dengan Nicky. Percakapanku dengannya lebih di dominasi dengan tema bunga. Seperti hatiku yang berbunga-bunga, menghabiskan malam bersama Nicky.
***
Nicky bukanlah satu-satunya wanita yang sedang dekat denganku saat ini. Ada Ratih, seorang terapis, seorang dokter dengan spesialis psikiatri. Dokter Ratih, sama seperti Nicky, wanita dengan usia telah melebihi kepala tiga, tidak cantik tetapi menarik. Tubuhnya tinggi melebihi tinggi badanku, kulitnya putih dan memakai kaca mata yang selalu berganti-ganti mode setiap aku bertemu dengannya.
Setelah menjalani operasi by pass jantung, aku juga mengikuti sejumlah terapi psikologi. Aku agak kurang siap menghadapi kenyataan yang menimpaku, harus mengatur hidup dengan sangat disiplin dan dengan berbagai jenis obat yang harus ku minum setiap hari. Aku sempat depresi, dan kemudian Zakky sahabatku merekomendasikan dokter Ratih.
Beberapa pertemuan terapi malah menjadi pertemuan rutin yang membuat aku menyukai Ratih. Ratih sangat sabar mendengar semua keluhanku dan ia juga sangat tegas, ia membimbingku dengan memberikan teori-teori psikologi praktis yang membuat aku termotivasi. Beberapa kali juga ia menemaniku untuk mengikuti pertemuan-pertemuan penderita gagal jantung atau penyakit-penyakit berat lainnya, ternyata penderitaanku tidak ada apa-apanya dibandingkan penderita Lupus, atau juga Leukimia seperti yang diderita oleh Zakky.
Pagi ini aku harus bertemu Ratih, ada yang akan aku sampaikan kepadanya, sebuah mimpi. Aku sangat terganggu dengan mimpi itu, aku pikir aku akan curhat kepadanya.
Bersambung…
May 17th, 2008 at 6:43 am
Kapan Nicky dan Dokter Ratih dikenalin ke GW? hehehe kayaknya cakep-cakep tuh ceweq boss….
May 17th, 2008 at 7:07 am
begitu mengalir…
May 17th, 2008 at 7:52 pm
bukan cerita pak bamby … hehehehe
May 17th, 2008 at 9:09 pm
Utk setiap crt kang bamby, sll muncul prtnyaan d benakku: apakah ini kisah nyata? Nah, utk crt ini prtnyaan itu smkn menjadi? Soalnya kok tokohnya (sang aku) panggilannya Bam… Apakah ini bamby? Wah kl kisah nyata, asik bgt tuh… Kang bamby bnyk tmn wanita nya trnya. Flamboyan juga yak? Hehe…
Ditunggu lanjutanyya kang bamby. Ini cerita asik bgtt. Cinta2 an soalnya..:)
May 18th, 2008 at 12:05 pm
saya jaditerbayang menggambarkan bagaimana Nicky itu seperti Winona Ryder dan Ratih.. seperti.. wah cantik2 semua
May 18th, 2008 at 5:30 pm
Mana sambungannya pak??
May 18th, 2008 at 9:15 pm
wahh jadi penasaran endingnya, ditunggu nih lanjutannya, soalnya karakter cewek2nya beda2, jadi menarik…
May 18th, 2008 at 10:27 pm
smoga cucok, berlanjut, dan.. ngundang2 yak..! hahaa.. :))
May 19th, 2008 at 4:26 am
halo mas
diz is d 1st time aku baca tulisanmu, enak, easy reading n bikin penasaran..:D
May 19th, 2008 at 4:58 am
klo menurut eris yg cocok jd pendamping hidup pertama..orangnya harus bisa menerima apa adanya,dengan segala kekurangannya,siap dengan status duda beranak satu(single parent)
yang kedua..orangnya harus pengertian,perhatian,sayang..bukan hanya sayang Bapaknya aja tapi juga ama putrinya..karena klo kita mau jd istrinya berarti anaknya adalah putrinya juga..
Yang ke tiga..ikhlas menerima semuanya…Dia harus bisa menjadi ibu yang baik…bisa membuat bahagia,tidak menuntut yang macam2..mingisi hidupnya yg pernah hilang…bisa diajak susah maupun senang..
tapi yang lebih penting mencintainya melebihi dirinya sendiri.
May 21st, 2008 at 10:46 pm
Barangkali bukan kisah nyatanya mas Bamby tapi si Bambang kan sama tu manggilnya Bam heheh :p
Mas Bamby ditunggu lanjutan ceritanya yaaa
May 22nd, 2008 at 12:32 am
Mas Bamby asik juga ceritanya jadi penasaran euy…
Kayak kisah nyata atau pengalaman pribadi neh….
di tunggu next episode….
May 26th, 2008 at 4:52 am
sy juga bisa betulin genteng bocor (misspa.multiply.com), rambut sy jg ikal panjang, walaupun bukan sekretaris sie…

Seneng ya mas bs nulis cerpen, sy pengen lho bisa nulis gini, ditunggu lanjutannya…
May 27th, 2008 at 12:30 pm
Tokoh nya bernama “Bam” dia suka melukis… lah ya kok spti diri mu sendiri toch yo:-D sakit jantung?? apa krn kebanyakan makan “ayam” goreng??
hi hi hi hi…
bisa marah nich istri nya:-D maaf ya sang Istri, ini cm becanda loh:-D