Bamby Menulis

Tentang pikiran, rasa, pengalaman hidup dan imajinasi

Archive for May, 2008


KENTUT BOMBAY DARI LIBERIA

Cerita kolaborasi Luigi Pralangga dan Bamby Cahyadi

Luigistarbase_logistics_base Suatu hari Luigi Pralangga anggota The UN Peacekeeping Mission in Liberia (UNMIL) dari Kontingen Garuda Indonesia yang sudah bertugas selama tiga tahun lebih di Monrovia ibu kota negara di Afrika Barat Liberia mendapat telephone.

Suara telephone yang berdering kencang di meja kerjanya membuat Luigi sedikit terkejut karena hari masih sangat pagi, penduduk kota Monrovia mungkin sebagian besar masih terlelap dalam tidur. Caller id pada layar display telephone menunjukan sebuah nama, dari Deputy Indian FFPU (Female Formade Police Unit). Tambah terkejut Luigi. Ada apa gerangan kenapa ia di telephone oleh Indian FFPU?

Akhirnya gagang telephone diangkat juga oleh Luigi, masih dengan tanda tanya besar dipikirannya, Luigi akhirnya tahu yang menelpon adalah Wakil Komandan Kontingen Polisi Wanita Anti Huru-hara India.

Terjadilah percakapan dengan bahasa Inggris yang kalau diterjemahkan secara bebas, istilah Luigi diterjemahkan secara sontoloyo sebagai berikut :

“Selamat pagi, ini Pak Luigi? tanya suara di seberang sana.

“Yup! Betul sekali, saya bicara dengan siapa?” tanya Luigi balas bertanya.

“Oh, ini dari Indian FFPU, saya Jaykumise Meregehese, Deputy Commander Indian FFPU… kalau nggak salah kita pernah ketemu dan ngobrol saat pesta perpisahan Mister Roberto Buratbaretos yang dari Guetemala bulan lalu… masih ingat Pak Luigi?” kata Jaykumise Meregehese nyerocos tanpa jeda.

“Oh iya, ya saya ingat… gimana khabarnya Mas Jay?” balas Luigi sambil mesem mengingat-ingat wajah orang yang sedang berbicara dengannya.

“Saya baik-baik saja Pak, gini Pak saya mau minta tolong nich…” suara Jay agak merajuk manja.

“Oke, apa yang bisa saya bantu  Mas?” tanya Luigi.

Mas Jay kemudian nyerocos lagi dan panjang. “Gini Pak, mohon bantu kita untuk dokumentasi. Komandan saya diundang ikut konferensi di London minggu depan. Dia diminta ceramah soal peranan polisi wanita India di medan peacekeeping seperti di Liberia ini, nah saya pernah lihat foto hasil jepretan sampeyan itu kueren-kueren, foto sampeyan nanti untuk bahan presentasi beliau di sana. Waktu di pesta saya pernah cerita soal ini juga… mungkin anda udah nggak ingat lagi, wong waktu itu keliatannya sampeyan sibuk dengan wanita-wanita cantik njeh!”

Luigi mesem-mesem lagi, kali ini untuk dua hal, pertama hidungnya kembang kempis karena hasil foto-fotonya dipuji dan diminta untuk mejadi fotografer aktivitas FFPU India untuk dipakai presentasi segala di London dan yang kedua yang bikin Luigi tambah berbunga-bunga dengan pipi merona merah karena perkataan Mas Jay yang bilang ia sibuk dengan wanita-wanita cantik. Siapa dulu dong, Aku!, batin Luigi sumringah.

“Ah bisa aja nich Mas Jay, Oh gitu ya, kapan sich waktunya?” tanya Luigi masih belum mudeng.

“Ini dia masalahnya, bisa nggak sampeyan kalau lewat dari jam 10 PM besok malam?” kata Jay.

“Haaa??? Malam amat! Ini mau motret siapa sich? Kok malem-malem gini toh?” kata Luigi masih terkejut.

“Itu lho, sampeyan diminta motret pasukan kita yang sedang patroli malam, dijamin deh anggota pasukan akan kelihatan lebih cantik dan gagah saat beraksi dimalam hari, apalagi kalau Pak Luigi yang motret, para prajurit pasti lebih bersemangat,” rayu Jay sambil tertawa.

“Oh begitu ya…” jawab Luigi sambil alisnya naik turun ngebayangin perkataan Jay.

“Iya, oke ya dijemput besok jam 8 PM dari rumah sampeyan. Nanti saya siapkan makan malam bersama bareng dengan para officers di Mess, itu loh di Accommodation-quarter kita, akan saya siapkan hidangan khas. You would be our special guest!” Jaykumise Meregehese menutup pembicaraan.

“Kebetulan saya malam besok nggak ada acara sih, boleh deh Mas Jay, saya di Reverview Compound. 8 PM sharp!” balas Luigi menutup telephone.

***

Rumah Luigi berada di Reverview Compund sebuah kawasan pemukiman untuk para staff PBB. Malam telah merayapi kota Monrovia, ibu kota Liberia yang sedang berkecamuk akibat perang saudara beberapa tahun yang lampau.

Selepas maghrib, Luigi telah bersiap-siap di depan rumahnya dan tepat jam 8 PM terdengar suara klakson mobil membahana memecahkan kuping terdengar di depan rumahnya.

“Beeep….beeeep….beeeep!” tiga kali klakson di tekan.

Luigi menghampiri mobil jemputan sebuah Jeep perang. Seraya menghormat ala tentara dan memberi salam, seorang perwira tinggi India yang turun dari mobil menyambutnya dengan khas logat Indian English yang sangat kental.

Good evening, Sir… My name is Captain Rakhee Shemanukdadalee, my commander has asked me to take you to the Indian FFPU Headquarters, we are ready to go when!” kata Captain Rakhee sigap.

Sepanjang perjalanan dari Riverview Compound menuju FFPU Headquarters, Luigi dan sang Captain berbicara ngalor-ngidul, sambil kedua telinga Luigi berjuang keras untuk mengerti bahasa Inggris Captain Shemanukdadalee dengan logat kental India, kentalnya seperti kuah kare. Sambil berbicara Luigi juga berusaha untuk tidak latah mengikuti kepala Captain Rakhee yang godeg-godeg saat ia berbicara.

Godeg-godeg itu maksudnya si kepala orang yang berbicara ikut bergoyang-goyang menggeleng ke kanan ke kiri seperti bandul jam ding-dong. Kemudian yang terjadi adalah Luigi malah ikut menggeleng-geleng kepalanya juga, bukan karena latah, tetapi berusaha untuk membaca bibir sang Captain. Apa nggak puising tuh orang ngomong sambil geleng-geleng kepala terus, batin Luigi cekikan dalam hati.

Akhirnya rombongan sampai juga ke tujuan dengan selamat. Kemudian Luigi dan Captain Rakhee turun dari kendaraan. Di gerbang pintu yang berportal ala tentara, Jaykumise Meregehese sang Deputy telah menjemput dengan senyuman yang sangat ramah memamerkan giginya yang putih berderet, mungkin bukan giginya yang terlampau putih tetapi wajahnya terlalu hitam. Husss jangan menghina orang!

Deputy Jay memberi salam kepada Luigi seraya menghormat. Di samping Pak Jay berdiri tegap dan gagah seorang polisi wanita yang menjaga pintu piket, Luigi sempat melirik polisi cewek India itu, walaupun masih berusaha menatap Pak Jay tetapi kepala Luigi masih sempat untuk menoleh melihat si Mbakyu Polisi India yang sedang berjaga, tetapi maaf, rupanya Luigi bukan melihat keayuan Polisi cewek itu yang mirip bintang Film itu, tetapi Luigi melihat senjata laras panjang yang disandang olehnya. Bedilnya itu serem amat!, Luigi membatin lagi.

Luigi kemudian diantar masuk ke dalam ruangan Officer Mess, benar saja seperti yang dijanjikan oleh Pak Jay, di dalam ruangan telah tersedia jamuan makan malam. Sayangnya dalam jamuan makan malam ini Luigi hanya ditemani oleh tiga perwira India selain Pak Jay. Kata Pak Jay para Polwan India sudah makan duluan, rupanya Pak Jay memahami raut wajah Luigi yang flamboyan khas Play boy.

“Ya sudahlah, kita makan tanpa wanita,” kata Luigi bercanda. Semua tertawa. Dan memang saat itu, jam makan reguler para prajurit telah lewat.

Ternyata makanan India itu sangat enak. Saking enaknya Luigi makan dengan bersemangat, selain itu memang sedari tadi Luigi sudah merasa lapar, maklum sehabis maghrib ia belum sempat menyantap apa-apa. Semua makanan masuk ke mulutnya, digoyang oleh lidahnya, sruuuuput, glek!

Saat itu Pak Jay menyodorkan tambahan makanan berupa lapapan ala India. Jangan dulu membayangkan lalapan khas Indonesia yang terdiri dari mentimun, daun selada hijau segar atau daun semangi dan kacang panjang. Lapapan mereka, adalah BAWANG. Betul, Luigi disodori sebuah bawang besar, sebesar bola tenis ukurannya. Kalau di kampung kita menyebutnya Bawang Bombay. Karena semua makanan yang disajikan berkuah dan berkari, maka Luigi pun dengan terpaksa mengunyah bawang bombai itu, terasa agak segar sewaktu menggigit bawang itu.

Saat itu dalam pikiran Luigi hanya menyantap makanan sampai tuntas, tancap terus! Katanya dalam hati. Urusan bau bawang, urusan belakangan. Luigi dan para perwira India larut dalam makanannya masing-masing, tetapi sebenarnya Luigi agak sedikit aneh menyaksikan perwira India yang sangat lahap menguyah bawang mentah itu seperti makan buah apel. Pokoknya, gila banget, eduuun man! Sorak batin Luigi hampir tersedak.

Selepas kekenyangan makan malam, suasana seketika menjadi heboh, tiba-tiba ada panggilan radio dari Unit Patroli FFPU dari luar sana. Suara di radio itu menjerit lantang semula dengan bahasa Inggris dan kemudian dengan bahasa India.

Mari kita simak isi panggilan radio tersebut.

Lima Two…Lima Two… reporting to Zulu Hotel, over….Crrrrk!”

Zulu Hotel, this is Lima Two please confirm your twenty, over ….!”

Nah setelah itu Luigi mendengar mereka berbicara dengan bahasa India beneran, telinga Luigi hanya bisa menangkap percakapan yang sering ia dengar dalam adegan film India kegemarannya. Eit, kata siapa ane suka film India, fitnah lu! Luigi menghardik.

Ini dia percakapan bahasa India yang terdengar.

Geleee..gleee…gleeee, acha-acha!”

Krecap gere mege rege geleee gleeee!”

Pokoknya begitu susah bagi Luigi untuk mengerti isi percakapan tersebut, sama susahnya dengan menangkap aksen Inggris India mereka.

Tidak lama kemudian setelah panggilan radio selesai, Luigi, beberapa perwira dan prajurit India bersiap diri dan langsung keluar dari Mess, sebuah Jeep dan mobil berlogo UN sudah menunggu di luar. Mereka menuju sebuah kawasan tempat pasukan FFPU melakukan patroli malam ini.

Celaka buat Luigi, selama di dalam kendaraan sepanjang perjalanan perutnya mulai berulah, Luigi merasakan perutnya bagaikan ayam yang ingin berkokok. Ini sebuah tanda bahwa dari perutnya akan melepaskan, memerdekakan GAS MAUT! Jelas ini akibat ia kebanyakan makan bawang Bombay.

“Kampret!” rutuk Luigi kepada dirinya sendiri. “Sumpah, berani mampus gua udah nggak tahan!” teriak Luigi dalam hati.

Dengan terpaksa sambil duduk agak menikung sedikit dan berpura-pura batuk serta sambil mengibas hidungnya seolah-olah mengenyahkan debu malam yang menerpa hidung, Luigi pelan-pelan membuang angin yang sudah tidak bisa dibendung lagi.

“Uhuuk…uhuuk…uhuukk!” mulut Luigi terbatuk-batuk, diikuti oleh bunyi: “Preeet!” yang tersamarkan. Keluarlah gas maut yang mematikan itu.

Masih belum puas, sambil kedua bola matanya berpura-pura melihat ke arah langit yang sedang terang benderang oleh bulan purnama, Luigi kembali mengulang trik batuknya dan terus membuang angin sialan yang tak tahu diri. Mungkin karena terlalu sering terbatuk-batuk palsu, tenggorakan Luigi malah menjadi iritasi beneran.

Dan sang Captain Shemanukdadalee yang sedari tadi melirik memperhatikan tingkah Luigi pun akhirnya bertanya.

“Sir, are you OK?” katanya sambil geleng-geleng.

“Oh… I am fine, thanks…. Just a sore throat,” kata Luigi ngeles.

Terpaksa Luigi berbohong. Walapun kemudian, suara batuk palsu Luigi terus berlangsung.

“Uhuk…uhuk! Preeeet!”

Luigi_patrol Bahkan sampai mereka telah tiba di lokasi Foot Patrol, kalau di Indonesiakan Foot Patrol adalah RONDA MALAM, Luigi masih terus mengeluarkan gas maut akibat kebanyakan makan bawang Bombay.

Sesekali apabila Luigi akan menghempaskan gas maut beraroma bawang, Luigi mengambil posisi barisan paling belakang, atau kalau kebetulan posisinya berada di depan pasukan, maka Luigi akan menjauh beberapa langkah dengan berlari kecil ke depan dan melepaskan tekanan gas yang tak mau kompromi. Gila sekali situasi ini, Luigi kembali mengutuk si bawang Bombay. “Gelo sia!” geramnya.

Namun demikian, terlepas dari permasalahan gas maut kentut Bombay, patroli malam ini sangat berkesan untuk Luigi, karena sepanjang patroli Luigi didampingi oleh Laksmi, salah seorang Patrol Leader cewek yang cantik, dan banyak informasi serta cerita pengalaman seru mereka saat bertugas di FFPU. Laksmi bercerita tentang prestasi mereka menangkap aksi kejahatan yang pernah terjadi beberapa minggu lalu di pinggiran kota Monrovia.

Ternyata ikut Ronda Malam sambil foto sana foto sini seru dan mengasyikan bagi Luigi, walaupun disertai dengan kentut bawang Bombay di sebuah Negara di Afrika Barat bernama Liberia.***

(Seperti yang diceritakan oleh Luigi Pralangga).Luigimonrovia_kids_1

Cerbung: TEMAN WANITAKU

Ada beberapa wanita yang dekat denganku sejak aku bercerai dengan Dewi, apalagi Astrid sangat mendukungku untuk segera mencari pengganti ibunya yang sekarang tinggal di Jerman. Astrid anakku terkadang ikut terlibat dalam proses pencarian calon ibunya. Tetapi terkadang aku merasa risih kepadanya, karena tidak semua wanita itu mempunyai rasa keibuan, sabar dan penyayang seperti sering ia lihat di tayangan sinetron televisi.

Nicky adalah seorang yang dekat denganku saat ini. Cewek berdarah campuran Manado dan Sunda ini adalah Sekretaris Marketing di tempatku bekerja. Nicky, cantik dan manis. Aku katakan cantik, karena wajahnya memang cakep untuk ukuran cewek berkepala tiga dan manis karena memandangnya tidak akan pernah bosan, kulitnya tidak putih namun tidak juga hitam, sawo matanglah. Rambutnya tebal dan panjang, di ujung rambutnya yang melambai ada sedikit gulungan-gulungan kecil yang membuatnya semakin modis.

Aku sendiri heran kenapa cewek secakep Nicky kini menjadi teman dekatku. Aku katakan masih teman dekat, karena kami belum berikrar untuk pacaran. Sepulang kerja sering kami habiskan waktu untuk sekedar makan malam bareng atau nonton film, atau saat libur kami sering jalan bareng di mall. Aku belum memperkenalkan Nicky kepada Astrid.

Malam ini Nicky mengajakku mampir ke rumahnya sebuah rumah mungil minimalis, dengan mengendarai mobilnya aku dan Nicky sudah berada di sebuah komplek perumahan di daerah Cibubur.

“Ayo turun, masuk dulu,” katanya setelah memarkirkan mobil di garasi rumahnya.

“Ada siapa saja di rumah ini?” tanyaku basa-basi sambil turun dari mobil.

“Hanya aku, sesekali adikku nginap di sini, sekarang dia kost dekat kampusnya,” Nicky menjawabku sambil membuka pintu rumahnya.

Pintu rumah terbuka, Nicky menyalakan lampu taman dan beberapa lampu lain di ruang tengah.

“Bam, kamu mau minum apa?” teriaknya dari dalam, aku masih terpaku duduk di sofa ruang tamu.

“Apa sajalah, asal jangan yang dingin!” balasku.

Tidak ada jawaban darinya. Aku mengitari ruang tamu Nicky dengan pandanganku. Ada sebuah lampu duduk di pojok ruangan, di atas meja kecil dekat lampu terdapat sebuah pesawat telephone dan sebuah vas bunga kecil. Sofa hanya tiga buah, dua buah berukuran sedang dan sebuah berukuran panjang. Meja terbuat dari besi tempa dengan kaca tebal hitam tidak terlalu besar di atasnya terdapat sebuah vas bunga segar. Karpet tebal berwarna hijau lumut bermotif bunga lotus menghiasi lantai keramik yang tampaknya selalu bersih dan sebuah pigura foto ukuran cukup besar, Nicky dan keluarga besarnya.

“Bam, teh manis hangat ya,” Nicky meletakkan secangkir teh di depanku. Kemudian ia mengambil posisi duduk di sofa panjang, ia masih mengenakan pakaian kerja tangannya memegang sebuah gelas besar.

“Kamu minum apa Nick?” tanyaku.

“Jus, jus strawberry, kamu mau?” balasnya memandangku sambil tersenyum. Aku menggeleng.

“Oya, rumahmu rapi banget, siapa yang ngurus?” tanyaku sambil menyeruput teh hangat buatan Nicky.

“Aku semua, semuanya aku yang urus, aku sudah terbiasa mengurus rumah sendiri, bahkan untuk urusan genting bocor aku tangani sendiri,” jelas Nicky. Aku tersenyum.

“Kenapa kamu tersenyum, gak percaya dengan omonganku ya?” tebaknya sambil mengibaskan rambutnya ke  sisi yang lain, wangi parfumnya menebar. Cantik, batinku. Ia tersenyum, kali ini manja.

“Aku percaya kok, masa sekretaris gak bisa ngurus rumah sendiri?” kataku.

Malam ini aku makan malam dengan masakan buatan Nicky. Aku tidak menyangka cewek seperti Nicky bisa memasak dan juga mengatur rumah dengan sangat rapi. Setahuku sebagai Sekretaris Marketing pekerjaannya sangat banyak dan memerlukan ketelitian dalam mengerjakan sesuatu hal. Aku semakin kagum dengan kepribadiannya.

“Bam, udah minum obat?” Nicky mengingatkan. Aku hanya mengangguk mengiyakan.

Kedekatan aku dengan Nicky berawal selesai aku di operasi. Ia dan beberapa staf Marketing membesukku di rumah sakit, waktu itu ia bertanya, siapa yang menjaga aku, tentu saja hanya Astrid yang menjagaku. Entah kenapa, keesokannya hampir setiap hari Nicky menengokku di Rumah Sakit dan Nicky selalu datang di saat Astrid sedang tidak bersamaku.

Setelah aku bisa bekerja lagi, Nicky sering mangajak makan siang bersama dan akhirnya kami sering jalan bersama.

“Bam, kamu masih suka menggambar?” pertanyaan Nicky yang tiba-tiba sempat membuatku sedikit gelagapan.

“Apa?”

“Kamu masih suka menggambar, melukis gitu?”

“Masih, kenapa?”

“Hmmm… kalau gambar suka gambar apa?”

“Akhir-akhir ini aku lebih suka menggambar ekspresi, ekspresi wajah orang. Sedih, gembira, melamun, menatap.”

“Gak gambar bunga?”

“Bunga?” aku berpikir. Rasanya aku belum pernah menggambar bunga, saat senggang aku memang suka menggambar, tetapi belum pernah aku menggambar bunga. Semua gambar lebih banyak gambar manusia dan ekspresinya atau gambar alam  dan suasana sebuah tempat, misalnya pasar.

“Boleh gak aku request?  kamu gambarin aku bunga,” suara Nicky memohon, sangat manja.

“Nick, kenapa bunga?”

“Aku suka bunga.”

“Bunga apa?”

“Semua bunga!”

“Jadi aku harus menggambar semua jenis bunga?” kataku terbelalak diikuti tawa. Nicky pun ikut tertawa.

Malam yang indah ini aku lalui dengan bercakap-cakap berbagai hal dengan Nicky. Percakapanku dengannya lebih di dominasi  dengan tema bunga. Seperti hatiku yang berbunga-bunga, menghabiskan malam bersama Nicky.

***

Nicky bukanlah satu-satunya wanita yang sedang dekat denganku saat ini. Ada Ratih, seorang terapis, seorang dokter dengan spesialis psikiatri. Dokter Ratih, sama seperti Nicky, wanita dengan usia telah melebihi kepala tiga, tidak cantik tetapi menarik. Tubuhnya tinggi melebihi tinggi badanku, kulitnya putih dan memakai kaca mata yang selalu berganti-ganti mode setiap aku bertemu dengannya.

Setelah menjalani operasi by pass jantung, aku juga mengikuti sejumlah terapi psikologi. Aku agak kurang siap menghadapi kenyataan yang menimpaku, harus mengatur hidup dengan sangat disiplin dan dengan berbagai jenis obat yang harus ku minum setiap hari. Aku sempat depresi, dan kemudian Zakky sahabatku merekomendasikan dokter Ratih.

Beberapa pertemuan terapi malah menjadi pertemuan rutin yang membuat aku menyukai Ratih. Ratih sangat sabar mendengar semua keluhanku dan ia juga sangat tegas, ia membimbingku dengan memberikan teori-teori psikologi praktis yang membuat aku termotivasi. Beberapa kali juga ia menemaniku untuk mengikuti pertemuan-pertemuan penderita gagal jantung atau penyakit-penyakit berat lainnya, ternyata penderitaanku tidak ada apa-apanya dibandingkan penderita Lupus, atau juga Leukimia seperti yang diderita oleh Zakky. 

Pagi ini aku harus bertemu Ratih, ada yang akan aku sampaikan kepadanya, sebuah mimpi. Aku sangat terganggu dengan mimpi itu, aku pikir aku akan curhat kepadanya.

Bersambung…