
Penulis obituari, itulah pekerjaan ayahku. Pekerjaan yang membuatnya sangat terkenal di kota sekecil ini. Bagaimana ayah tidak terkenal, hampir setiap hari pasti ada orang mati. Nah, itulah yang membuatnya terkenal, kematian.
Ayah adalah penulis lepas yang dipercayakan oleh redaksi koran lokal di kota ini untuk mengisi sekaligus memanfaatkan rubrik khusus obituari. Menulis obituari, adalah menulis berita tentang kematian seseorang berikut riwayat hidupnya. Itulah yang dilakukannya setiap hari. Awalnya, ayah sendiri yang mencari informasi tentang berita kematian seseorang, melakukan interview dengan keluarga untuk mendapatkan catatan riwayat hidup, pekerjaan terakhir, keluarga atau prestasi dari orang yang telah meninggal itu.
Namun dengan berkembangnya waktu, ayah semakin terkenal. Semula pekerjaan tersebut dilakukannya dengan santai dan sambil lalu, sekarang tidak lagi. Dalam sehari ayah bisa melakukan interview dengan keluarga atau kerabat orang yang mati sampai tiga kali. Dulu dia mengetik berita kematian itu dengan mesin ketik manual, yang bisa membuat aku tidak bisa tidur karena mendengar suara ketak ketik yang ditimbulkan oleh mesin ketik. Sekarang sudah berubah, ayah menggunakan komputer. Pekerjaan ini sudah digelutinya dengan serius.
Aku sebagai anaknya menjadi ikut terkenal. Tapi aku tidak suka menjadi terkenal karena ayah. Di sekolah teman-temanku sering bertanya, dan pertanyaan itu yang aku anggap sebagai penghinaan buatku.
“Pras, hari ini siapa yang mati?” begitu pertanyaan teman-temanku setiap hari. Padahal mereka tidak perlu bertanya padaku. Tinggal baca Koran habis perkara siapa yang mati hari ini.
Suatu hari saat aku pulang sekolah, tiba-tiba aku ditonjok oleh seorang perempuan sebaya denganku. Anak perempuan itu begitu geram dan benci melihatku.
“Hai Pras! Bilang sama bapakmu, kalau buat berita yang benar, jangan bohongin orang!” teriak anak perempuan itu sambil berkacak pinggang. Kalau saja dia bukan perempuan, aku sudah tonjok balik.
Sambil memegang bibirku yang ngilu aku bertanya,”Memang ada apa dengan berita yang ditulis bapakku?”
“Bapakmu menulis berita bohong!” anak itu melemparkan aku sebuah Koran dan dia pergi berlalu.
***
Malam hari saat selesai makan malam, aku protes keras ke ayah. Koran yang dilempar oleh anak perempuan tadi aku sodorkan ke ayah.
“Yah, kenapa ayah menulis berita orang itu?” kataku sambil menunjukkan foto dibagian obituari.
“Oh, itu Pak Manaf, dia seorang pengusaha. Memangnya ada apa?” ayah memegang Koran itu sambil memperhatikan foto mendiang Pak Manaf dan ayah tersenyum.
“Kenapa ayah tersenyum? Ayah pasti menyembunyikan sesuatu,” kejarku. Ibu dan dua adikku hanya memperhatikan percakapan kami. Aku dan ayah memang terbiasa berdiskusi, soal apa saja. Tetapi kali ini aku sedang tidak berdiskusi dengannya.
“Pak Manaf itu pengusaha kaya. Sebenarnya ayah menulis almarhum karena permintaan keluarganya. Beliau itu masih bersaudara dengan pak Bupati,” ayah menarik nafas, matanya masih tertuju ke foto Pak Manaf.
“Lalu?” tanyaku tak sabar.
“Pras, kadang-kadang ayah harus berbohong untuk menulis berita,” lanjut ayah.
“Selama ini ayah mengajarkan kami bahwa bohong itu dosa, kenapa justru ayah yang berbohong?” balasku sengit.
“Ayah mengerti, tetapi terkadang kebohongan ini ayah tujukan untuk membahagiakan keluarga yang ditinggalkan oleh orang yang meninggal. Contohnya Pak Manaf itu, dalam berita ayah tulis ia meninggalkan seorang istri dengan empat orang anak. Dan ayah menyembunyikan tiga istrinya dan anak-anaknya yang lain.”
Terjawab sudah pertanyaanku. Wajar aku ditonjok oleh anak perempuan itu, pasti dia salah satu anak dari istri-istri Pak Manaf yang tidak disebutkan ayah di Koran. Karena aku anak penulis obituari, maka aku yang kena getahnya. Hal seperti ini yang aku tidak suka atas ketenaran ayah.
Dalam menulis obitiari ayah tidak memilih-milih orang, siapa saja ayah akan tulis, mulai dari hanya seorang tukang becak yang meninggal di atas becaknya, seorang pegawai negeri dengan jabatan paling rendah, sampai keluarga dan kerabat pengusaha atau pejabat kota, seperti Pak Manaf pengusaha yang masih kerabatnya Pak Bupati. Itulah maka ayah menjadi sangat tekenal, orang-orang memanggilnya dengan sebutan Pak Jurnalis.
***
Akhir-akhir ini aku melihat ayah lebih banyak di rumah. Paling sesekali beliau pergi ke warung depan rumah untuk beli rokok. Ada perubahan diraut wajah ayah. Wajahnya tampak sering muram. Mungkin ibu juga tahu perubahan ayah, tetapi ibuku lebih banyak diam tidak bertanya.
Sambil bercanda disuatu sore aku bertanya kepada ayah.
“Yah, kok ayah sering tampak murung dan lebih banyak di rumah? Sudah tidak ada orang meninggal ya,” candaku.
“Orang mati itu setiap hari Pras. Selama rubrik obituari muncul di Koran sama artinya setiap hari ada yang orang mati,” jawab ayah singkat.
“Tidak seperti biasa saja, ayah banyak diam,” lanjutku penasaran ingin mengetahui keadaan ayahku saat ini.
Ayah kemudian akhirnya bercerita. Bahwa beliau kalau bertemu dengan orang, orang tersebut pasti menghindar. Padahal kata ayah, ayah hanya ingin bertegur sapa saja ketika mereka bertemu di jalan. Masih kata ayah, telah beredar kabar orang yang bertemu dengan ayah keesokan harinya meninggal. Aku sangat tidak paham.
Rupanya orang-orang tidak mau bertemu dan bertegur sapa dengan ayah karena takut akan terjadi sesuatu yang mereka tidak harapkan, yaitu kematian. Saking seringnya ayah mewawancarai keluarga orang yang meninggal, orang-orang jadi sangat percaya bahwa ayah bisa mengetahui nasib orang tersebut.
Makanya ayah sering di rumah, dari pada kehadiran ayah di masyarakat mengganggu ayah sekarang sudah jarang menghadiri pertemuan-pertemuan desa atau kota. Agar orang merasa nyaman. Itu alasan ayah mengakhiri pembicaraan denganku sore itu.
Aneh sekali, kenapa orang menganggap ayahku seperti cenayang? Memangnya karena ayah sering bercerita tentang seseorang yang telah mati terus dia akan tahu hari kematian seseorang? Aku tidak habis pikir.
***

Hari ini, tidak ada tulisan obituari di Koran lokal kota ini. Semua warga kota kecil ini bertanya-tanya apakah sudah tidak ada yang mati?
Halaman rumahku saat ini penuh dengan orang-orang, semuanya kerabat ayah, mulai dari tukang sampah, pemilik warung rokok , camat dan bupati. Mereka semua berwajah sedih sepertiku.
Pagi ini aku, Ibu dan kedua adikku sedang menangis di depan jenazah ayah. Tadi malam menjelang subuh ayah meninggal dunia, pagi ini tidak ada yang menulis obituari untuknya.
Terngiang di kupingku. “Pras! Hari ini siapa yang mati?”
“Ayahku,” jawabku berlinang.
Tidak ada lagi yang menulis obituari di koran kota, aku berharap suatu hari nanti aku akan menulis obituari untuk ayah.***
Cerpen ini terinspirasi dari sebuah Cerpen dengan judul NISTAGMUS karya Danarto yang dimuat dalam Buku Kumpulan Cerpen KOMPAS Pilihan tahun 2005-2006