CERITA: RAWALPINDI SUATU HARI
MALAM berselimut kabut. Udara diluar flat sangat dingin, angin menghembus membuat orang-orang mengetatkan jaket dan sweter mereka. Beberapa orang yang tidak mempunyai urusan penting lebih memilih tinggal di dalam rumah menghangatkan diri dengan secangkir kopi atau teh.
Flat ini memang kondisinya sudah agak tua, kusam dan terkesan tidak terurus. Hanya ada beberapa keluarga yang menempati kamar-kamar flat. Hembusan angin menyeruak masuk melewati jendela pintu flatku yang dibeberapa bagian kusennya sudah rapuh dan bolong.
Aku membiarkan angin masuk. Beberapa hari terakhir ini memang cuaca kota Rawalpindi sedang buruk, sering turun hujan dan kabut dimalam dan pagi hari. Kota ini banyak menyimpan kenangan saat aku tumbuh dewasa, kota yang berada di provinsi Punjab Pakistan berada persis dilereng selatan pengunungan Himalaya dan bukit Murree. Dibelah oleh aliran sungai Leh, Indus dan Jhelum. Sebuah kota yang indah, buatku selalu penuh kenangan.
Kenangan terakhir saat aku masuk ke sebuah Perguruan Tinggi cukup besar, namanya NUST Institute Of Information Technology Rawalpindi. Sebagai seorang yang baru menjadi mahasiswa, belajar di sebuah perguruan tinggi teknologi membuatku sangat bangga.
Walaupun aku terlahir dari keluarga sederhana, tetapi orangtuaku sangat memperhatikan pendidikan anak-anaknya. Sebelum memilih kuliah, sebenarnya aku pengen sekali bekerja di Afganistan. Maklum orangtuaku masih berdarah Afganistan, aku seringkali mendengar orang tuaku berbicara dengan kerabatnya dengan bahasa Pashto, yaitu bahasa pertuturan bangsa Pastun di Afganistan dan barat Pakistan. Kadang lucu mendengar logat pertuturan mereka.
Entah kenapa harus Afganistan. Yang pasti, saat naik ketingkat dua semester ketiga, aku harus meninggalkan bangku kuliah. Aku benar-benar pergi ke Afganistan.
***
Walaupun malam dingin kota Rawalpindi menjadi maha hangat, semua orang tampak bersuka cita. Jalan-jalanan di kota meriah penuh dengan bendera, umbul-umbul, baliho besar dan banner. Semuanya berisi slogan dan gambar Benazir Bhutto.
Aku masih di dalam flat. Perasaanku sangat tegang, aku berusaha untuk rileks dengan mengenang masa aku tumbuh besar di kota ini. Aku membuka laptop meyambungkan kabel telpon untuk membuka internet. Beberapa situs dalam dan luar negeri aku buka, aku berusaha untuk mencari lebih banyak informasi tentang kedatangan Benazir Bhutto ke Rawalpindi besok.
Sesekali aku beringsut ke springbed tempat tidur, aku memeriksa kondisi benda yang tergolek dalam koper hitam besar. Melihat kedua benda itu aku semakin tegang, entah kenapa aku berkeringat cemas. Jantungku berpacu cepat. Tidak sabar aku menunggu pagi. Malam ini terasa begitu panjang dan membosankan.
Benda itu akhirnya aku usap, sebuah senjata. Namanya Kalashnikov, aku memeluknya untuk melepas kecemasanku. Aku periksa amunisinya dan perlahan aku bersihkan ujung moncong senjata buatan Rusia ini. Setelah itu aku raih sebuah lagi, Pistol Bareta. Kupastikan pelurunya terisi dalam magazin. Pikiranku kemudian menerawang, entah apa yang aku pikirkan. Aku pengen malam berlalu cepat.
***
Pagipun tiba, kota Rawalpindi gegap gempita. Semua orang keluar dari rumah masing-masing. Tidak peduli dengan udara dingin. Hari ini Benazir Bhutto akan berkampanye di depan ribuan massa pendukungnya Partai Rakyat Pakistan. Kedatangannya sudah lama ditunggu sejak ia mengasingkan diri.
Gemuruh sorai sorai orang-orang di luar flat terdengar sangat keras. Tetapi justru gemuruh itu membuatku semakin tenang, semakin nyaman tiada rasa cemas dan takut.
Aku mengambil Jas dan memakainya. Mengenakan dasi di depan cermin, aku melihat lama pantulan wajahku di cermin. Wajahku cukup cakep untuk ukuran pemuda Pakistan masa kini, badanku tegap dan usiaku masih muda, belum genap berusia 30 tahun. Aku terus menatap wajahku dalam-dalam dalam cermin yang retak diujung bingkainya. Setelah puas aku ambil kacamata hitam dan memakainya.
Acara kampanye Benazir Bhutto sudah dimulai. Aku sempat berpapasan dengan beberapa reporter dan kameramen stasiun TV lokal dan Internasional di depan jalan keluar dari Flat.
Flatku sangat dekat dengan lapangan kampanye Benazir Bhutto, aku cukup jalan kaki saja melihat kemeriahan dan keramaian pesta politik ini. Pengamanan cukup ketat. Beberapa polisi dengan senjata laras panjang berada di setiap jalan, apalagi jalan menuju panggung kampanye.
Rupanya kampanye sudah selesai, massa pendukung Bhutto berteriak-teriak mengeluk-elukannya. Sampai aku sendiri terdesak-desak di antara orang-orang yang berpeluh dan bersemangat. Aku lihat Bhutto menaiki sebuah mobil entah Land Cruiser atau Toyota Cygnus Putih aku tidak terlalu perduli. Hanya aku mengamati mobil tersebut dilengkapi dengan jendela di atap (sunroof).
Aku menyelinap di antara kerumunan massa, jantungku berpacu cepat, aku hanya melihat sekelilingku berwarna abu-abu kabut, tidak ada suara, hanya terdengar suara semilir angin menghembus. Bhutto melambaikan tangannya padaku, seketika itu aku ambil pistol yang menyelip dipinggangku. Aku menembak Bhutto, tembakan pertama mengarah ke leher dan kedua ke arah dada, aku tidak yakin tembakanku mengena sasaran. Pandanganku mulai gelap dan kabur, aku memicu detonator yang ada dalam saku jasku. Warna kilat menghantam penglihatanku. Bom yang aku siapkan benar-benar sukses meledak tanpa aku tahu apa yang terjadi selanjutnya.
……..(tiada yang tahu namaku, tiada yang tahu siapa aku, aku hanya bagian cerita penghujung tahun 2007, cerita tragedi yang tragis)

January 4th, 2008 at 9:16 pm
Kang bamby ini memiliki kemampuan imajinasi yang luar biasa…
Atau jangan2 kang bamby ini “orang pinter” yang punya ilmu “terawang” neh? Itu loh kemampuan untuk melihat apa yang terjadi di tempat lain dengan penglihatan batin, huehehe….
Kemarin aja lamaran nya yahud…
Wah bener ya kang ya? Gimana tuh caranya kang?:D
January 5th, 2008 at 4:22 am
Selain menjadi Boss Mcd yang baik hati dan jarang marah entar bisa jadi guru spiritual saya dong he..he..kembangkan teruus kemampuanya pk haji karena tidak semua orang bisa melakukannya…Well Done Pk Haji…
January 9th, 2008 at 7:12 am
mas bamby,tulisan anda sangat imajinatif…ide cemerlang memosisikan diri sebagai “pengacau diam2″
mungkin akan lebih manis jika ada sedikit self dialogue mengapa “dia” akhirnya melakukan tindakan “banci”(seperti yg mas tulis di buletin).ok!good work!lanjut!
January 12th, 2008 at 2:00 am
akhirnya ada juga “orang gila” yang nulis ttg dibunuhnya Benazir Bhutto. Tapi saya salut dengan bamby cahyadi yg diam-diam menulis cerita ttg sang eksekutor. rasanya benar-benar sang “aku” nya yg melakukan. Punya ide apalagi niy… kayaknya tulisan berikut sangat dinanti.
January 12th, 2008 at 9:39 pm
Trims commentnya. Kok gak mau di add fs? Misterius banget sich? hehehe becanda!
January 16th, 2008 at 8:19 pm
Top banget! Yuni baru buka fs lagi trus liat-liat mas bamby, ternyata udah banyak tulisannya di blog. Rawalpindi top banget.
February 8th, 2008 at 11:55 am
Cerita ini singkat saja…
Tapi dengan begitu apik menggambarkan dilema batin si Aku…
Dalam sastra ini dikategorikan ke dalam aliran realisme sosial. sarat akan pesan2 kemanusiaan. Salut kang bamby…:)