Cerita : DI ATAS DUNIA
Prolog
Aku menendang 
tubuh yang tergolek di tanah becek ini, aku pastikan tubuh itu tidak bergerak lagi, tidak bernyawa lagi. Dan memang darah segar mengucur deras dari batok kepala Sinichi Nakamura.
Sebuah peluru yang tadi kumuntahkan dari pistol, benar-benar telah membuat Sinichi keparat itu tidak bernyawa. Aku mencium ujung moncong pistol, masih panas, bau mesiu sisa tembakan tadi membuat seluruh tubuhku terpanggang gairah.
Sekali lagi aku tendang tubuh Sinichi Nakamura. Aku sedikit merapikan posisi krah jaketku, selesai tugas pemburuanku untuk saat ini.
***
Pagi ini, musim semi di kota Tokyo, aku buru-buru masuk kesebuah taxi yang telah menunggu di depan apartemenku. Tujuanku bandara Narita.
Perkenalkan namaku, Takeshi Watanabe, biasanya orang-orang memanggilku dengan Abe, itupun kalau mereka sudah sangat akrab denganku. Aku, juga memiliki beberapa nama lain, nanti akan aku ceritakan kenapa aku memiliki nama lain.
Aku mempunyai seorang istri dan dua orang anak, tapi itu dulu. Sudah lama sekali. Aku sendiri sudah lama melupakan mereka.
Taxi sudah melewati kawasan Ginza City, distrik paling terkenal di Tokyo, juga di seluruh dunia, kalau New York memiliki Time Square, maka Tokyo punya Ginza. Udara musim semi membuat seluruh jalanan penuh dengan orang-orang berjalan kaki, semuanya tertib.
Aku melirik jam tangan, dua jam lagi aku akan terbang ke Vietnam.
***
KENANGAN MUSIM SEMI DI ASAKUSA
Tokyo. Musim semi. Aku masih duduk di jok taxi yang akan membawaku ke Bandara Narita. Tujuanku Vietnam, ada pekerjaan yang harus aku lakukan di sana.
Badanku masih sedikit lebam, dan bibirku ada sisa darah kering. Pertempuranku semalam dengan Sinichi Nakamura menyisakan kepenatan yang cukup menyiksa. Tapi hatiku sangat tentram, jahanam itu sudah mati dengan kepala berlubang peluru. Aku tersenyum kecut.
Taxi terus melaju membelah jalanan kota Tokyo, memasuki kawasan tua Asakusa Tample. Perjalananku tersendat. Banyaknya pejalan kaki menghambat laju taxi. Sopir sesekali mebunyikan klakson. Orang-orang seperti berebutan untuk masuk kuil tertua di Jepang. Di kuil besar ini, dulu setiap hari minggu aku menghabiskan waktuku bersama Kiyoko istriku, Naomi anak pertamaku perempuan dan Hiro anak keduaku laki-laki.
***
Pikiranku menerawang di tengah kemacetan.
“Papa, Naomi ingin berdoa agar papa selalu sayang sama Naomi dan Hiro,” ujar Naomi ketika kami memasuki kuil ini melalui sebuah pintu besar. Pintu besar itu bernama Kaminarimon, menjadi pintu utama untuk masuk ke dalam komplek Asakusa Kannon Temple.
Aku tersenyum, memandang Naomi, istriku juga tersenyum. Cantik sekali, Kiyoko memakai Yukata, baju tradisional yang menurutku sudah ketinggalan jaman. Tetapi tidak buat Kiyoko, dia sangat menyukai hal-hal yang berbau tradisional. Termasuk mamakai kimono saat di rumah.
“Mamamu tidak kamu do’akan juga sayang, masak papa saja?” balas istriku sambil mengusap rambut Naomi.
“Hi hi, mama itu suka iri kalau aku hanya berdoa untuk papa saja, iya deh mama pasti Naomi do’akan juga,” jawab Naomi dengan jenaka. Kami tertawa bersama. Hiro yang belum bisa bicara ikut-ikutan tertawa, dia merasakan aura kebahagiaan.
Keluarga. Aku tertegun, taxi belum bergerak juga. Pikiranku kembali melayang ke masa lalu bukan masa yang sedang aku jalani saat ini.
Aku, Kioko dan Naomi sudah berada di dalam kuil, banyak sekali orang, Kiyoko mengangkat Hiro dalam gendongan. Kami langsung menuju altar do’a, dupa kami nyalakan dan do’a kami panjatkan. Suasana begitu tenang. Naomi sangat serius, kedua matanya dipejamkan, mulutnya berkomat-kamit. Lucu sekali mimiknya.
Kami menuju kesebuah sumur, airnya menurut para lelehur berkhasiat. Entah apa khasiatnya, aku meminumnya hanya mengikuti tradisi saja. Hiro sangat senang, dia lebih senang di sumur, di altar terlalu banyak asap dupa.
“Pa, kita mau ke Sensoji Temple?” Tanya istriku. Aku memandang sebuah bangunan besar yang juga berada di area Asakusa Kannon Temple tidak jauh dari sumur. Aku mengangguk.
Dua jam tidak terasa, kami mengelilingi seluruh areal kuil. Semakin siang semakin banyak orang yang datang. Beberapa rombongan turis asing juga melakukan hal yang sama dengan warga lokal, membakar dupa dan meminum air dari sumur berkhasiat. Pemandangan yang sangat lucu. Apakah Tuhan kami akan mengabulkan do’a dan permohonan mereka juga. Aku kembali tersenyum sendiri.
“Sekarang kita cari makan dulu, mau makan dimana?” tanyaku memandang Naomi dan Kiyoko. “Terserah papa deh,” kata Kiyoko, Naomi langsung menyebutkan sebuah nama restoran.
Kami bergandengan tangan meninggalkan kuil, menuju parkiran mobil melalui pintu keluar. Sebuah pintu yang bernama Hozomon.
Kebersamaan dan kehangatan dalam lamunanku buyar. Taxi melaju kencang. Brengsek! Kenapa aku hanyut dalam kenangan melankolis seperti ini! Makiku. Takeshi Watanabe dengan seorang istri cantik dan dua anak sudah lama mati. Aku Abe, manusia tanpa hati.
***
Sebentar lagi taxi memasuki Narita, bandara yang terletak di sebuah wilayah di sebelah timur kota Tokyo. Taxi melewati Hotel Nikko, aku sudah berada di jalan Chiba. 10 menit lagi aku akan sampai di Bandara.
Perjalanku dengan 
taxi rupanya tidak semulus yang aku harapkan. Di depan pintu masuk Bandara Narita, terjadi antrian panjang mobil yang hendak masuk. Polisi terlihat memeriksa kendaraan satu per satu, seorang petugas memeriksa bagian bagasi mobil dan seorang lagi meminta identitas seluruh penumpang mobil.
Naluriku mulai berkata, situasi tidak baik untukku. Aku cepat-cepat keluar dari Taxi. Sopir taxi tidak senang dan curiga dengan tindakanku.***
Bersambung…



