PLAY GROUP TERPAKSA BUBAR
“Ayo dong nyanyi,” pinta seorang anak kecil gendut yang sedang berdiri persis di depanku. Anak itu memintaku bernyanyi sambil menggoyang-goyang tanganku.
Spontan tanganku menipis tangannya, tentunya dengan lembut. Karena aku melihat anak-anak kecil lainnya sudah tidak sabar juga untuk meminta.
“Jangan nyanyi, mending joget aja!” teriak anak kecil lainnya, sambil menahan tawa. Geli sekali melihatnya, aku hampir tertawa lepas melihat anak itu menahan tawa, mimiknya menjadi lucu.
Akhirnya aku menengahi, aku bernyanyi sambil berjoget. Aku sendiri tidak tahu aku sudah menyanyikan berapa lagu, mungkin banyak lagu dangdutnya, karena aku juga sibuk berjoget menyenangkan anak-anak kecil yang sedang mengelilingiku.
Capek juga. Aku berhenti bernyanyi dan diam sejenak. Anak-anak juga mendadak diam, lalu aku tersenyum ke arah anak-anak itu.
“Lagi dong, lagi dong nyanyinya,” pinta anak perempuan dengan kucir dua. Temannya yang lain menimpali. “Iya, lagi dong!” Sejurus kemudian menggema suara-suara anak-anak itu. Lagi, lagi, lagi, lagi, lagi sorai mereka kegirangan. Aku salah tingkah.
Aku tersenyum lagi menatap anak itu. Anak berkucir dua itu tersenyum dan kemudian tertawa melihatku.
Merasa tidak tega kemudian aku beryanyi lagi untuk menghibur sekitar 10 orang anak-anak kampung yang sedang mengerubungiku membuat lingkaran. Tentu aku sambil berjoget. Kali ini gerakan break dance, tadi aku berjoget dengan gaya tari India. Senangnya, tapi capeknya minta ampun.
Tiba-tiba dari arah belakang, seseorang berteriak keras. Itu suara ayahku.
“Sudah-sudah… bubar-bubaaar. Bubar!” teriak ayahku mengagetkan aku.
Sontak anak-anak kecil itu berlarian ketakutan. Hanya dalam hitungan detik batang hidung mereka lenyap.
Aku sekarang sendirian, ayah kemudian memegang tanganku dengan kasar dan menarik aku berjalan cepat melewati jalanan kampung. Aku menangis meraung-raung. Aku sedih, karena sebagai guru play group kelasku dibubarkan begitu saja oleh ayah.
Sambil mengikuti ayah. Aku sempat mendengar seorang ibu berbincang dengan ibu lainnnya. “kasihan ya si Atun, makin hari makin gila saja.”
“Padahal Atun tadinya anak yang baik, cantik lagi. Sekarang dia menjadi gila,” lanjut seorang ibu sambil memandangku iba.
Aku memandang ibu-ibu itu sambil menjulurkan lidah. “Weeeek!” Aku melanjutkan tangisku***
February 9th, 2008 at 12:26 am
aduh, kaget baca endingnya…
February 9th, 2008 at 1:14 am
wadhuh…msh speechless euy…pesan apa yg kang bamby ingin sampaikan? saya pikir pengungkapanany kurang kuat kang…atau cerita ini belum selesai? tentu saja itu hny pandangan subjektif saya. hehe…
February 9th, 2008 at 3:25 am
Mas Bamby, apa yang menarik ditulisan ini, juga tulisan sebelum ini ? endingnya diluar dugaan….dan menggigit..hehe. Oke..gini, mental Ima dah siap untuk sesuatu yang akan terjadi sesuai dengan alur cerita, tapi Ima “ketipu” dengan ending cerita… Jarang orang bisa nulis seperti itu. Dan Ima..? terus terang nyerah…Ima gak bisa. Dimana letak menariknya..? Mas Bamby berhasil menyusun sebuah cerita yang kocak, tanpa yang baca harus tertawa terbahak2, yang pasti…terkesan…hehe.
Intinya…Ima terkesan. Sama seperti “under pressure”.
February 9th, 2008 at 7:53 pm
Sepulang dari tempat kerja, saya sempat berpapasan dengan seorang wanita (maaf terganggu mentalnya, atau kata orang dia “gila”), dia sedang dikerubuti anak-anak bahkan ada yg memperlakukan kasar, seperti melemparnya dengan batu. Tetapi wanita gila itu hanya tertawa dan terus bernyanyi.
Saya berpikir, dalam “alam gila” wanita tersebut kalau diceritakan seperti itu. Pasti orang gila memiliki alam baawah sadar sendiri, sehingga mereka terkadang, menangis atau tertawa sendiri.
Begitulah kira-kira pesannya kang Wija. Trism komennya.
February 10th, 2008 at 8:04 am
eris setuju dengan mas bamby orang gila memang punya alam bawah sadar sendiri.. ini menggambarkan tentang seseorang yang penuh dengan daya khayal yang terlalu tinggi sehingga di luar batas kemampuan otaknya….sehingga dia merasa apa yang di lakukannya itu benar..
sbenernya sih mreka normal kaya kita..punya naluri untuk makan..minum..rasa capek dan lelah….hanya saja mreka punya kekuatan tersendiri ..justru orang yang seperti ini selalu berfikiran positif thingking .
mreka sering makan makanan yang ada di tong sampah (makanan basi) tapi toh mreka sehat sehat aja!!
bukankah itu suatu keajaiban??
atau suatu kelebihan..
justru menurut saya cerita ini sangat bagus untuk di angkat dimana punya pesan tersembunyi..bahwa sebenarnya manusia punya batas dan kemampuan…
February 11th, 2008 at 3:18 pm
makna yang bisa diambil tiap orang untuk setiap tulisan mungkin aja ngga selalu sama. misalnya saya, klo selama ini bertemu dengan mereka yg agak “unik” seperti itu, hanya kesan selintas lalu yang ada, sekarang ini saya jadi mulai berpikir “apa ya yang sebenarnya sedang dia rasa?”…
Wah… cerita singkat itu masih sangat mungkin diperluas dalam banyaaak cerita baru yang berbeda…
February 17th, 2008 at 10:01 am
Trms atas komen on my comment kang bamby. Hehe…