CERITA: KISAH BRAM DAN IRMA
BRAMANTO SETIAWAN
Suasana di kantor beberapa hari terakhir ini semakin tidak kondusif. Pagi ini saja beberapa meja divisi Purchasing sudah ditinggal oleh orang-orangnya, kabar yang beredar beberapa stafnya sudah dirumahkan.
Aku tidak langsung ke meja kerjaku, setelah menyapa beberapa rekan dari divisi Akunting aku menuju pantry, untuk membuat segelas kopi. Walaupun kantor ini memiliki office boy, aku lebih suka membuat kopi sendiri. Pernah aku menyuruh pak Andi office boy paling senior untuk membuatkan aku kopi, tapi tidak pernah cocok dilidahku. Terlalu manislah, kepahitanlah pokoknya tidak seenak kalau aku buat sendiri.
“Bu, gulanya udah mau habis nich,” kataku kepada Ibu Mur, Ibu Mur sebenarnya bukan karyawan kantor ini, semula dia pedagang makanan pinggir jalan, karena makanannya terkenal enak di kawasan perkantoran kami di Sudirman, akhirnya Bu Mur disuruh berjualan oleh Presiden Direktur perusahaan kami di ruang pantry kantor ini.
Mungkin gengsi juga Presiden Direktur harus berbasah-basah keringat untuk makan masakan Bu Mur dipinggir jalan, makan dipinggir jalan terkenal dikalangan karyawan kawasan Sudirman dengan istilah Café Amigos, kepanjangan dari café Agak Minggir Got Sedikit. Makanya bu Mur dibajak oleh Pak Presdir.
“Iya den, nanti ibu suruh minta tolong pak Andi untuk membeli ke Supermarket di basement,” jawab bu Mur sambil terus mengulek sambel dadakan.
“Bu, bu… semua orang di kantor ini selalu dipanggil den, gak ada yang Raden di sini bu, mungkin Pak Presdir aja yang Raden,” sahutku bercanda. Bu Mur selalu memanggil aden atau den kepada seisi kantor, mau dia cewek atau cowok semua aden. Dan aku selalu mengulang perkataanku setiap dia memanggil aku den.
Segelas kopi telah selesai aku buat, aku cium dulu aromanya. Nikmat sekali. Tapi karena masih panas tidak langsung aku seruput. Aku melangkah keluar ruang pantry menuju meja kerjaku.
“Bram, kamu ke ruanganku!” tiba-tiba namaku dipanggil. Aku menoleh kearah suara panggilan, suara yang sangat akrab dikupingku. Suara Irma, Direktur Divisi Komunikasi dan Marketing. Bossku atasanku langsung di divisi ini.
“Sekarang atau nanti?” balasku.
“Sekarang!” tegasnya. “Bawa aja kopi kamu keruanganku,” lanjut Irma sambil masuk ke ruangannya.
Aku masuk ruangan Irma. Ruangan yang tertata rapih dan minimalis. Warna dindingnya ungu. Warna yang tegas menurutku.
Ketegasan Irma terpancar dari aura wajahnya yang cantik. Dia wanita yang hebat dalam pandanganku, walaupun dia tegas dan terkesan sombong, aku adalah laki-laki yang mengisi hari-harinya dengan kegairahan.
Dalam waktu singkat Irma telah menyalip posisiku. Buatku tidak masalah, Irmalah yang hebat. Dia sangat brilian, tetapi juga ada sisi rapuhnya.
Setelah kami berdua duduk Irma mulai berbicara. Pembicaraan langsung kepada kondisi perusahaan saat ini. Sebagai Manager Komunikasi di kantor ini aku langsung bisa menangkap isi pembicaraan Irma.
“Please Irma, apa tidak ada pilihan lain?” pintaku sedikit memohon. Irma menggeleng.
“Kamu disini direktur, masak suara kamu tidak di dengar?” aku melanjutkan omonganku yang sempat terpotong gelengan kepala Irma.
“Tidak ada Bram, kamu harus memilih!” suara Irma tegas. Kali ini mendadak suaranya begitu asing ditelingku.
***
IRMA WULANDARI
Malas sekali hari ini aku memulai kerja. Apalagi saat mobilku mulai mendekati gedung Wisma BNI 46, gedung tertinggi di Jakarta tempatku bekerja. Mendadak perutku mulas ketika memasuki lift menuju lantai 25.
Di dalam lift, pikiranku kembali berkecamuk. Hari ini buatku hari yang paling membuat suasana hatiku tidak nyaman.
“Selamat pagi bu Irma,” lamunanku buyar. Seorang lelaki separoh baya menyapaku saat dia memasuki pintu lift dari lantai 9.
“Eh, pak Andi, dari mana kok dari lantai 9?” tergagap aku menjawab salam pak Andi. Tapi aku berusaha untuk tenang, dan tentu tetap terlihat berwibawa.
“Saya habis mengantarkan surat bu,” jawab pak Andi. Rupanya dia mengantarkan surat kepada salah satu kantor mitra bisnis kami di lantai 9 gedung ini. Aku hanya mengangguk. Kesannya aku sombong.
Entah kenapa aku selalu bersikap begitu, aku selalu ingin terlihat sempurna dimata semua orang termasuk dikalangan office boy.
Lantai 25. Pintu lift terbuka, hanya aku dan pak Andi saja yang keluar dari lift. Pak Andi pamit menuju ruang foto copy.
Pandangan mataku langsung tertuju ke meja divisi Komunikasi. Kemana Bram, batinku. Mungkin dia belum datang, aku melirik jam tangan, baru jam 08.10 jam kantor masih 50 menit lagi. Biasanya Bram jam 08.00 sudah ada di mejanya. Kemana dia, tanyaku dalam hati.
Dengan suasana hati yang masih berkecamuk aku masuk ke ruanganku. Rasanya agak sedikit lebih nyaman saat aku masuk ruangan ini, ruangan yang aku tata sesuai dengan seleraku.
Aku bersandar di sofa, sambil memejamkan mata. Terbayang saat awal aku berkantor disini. Karirku cukup baik, awalnya aku asisten manager divisi Marketing, saat itu aku kenal Bram sebagai Manager Komunikasi.
Bram, pria matang yang pernah mewarnai hari-hariku. Setelah kurang lebih dua bulan bekerja, rupanya Bram menarik perhatianku. Padahal sebagai wanita yang dibesarkan dilingkungan pendidikan tinggi, aku dengan mudah masuk dalam buain kata-kata manis Bram.
Dan dengan Bram, aku merasakan kegairahan yang tiada dua. Aku dibuatnya melayang, benar-benar jatuh cinta aku padanya. Sampai akhirnya aku pasrahkan kegadisanku pada Bram.
Dari segi pekerjaan karirku menanjak, hanya dalam setahun aku menjadi Manager divisi Marketing. Kemudian dengan cepat aku menjadi direktur Marketing dan Komunikasi.
“Kamu memang wanita yang hebat,” begitu kata Bram saat aku dipromosikan menjadi Manager Marketing. Aku hanya tersenyum.
“Kenapa, kamu iri ya?” kataku sembari tiduran dipelukannya.
“Aku bangga dengan karirmu,” itu saja komentarnya. Setelah itu kegairahan merasuk sukmaku dan Bram. Aku merayakan promosi jabatanku dengan bercumbu dan bercinta dengan Bram.
Aku terjaga. Kulirik lagi arloji, Bram sudah datang belum ya? Setelah merapikan make up dan pakaianku aku keluar ruangan.
Aku lihat Bram keluar dari pantry dengan memegang segelas kopi panas. Dengan nada suara yang aku atur agar tidak terlihat sedang gundah aku memanggil Bram.
Aku harus menyampaikan keputusan meeting Direktur kepada Bram saat ini juga.
Bram masuk ke ruanganku, sambil memegang gelas kopi. Sebenarnya ingin sekali aku memintanya, aku sangat tahu kopi buatan Bram pasti enak. Tapi tidak kulakukan, hari ini aku harus bersikap resmi.
Aku membuka pembicaraan dengan Bram dengan menderitakan keadaan perusahaan saat ini. Dan Bram sangat mahfum.
“Bram, aku hanya ingin menyampaikan keputusan tim direksi bahwa kamu dipindahkan ke Cabang Medan atau kamu harus mengundurkan diri,” kataku lirih, suaraku tercekat.
Suasana seketika itu menjadi hening. Sesaat kemudian Bram memohon. Aku menggeleng.***
January 29th, 2008 at 9:32 pm
wow ini kisah perselingkuhan di sekitar perkantoran yah…ada esek2 nya lagi..bener yah para bos emang kaya gitu
February 8th, 2008 at 11:51 am
Wow, sekali lagi, kang bamby begitu trmapil mengaduk emosi pembaca. memberikan ending yang begitu mengejutkan. Cerita yang singkat, tapi membawa pembaca untuk melihat banyak hal. Saya jadi bertanya-tanya: bagaimanakah kelanjutan hubuang mereka berdua? Terutama setelah Bram dipindahkan? Bagaiaman dan mengapa kisah percintaan itu terjadi? dan seterusnya. dan sebagainya. Nice story kang bamby.
February 21st, 2008 at 9:48 am
geloooo