Bamby Menulis

Tentang pikiran, rasa, pengalaman hidup dan imajinasi

Archive for February, 2008


Cerita : DI ATAS DUNIA

Prolog

Aku menendang Aktor_japan_ken
tubuh yang tergolek di tanah becek ini, aku pastikan tubuh itu tidak bergerak lagi, tidak bernyawa lagi. Dan memang darah segar mengucur deras dari batok kepala Sinichi Nakamura.

Sebuah peluru yang tadi kumuntahkan dari pistol, benar-benar telah membuat Sinichi keparat itu tidak bernyawa. Aku mencium ujung moncong pistol, masih panas, bau mesiu sisa tembakan tadi membuat seluruh tubuhku terpanggang gairah.

Sekali lagi aku tendang tubuh Sinichi Nakamura. Aku sedikit merapikan posisi krah jaketku, selesai tugas pemburuanku untuk saat ini.

***

Pagi ini, musim semi di kota Tokyo, aku buru-buru masuk kesebuah taxi yang telah menunggu di depan apartemenku. Tujuanku bandara Narita.

Perkenalkan namaku, Takeshi Watanabe, biasanya orang-orang memanggilku dengan Abe, itupun kalau mereka sudah sangat akrab denganku. Aku, juga memiliki beberapa nama lain, nanti akan aku ceritakan kenapa aku memiliki nama lain.

Aku mempunyai seorang istri dan dua orang anak, tapi itu dulu. Sudah lama sekali. Aku sendiri sudah lama melupakan mereka.

Taxi sudah melewati kawasan Ginza City, distrik paling terkenal di Tokyo, juga di seluruh dunia, kalau New York memiliki Time Square, maka Tokyo punya Ginza. Udara musim semi membuat seluruh jalanan penuh dengan orang-orang berjalan kaki, semuanya tertib.

Aku melirik jam tangan, dua jam lagi aku akan terbang ke Vietnam.

***

KENANGAN MUSIM SEMI DI ASAKUSA

Tokyo. Musim semi. Aku masih duduk di jok taxi yang akan membawaku ke Bandara Narita. Tujuanku Vietnam, ada pekerjaan yang harus aku lakukan di sana.

Badanku masih sedikit lebam, dan bibirku ada sisa darah kering. Pertempuranku semalam dengan Sinichi Nakamura menyisakan kepenatan yang cukup menyiksa. Tapi hatiku sangat tentram, jahanam itu sudah mati dengan kepala berlubang peluru. Aku tersenyum kecut.

Taxi terus melaju membelah jalanan kota Tokyo, memasuki kawasan tua Asakusa Tample. Perjalananku tersendat. Banyaknya pejalan kaki menghambat laju taxi. Sopir sesekali mebunyikan klakson. Orang-orang seperti berebutan untuk masuk kuil tertua di Jepang. Di kuil besar ini, dulu setiap hari minggu aku menghabiskan waktuku bersama Kiyoko istriku, Naomi anak pertamaku perempuan dan Hiro anak keduaku laki-laki.

***

Asakusa_kuil_jepang_1

Pikiranku menerawang di tengah kemacetan.

“Papa, Naomi ingin berdoa agar papa selalu sayang sama Naomi dan Hiro,” ujar Naomi ketika kami memasuki kuil ini melalui sebuah pintu besar. Pintu besar itu bernama Kaminarimon, menjadi pintu utama untuk masuk ke dalam komplek Asakusa Kannon Temple.

Aku tersenyum, memandang Naomi, istriku juga tersenyum. Cantik sekali, Kiyoko memakai Yukata, baju tradisional yang menurutku sudah ketinggalan jaman. Tetapi tidak buat Kiyoko, dia sangat menyukai hal-hal yang berbau tradisional. Termasuk mamakai kimono saat di rumah.

“Mamamu tidak kamu do’akan juga sayang, masak papa saja?” balas istriku sambil mengusap rambut Naomi. 

“Hi hi, mama itu suka iri kalau aku hanya berdoa untuk papa saja, iya deh mama pasti Naomi do’akan juga,” jawab Naomi dengan jenaka. Kami tertawa bersama. Hiro yang belum bisa bicara ikut-ikutan tertawa, dia merasakan aura kebahagiaan.

Keluarga. Aku tertegun, taxi belum bergerak juga. Pikiranku kembali melayang ke masa lalu bukan masa yang sedang aku jalani saat ini.

Aku, Kioko dan Naomi sudah berada di dalam kuil, banyak sekali orang, Kiyoko mengangkat Hiro dalam gendongan. Kami langsung menuju altar do’a, dupa kami nyalakan dan do’a kami panjatkan. Suasana begitu tenang. Naomi sangat serius, kedua matanya dipejamkan, mulutnya berkomat-kamit. Lucu sekali mimiknya.

Kami menuju kesebuah sumur, airnya menurut para lelehur berkhasiat. Entah apa khasiatnya, aku meminumnya hanya mengikuti tradisi saja. Hiro sangat senang, dia lebih senang di sumur, di altar terlalu banyak asap dupa.

“Pa, kita mau ke Sensoji Temple?” Tanya istriku. Aku memandang sebuah bangunan besar yang juga berada di area Asakusa Kannon Temple tidak jauh dari sumur. Aku mengangguk.

Dua jam tidak terasa, kami mengelilingi seluruh areal kuil. Semakin siang semakin banyak orang yang datang. Beberapa rombongan turis asing juga melakukan hal yang sama dengan warga lokal, membakar dupa dan meminum air dari sumur berkhasiat. Pemandangan yang sangat lucu. Apakah Tuhan kami akan mengabulkan do’a dan permohonan mereka juga. Aku kembali tersenyum sendiri.

“Sekarang kita cari makan dulu, mau makan dimana?” tanyaku memandang Naomi dan Kiyoko. “Terserah papa deh,” kata Kiyoko, Naomi langsung menyebutkan sebuah nama restoran.

Kami bergandengan tangan meninggalkan kuil, menuju parkiran mobil melalui pintu keluar. Sebuah pintu yang bernama Hozomon.

Kebersamaan dan kehangatan dalam lamunanku buyar. Taxi melaju kencang. Brengsek! Kenapa aku hanyut dalam kenangan melankolis seperti ini! Makiku. Takeshi Watanabe dengan seorang istri cantik dan dua anak sudah lama mati. Aku Abe, manusia tanpa hati.

***

Sebentar lagi taxi memasuki Narita, bandara yang terletak di sebuah wilayah di sebelah timur kota Tokyo. Taxi melewati Hotel Nikko, aku sudah berada di jalan Chiba. 10 menit lagi aku akan sampai di Bandara.

Perjalanku dengan Japan_police
taxi rupanya tidak semulus yang aku harapkan. Di depan pintu masuk Bandara Narita, terjadi antrian panjang mobil yang hendak masuk. Polisi terlihat memeriksa kendaraan satu per satu, seorang petugas memeriksa bagian bagasi mobil dan seorang lagi meminta identitas seluruh penumpang mobil.

Naluriku mulai berkata, situasi tidak baik untukku. Aku cepat-cepat keluar dari Taxi. Sopir taxi tidak senang dan curiga dengan tindakanku.***

Bersambung…

Cerita: CELANA DALAM SUAMIKU

Istri_dan_suami Akhir-akhir ini aku melihat suamiku sangat aneh. Aneh dalam pengertian tingkah laku dan gelagatnya. Setahun menikah dengannya baru kali ini aku melihat keanehan pada dirinya.

Suamiku sekarang menjadi lebih lama kalau berada di dalam kamar mandi. Terkadang setelah aku gedor pintu kamar mandi, barulah dia buru-buru membuka pintu dengan rambut yang masih basah sambil menghanduki tubuhnya.

"Kok lama banget sih mas?" tanyaku kesal sambil masuk ke kamar mandi. Dia tidak menjawab, aku kemudian mengunci kamar mandi.

Itu keanehannya yang pertama untukku. Mandi lama. Keanehan yang lain, saat kami berdua menunaikan kegiatan suami istri. Dia selalu memberikan aku pakaian dalam model lingerie, setelah itu kami bercinta. Dia selalu puas, akupun demikian. Tapi setelah itu aku tidak menemukan lagi lingerie yang dia suruh pakai.

"Mas, kemana lingerie yang kamu berikan ke aku?" tanyaku penasaran, karena sudah beberapa hari ini aku tidak melihat dalam lemari pakaian kami.

"Lho, bukannya kamu yang nyimpan," jawabnya singkat. "Mungkin terselip saat mba Pur selesai mencucinya," dia menegaskan sambil wajahnya dipalingkan ke arah belakang rumah kami, Mba Pur adalah pembantu kami yang datang pagi pulang sore untuk mengerjakan pekerjaan rumah memasak, mencuci dan bersih-bersih rumah.

Aku sendiri untuk urusan pekerjaan rumah tidak terlalu ambil pusing, pekerjaanku di kantor terkadang sudah membuatku pusing dan terbawa ke rumah.

Itu keanehan kedua, memberiku lingerie saat bercinta. Keanehan yang lain, saat kami berjalan di mall, dia suka sekali ke counter pakaian dalam wanita. Jangan-jangan dia punya selingkuhan? Dia akan memberikan wanita selingkuhan dia pakaian dalam, tentu semua wanita akan senang menerima pakaian dalam dari seorang laki-laki seganteng suamiku. Aku mulai curiga.

***

Terus terang kecurigaan cukup beralasan, dari aku kenal dia, suamiku adalah tipe laki-laki romantis. Teman-temannya kebanyakan wanita. Aku  mulai dibakar cemburu.

“Coba, kamu tanya baik-baik kenapa ada perubahan sikap dengan dirinya,” begitu nasehat seorang sahabat. Tapi aku malah makin yakin suamiku selinggkuh. Awas kalau dia selingkuh aku hajar dia, batinku geram.

Pada akhirnya, suatu sore di hari Minggu. Suamiku hanya memakai celana pendek sambil membaca Koran sore di ruang tamu sambil minum secangkir kopi buatanku. Tiba-tiba, entah kenapa cangkir kopi jatuh dari genggamannya. Suamiku langsung membungkuk untuk mengambil cangkir kopi yang jatuh di atas karpet.

Aku terkesiap, pinggul bagian belakang suamiku terlihat karena dia hanya memakai kaos oblong. Aku kaget setengah mati, aku melihat celana dalam suamiku berwarna pink dan berenda.

Aku berteriak. "Mas, kamu…..?"Wanita_bersedih

Rupanya dia sadar dan berkata,"aku memang suka memakai celana dalam wanita." Datar sekali  suaranya dan penuh penyesalan. Aku hanya mengusap kepalanya. Aku tetap sayang kamu mas, batinku sedih.***

P.S: Cerita ini pernah di posting di sebuah situs komunitas penulis dengan nama samaran

CERITA LEWAT E-MAIL

Kamu menangis sampai seluruh wajahmu memerah. Sambil meremas kertas-kertas yang berserakan di meja kerjamu, kamu umbar kesedihanmu lewat tangisan.

Kamu menangis, mengunci dirimu di dalam ruang kerjamu yang mewah dan harum bunga lavender kesukaanmu. Agar anak buahmu tidak tahu kalau kamu sedang menangis, hanya karena seorang anak kecil yang menemuimu.

Semua berawal saat sebuah proyek besar di kantormu yang dipercayakan kepadamu.

“Maria, saya mempercayakan proyek besar ini kepada kamu,” begitu hasil keputusan rapat yang langsung dipimpin oleh pemilik perusahaan tempat kamu bekerja. Pak Gondo, Sugondo Nitimiharjo, nama lengkap bossmu.

Kamu seorang yang terlalu sempurna. Orang selalu melihat kamu sempurna, karena memang hasil pekerjaanmu sempurna nyaris tidak ada cacat. Kamu juga secara fisik sempurna, cantik, tinggi, berbadan seksi dan selalu harum.

“Oke, saya sanggup mengerjakan proyek ini,” jawabmu penuh optimis. Jawabanmu mendapat sambutan dengan tepuk tangan seluruh peserta rapat. Seperti biasa Pak Gondo mangut-mangut, beliau seperti melihat anaknya sedang meraih kesuksesan.

Setelah itu, kamu mulai menyusun rencana untuk mengerjakan proyek besar ini. Pembangunan sebuah Apartement mewah di sebuah kawasan di bilangan Jakarta Selatan.Semuanya berjalan lancar di awal, sampai kemudian.

“Bu Maria, ada yang ingin bertemu dengan ibu,” Sekretarismu menelponmu. “Siapa?”katamu sambil tetap melihat gambar rancang bangun proyekmu.

“Seorang anak kecil bu,” jawab sekretarismu. Kamu tentu saja kaget, kenapa ada anak kecil ingin bertemu denganmu.

“Suruh dia masuk!” kamu meletakkan gagang telephone pada tempatnya.

Sesaat kemudian di depanmu telah berdiri seorang anak kecil perempuan, umurnya kira-kira enam tahun. Rambutnya sebahu dan hanya memakai sandal jepit. Kucel banget anak ini, batinmu. Kamu lalu mempersilakan dia duduk.

“Ade, mau ketemu dengan saya, ada apa?” tanyamu masih menyimpan keheranan.

“Nama saya Fiona bu,” kata anak itu dan tidak menjawab pertanyaanmu.

Kamu agak tidak sabaran. “Iya, ada apa kamu ke kantor ini,” kamu ganti pertanyaanmu.

Tanpa diminta Fiona, mulai bercerita tentang kedatangan dia menemuimu. Cerita Fiona rupanya menarik perhatianmu, wajahmu serius mendengarkannya. Sampai pada akhir cerita kamu tercekat, tiba-tiba kamu sangat merasa bersalah. Sesuatu yang jarang kamu lakukan, merasa bersalah.

Kamu mulai merasa bersalah. Ketika Fiano pamitpun, kamu masih tertegun gelisah. Beberapa saat kemudian meledaklah tangis kesedihanmu, rasa pilu dan bersalah berbaur menjadi satu kesatuan emosi yang merontokkan kesempurnaanmu.

Terngiang di telingamu kata-kata Fiona. “Hanya kuburan itu peninggalan kedua orang tuaku, hanya kuburan itu kenangan tentang ayah dan ibuku dan hanya kuburan itu tempat yang aku datangi tiap hari, jangan gusur tanah itu bu!” pinta Fiona memelas.

Kamu terus menangis. Karena apapun resikonya, proyek apartement ini harus terealisir sesuai dengan jadwal, itu sudah menjadi komitmen dengan seluruh team.

Walaupun kertas gambar rancang bangunnya sudah kamu remas dan sobek. Kalau sudah begini kamu kehilangan pegangan, tidak ada orang yang bisa kamu ajak diskusi karena kamu adalah si sempurna.

***

Di tengah jadwal ketat penyusunan target penjualan tahun 2008, saya mengirim cerita ini melalui e-mail kepada seorang teman, sekaligus mantan atasanku saat bertugas di department lain. Saya merasa bersyukur, setelah temanku membaca e-mail cerita tadi, dia tidak marah.

Dia menanggapinya dengan tersenyum ketika menelphoneku, dan berkata, “terima

kasih ya ceritanya bagus,” katanya sambil melanjutkan, “sindiran yang mengena, tapi

kayaknya aku gak segitu amat deh!” katanya tersenyum.

Kemudian kamipun larut dengan diskusi-diskusi tentang target penjualan perusahaan.***

NB : Cerita ini pernah di posting disebuah website komunitas penulis dengan nama samaranku.

PLAY GROUP TERPAKSA BUBAR

“Ayo dong nyanyi,” pinta seorang anak kecil gendut yang sedang berdiri persis di depanku. Anak itu memintaku bernyanyi sambil menggoyang-goyang tanganku.

Spontan tanganku menipis tangannya, tentunya dengan lembut. Karena aku melihat anak-anak kecil lainnya sudah tidak sabar juga untuk meminta.

“Jangan nyanyi, mending joget aja!” teriak anak kecil lainnya, sambil menahan tawa. Geli sekali melihatnya, aku hampir tertawa lepas melihat anak itu menahan tawa, mimiknya menjadi lucu.

Akhirnya aku menengahi, aku bernyanyi sambil berjoget. Aku sendiri tidak tahu aku sudah menyanyikan berapa lagu, mungkin banyak lagu dangdutnya, karena aku juga sibuk berjoget menyenangkan anak-anak kecil yang sedang mengelilingiku.

Capek juga. Aku berhenti bernyanyi dan diam sejenak. Anak-anak juga mendadak diam, lalu aku tersenyum ke arah anak-anak itu.

“Lagi dong, lagi dong nyanyinya,” pinta anak perempuan dengan kucir dua. Temannya yang lain menimpali. “Iya, lagi dong!” Sejurus kemudian menggema suara-suara anak-anak itu. Lagi, lagi, lagi, lagi, lagi sorai mereka kegirangan. Aku salah tingkah.

Aku tersenyum lagi menatap anak itu. Anak berkucir dua itu tersenyum dan kemudian tertawa melihatku.

Merasa tidak tega kemudian aku beryanyi lagi untuk menghibur sekitar 10 orang anak-anak kampung yang sedang mengerubungiku membuat lingkaran. Tentu aku sambil berjoget. Kali ini gerakan break dance, tadi aku berjoget dengan gaya tari India. Senangnya, tapi capeknya minta ampun.

Tiba-tiba dari arah belakang, seseorang berteriak keras. Itu suara ayahku.

“Sudah-sudah… bubar-bubaaar. Bubar!” teriak ayahku mengagetkan aku.

Sontak anak-anak kecil itu berlarian ketakutan. Hanya dalam hitungan detik batang hidung mereka lenyap.

Aku sekarang sendirian, ayah kemudian memegang tanganku dengan kasar dan menarik aku berjalan cepat melewati jalanan kampung. Aku menangis meraung-raung. Aku sedih, karena sebagai guru play group kelasku dibubarkan begitu saja oleh ayah.

Sambil mengikuti ayah. Aku sempat mendengar seorang ibu berbincang dengan ibu lainnnya. “kasihan ya si Atun, makin hari makin gila saja.”

Orang_gila_1  “Padahal Atun tadinya anak yang baik, cantik lagi. Sekarang dia menjadi gila,” lanjut seorang ibu sambil memandangku iba.

Aku memandang ibu-ibu itu sambil menjulurkan lidah. “Weeeek!” Aku melanjutkan tangisku***