Bamby Menulis

Tentang pikiran, rasa, pengalaman hidup dan imajinasi

Archive for January, 2008


UNDER “PRESSURE” WEAR

Bamby terdiam di depan sebuah toko. Wajahnya pucat, keragu-raguan menyelimuti perasaannya. Kenapa aku harus berada di sini, batinnya sambil tetap terpaku di depan toko.

Langkah kakinya mengajak untuk menjauhi toko, tetapi dengan berat dibatalkan niat itu. Bamby kembali seperti orang bingung di depan toko. Hatinya bergemuruh, aku harus nekad. “Aku harus masuk ke dalam toko itu, masa bodoh apa yang terjadi nanti!” bentak batinnya.

Bamby mantap melangkah masuk ke dalam toko, dia melihat sang pramuniaga sudah tersenyum ramah menyambutnya. Tiba-tiba keringat Bamby menetes deras, tubuhnya panas dingin. Badannya berbalik dan keluar dari toko. Nafasnya tersenggal.

Untuk menenangkan diri, Bamby duduk tertunduk disebuah bangku taman agak jauh dari toko. Batinnya kembali bergolak, kali ini suara hatinya berontak.

“Ayo Bam! apa kamu tidak kasihan dengan istrimu yang sedang terbaring di rumah sakit?” Bamby masih terdiam, kemudian dia teringat Kinar istrinya.

Kinar sudah dua hari ini dirawat disebuah rumah sakit. Penyakit lamanya kambuh, dari dulu Kinar mengindap gangguan liver. Kinar anfal saat mereka berdua berada di kota ini. Beberapa hari yang lalu Bamby dan Kinar datang ke kota ini untuk menemui seorang kerabat. Tetapi setelah sehari semalam mereka mencari alamat kerebat tersebut, hasilnya nihil. Alamat tidak ditemukan.

Akhirnya mereka memutuskan untuk menginap disebuah hotel Melati dekat alun-alun kota. Mungkin kecapaian, istri Bamby pingsan. Bamby panik, oleh petugas hotel Kinar dilarikan ke rumah sakit kota.

“Kin, kita tidak akan lama di kota itu, jadi kamu jangan terlalu banyak membawa pakaian, secukupnya saja,” pesan Bamby saat mereka berkemas untuk berangkat.

“Baik Mas,” kata Kinar, sambil memasukkan  dua pasang pakaian ke dalam ransel. Bamby telah lebih dahulu memasukkan pakaiannya ke dalam ransel besar itu.

***

Bamby menghela nafas panjang. Bayangan Kinar istri tercinta, silih berganti dengan bayangan pramuniaga toko tadi. Kali ini hatinya mulai mantap.

“Apapun akan kulakukan untuk istriku yang sedang sakit!” batin Bamby bergelora.

“Tapi, apa aku bisa?” kembali batinnya melemah. Membayangkan toko tadi, wajahnya kembali pucat pasi, keringatnya menetes dan jantungnya berdegup kencang.

Aku harus masuk ke toko itu! Harus, harus! Bamby mengepalkan kedua tangannya untuk mengumpulkan keberanian.

Bamby berdiri, wajahnya masih pucat, tangannya bergetar. Tapi dengan mantap langkah kakinya menuju ke toko itu lagi. Harga diriku menjadi taruhannya saat ini, apalah arti harga diriku, dibanding kecintaanku kepada istriku Kinar.

Pintu toko hanya tinggal beberapa jengkal, Bamby makin mantap. Pramuniaga menyapa dia dengan senyuman ramah.

“Selamat siang pak, ada yang bisa saya bantu?” sapa pramuniaga toko dengan ramah.

Bamby tergagap, dengan wajah manis pula dan mengatur nafas yang terengah-engah karena jantung berdegup kencang, terbata-bata Bamby berkata, “Mbak, saya mau beli celana dalam perempuan  tiga buah dan sebuah beha ukuran 36 A.”

Bamby serasa melayang. Malu rasanya, baru kali ini dia masuk toko pakaian dalam wanita. Tetapi istrinya lebih penting ketimbang harga Underwear_bra_565 dirinya, sudah dua hari Kinar tidak mengganti pakaian dalamnya.***

CERITA: KISAH BRAM DAN IRMA

BRAMANTO SETIAWAN

Suasana di kantor beberapa hari terakhir ini semakin tidak kondusif. Pagi ini saja beberapa meja divisi Purchasing sudah ditinggal oleh orang-orangnya, kabar yang beredar beberapa stafnya sudah dirumahkan.

Aku tidak langsung ke meja kerjaku, setelah menyapa beberapa rekan dari divisi Akunting aku menuju pantry, untuk membuat segelas kopi. Walaupun kantor ini memiliki office boy, aku lebih suka membuat kopi sendiri. Pernah aku menyuruh pak Andi office boy paling senior untuk membuatkan aku kopi, tapi tidak pernah cocok dilidahku. Terlalu manislah, kepahitanlah pokoknya tidak seenak kalau aku buat sendiri.

“Bu, gulanya udah mau habis nich,” kataku kepada Ibu Mur, Ibu Mur sebenarnya bukan karyawan kantor ini, semula dia pedagang makanan pinggir jalan, karena makanannya terkenal enak di kawasan perkantoran kami di Sudirman, akhirnya Bu Mur disuruh berjualan oleh Presiden Direktur perusahaan kami di ruang pantry kantor ini.

Mungkin gengsi juga Presiden Direktur harus berbasah-basah keringat untuk makan masakan Bu Mur dipinggir jalan, makan dipinggir jalan terkenal dikalangan karyawan kawasan Sudirman dengan istilah Café Amigos, kepanjangan dari  café Agak Minggir Got Sedikit. Makanya bu Mur dibajak oleh Pak Presdir.

“Iya den, nanti ibu suruh minta tolong pak Andi untuk membeli ke Supermarket di basement,” jawab bu Mur sambil terus mengulek sambel dadakan.

“Bu, bu… semua orang di kantor ini selalu dipanggil den, gak ada yang Raden di sini bu, mungkin Pak Presdir aja yang Raden,” sahutku bercanda. Bu Mur selalu memanggil aden atau den kepada seisi kantor, mau dia cewek atau cowok semua aden. Dan aku selalu mengulang perkataanku setiap dia memanggil aku den.

Segelas kopi telah selesai aku buat, aku cium dulu aromanya. Nikmat sekali. Tapi karena masih panas tidak langsung aku seruput. Aku melangkah keluar ruang pantry menuju meja kerjaku.

“Bram, kamu ke ruanganku!” tiba-tiba namaku dipanggil. Aku menoleh kearah suara panggilan, suara yang sangat akrab dikupingku. Suara Irma, Direktur Divisi Komunikasi dan Marketing. Bossku atasanku langsung di divisi ini.

“Sekarang atau nanti?” balasku.

“Sekarang!” tegasnya. “Bawa aja kopi kamu keruanganku,” lanjut Irma sambil masuk ke ruangannya.

Aku masuk ruangan Irma. Ruangan yang tertata rapih dan minimalis. Warna dindingnya ungu. Warna yang tegas menurutku.

Ketegasan Irma terpancar dari aura wajahnya yang cantik. Dia wanita yang hebat dalam pandanganku, walaupun dia tegas dan terkesan sombong, aku adalah laki-laki yang mengisi hari-harinya dengan kegairahan.

Dalam waktu singkat Irma telah menyalip posisiku. Buatku tidak masalah, Irmalah yang hebat. Dia sangat brilian, tetapi juga ada sisi rapuhnya.

Setelah kami berdua duduk Irma mulai berbicara. Pembicaraan langsung kepada kondisi perusahaan saat ini. Sebagai Manager Komunikasi di kantor ini aku langsung bisa menangkap isi pembicaraan Irma.

“Please Irma, apa tidak ada pilihan lain?” pintaku sedikit memohon. Irma menggeleng.

“Kamu disini direktur, masak suara kamu tidak di dengar?” aku melanjutkan omonganku yang sempat terpotong gelengan kepala Irma.

“Tidak ada Bram, kamu harus memilih!” suara Irma tegas. Kali ini mendadak suaranya begitu asing ditelingku.

***

IRMA WULANDARI

Malas sekali hari ini aku memulai kerja. Apalagi saat mobilku mulai mendekati gedung Wisma BNI 46, gedung tertinggi di Jakarta tempatku bekerja. Mendadak perutku mulas ketika memasuki lift menuju lantai 25.

Di dalam lift, pikiranku kembali berkecamuk. Hari ini buatku hari yang paling membuat suasana hatiku tidak nyaman.

“Selamat pagi bu Irma,” lamunanku buyar. Seorang lelaki separoh baya menyapaku saat dia memasuki pintu lift dari lantai 9.

“Eh, pak Andi, dari mana kok dari lantai 9?” tergagap aku menjawab salam pak Andi. Tapi aku berusaha untuk tenang, dan tentu tetap terlihat berwibawa.

“Saya habis mengantarkan surat bu,” jawab pak Andi. Rupanya dia mengantarkan surat kepada salah satu kantor mitra bisnis kami di lantai 9 gedung ini. Aku hanya mengangguk. Kesannya aku sombong.

Entah kenapa aku selalu bersikap begitu, aku selalu ingin terlihat sempurna dimata semua orang termasuk dikalangan office boy.

Lantai 25. Pintu lift terbuka, hanya aku dan pak Andi saja yang keluar dari lift. Pak Andi pamit menuju ruang foto copy.

Pandangan mataku langsung tertuju ke meja divisi Komunikasi. Kemana Bram, batinku. Mungkin dia belum datang, aku melirik jam tangan, baru jam 08.10 jam kantor masih 50 menit lagi. Biasanya Bram jam 08.00 sudah ada di mejanya. Kemana dia, tanyaku dalam hati.

Dengan suasana hati yang masih berkecamuk aku masuk ke ruanganku. Rasanya agak sedikit lebih nyaman saat aku masuk ruangan ini, ruangan yang aku tata sesuai dengan seleraku.

Aku bersandar di sofa, sambil memejamkan mata. Terbayang saat awal aku berkantor disini. Karirku cukup baik, awalnya aku asisten manager divisi Marketing, saat itu aku kenal Bram sebagai Manager Komunikasi.

Bram, pria matang yang pernah mewarnai hari-hariku. Setelah kurang lebih dua bulan bekerja, rupanya Bram menarik perhatianku. Padahal sebagai wanita yang dibesarkan dilingkungan pendidikan tinggi, aku dengan mudah masuk dalam buain kata-kata manis Bram.

Dan dengan Bram, aku merasakan kegairahan yang tiada dua. Aku dibuatnya melayang, benar-benar jatuh cinta aku padanya. Sampai akhirnya aku pasrahkan kegadisanku pada Bram.

Dari segi pekerjaan karirku menanjak, hanya dalam setahun aku menjadi Manager divisi Marketing. Kemudian dengan cepat aku menjadi direktur Marketing dan Komunikasi.

“Kamu memang wanita yang hebat,” begitu kata Bram saat aku dipromosikan menjadi Manager Marketing. Aku hanya tersenyum.

“Kenapa, kamu iri ya?” kataku sembari tiduran dipelukannya.

“Aku bangga dengan karirmu,” itu saja komentarnya. Setelah itu kegairahan merasuk sukmaku dan Bram. Aku merayakan promosi jabatanku dengan bercumbu dan bercinta dengan Bram.

Aku terjaga. Kulirik lagi arloji, Bram sudah datang belum ya? Setelah merapikan make up dan pakaianku aku keluar ruangan.

Aku lihat Bram keluar dari pantry dengan memegang segelas kopi panas. Dengan nada suara yang aku atur agar tidak terlihat sedang gundah aku memanggil Bram.

Aku harus menyampaikan keputusan meeting Direktur kepada Bram saat ini juga.

Bram masuk ke ruanganku, sambil memegang gelas kopi. Sebenarnya ingin sekali aku memintanya, aku sangat tahu kopi buatan Bram pasti enak. Tapi tidak kulakukan, hari ini aku harus bersikap resmi.

Aku membuka pembicaraan dengan Bram dengan menderitakan keadaan perusahaan saat ini. Dan Bram sangat mahfum.

“Bram, aku hanya ingin menyampaikan keputusan tim direksi bahwa kamu dipindahkan ke Cabang Medan atau kamu harus mengundurkan diri,” kataku lirih, suaraku tercekat.

Suasana seketika itu menjadi hening. Sesaat kemudian Bram memohon. Aku menggeleng.***

TAMENG UNTUK AYAH

AYAH seorang tukang jahit. Beliau sangat bersahaja. Kesehariannya selalu dihabiskan di sebuah kios kecil tepat di depan pintu rumah. Apabila order lagi sepi ayah mencari order keliling, sehingga ayah dikenal juga sebagai tukang jahit keliling oleh warga setempat.

Rumah kami berada di Kampung Zaitun. Rumah yang sebagian besar dindingnya tanpa plesteran semen ini lebih mirip sebuah kotak pembungkus televisi besar. Hanya ada sebuah pintu masuk, satu buah jendela tepat disamping pintu dan dua buah lagi jendela kamar. Tidak ada pintu belakang, karena tepat di belakang rumah kami berdiri juga rumah-rumah warga lain yang tidak kalah kumuhnya dengan rumah kami. Sangat rapat.

Kios tempat ayah berkerja untuk menjahit adalah ruang tamu, yang disekat menjadi dua bagian sekatan yang agak besar menjadi tempat ayah bekerja, menjahit baju pesanan langganannya.

Udara di luar rumah sangat panas. Hawa panas sampai menusuk ubun-ubun kepala. Mungkin akibat dominasi iklim laut. Iklim di tanah Palestina memang berubah-ubah, antara iklim laut tengan dan iklim gurun, kendati demikian pada masa-masa tertentu iklim gurun pasir juga mempengaruhi iklim keseluruhan.

Kampung Zaitun berada di Jalur Gaza. Ada beberapa kota yang berada di Jalur Gaza, di Gaza utara ada kota Beit Hanoun dan Beit Lahiya, dibagian Timur Jalur Gaza juga banyak perkampungan.

Karena kampung kami berbatasan langsung dengan Negara Yahudi Israel, kondisinya sangat menakutkan dan berbahaya. Peristiwa memilukan sering kami saksikan dengan mata kepala. Beberapa ruas jalan utama setiap hari di blokade oleh Pasukan Israel dengan persenjataan lengkap.

Mereka sering bentrok dengan orang-orang dewasa ataupun anak-anak tanggung bahkan dengan anak kecil seusiaku, bentrokan sering memakan korban jiwa.

***

Sebagian besar teman-teman seusiaku sudah tidak punya orang tua, ayah atau ibu mereka tewas akabat kekejaman tentara Israel.

Makanya aku sangat sayang dan hormat kepada ayah. Beliau tidak banyak berbicara dan sangat melindungi kami. Ibuku, aku dan adikku.

Namaku Jamal, Jamal Ahmad Fayyad. Usiaku sekarang baru 7 tahun. Adikku Fatimah Shafiyah. Ayahku sering dipanggil orang Mister Taylor, nama profesinya, nama sebenarnya Mohammad Al Fayyad. Ibuku bernama Siti Aisyah Mish’al.

Sering aku membayangkan hidup tanpa seorang ayah, aku paling sedih kalau mendengar cerita tentang teman-temanku yang kehilangan ayahnya karena pertempuran dengan pasukan Israel. Sebagian besar orang dewasa dan remaja memilih bergabung dengan Brigade Al Qassam, sayap militer Hamas yang menguasai seluruh Jalur Gaza.

Hari ini aku malas untuk bermain di luar rumah, biasanya menjelang siang setelah sekolah pasti aku, Abbas, Ali, Salam dan Yunus bermainan petak umpet dan perang-perangan dekat tembok pembatas. Kali ini aku memilih tinggal di rumah, sambil melihat ayah yang asyik sendiri dengan mesin jahitnya. Ibu di kamar mengipasi Fatimah yang tidur kepanasan.

“Jamal, coba kamu ke sini sebentar,” ayah memanggilku.

“Ada apa yah?” tanyaku.

“Temanin ayah ke pasar,” katanya sambil merapihkan sisa-sisa potongan kain.

“Asyik, nanti beliin Jamal mainan yah,” aku berseru kegirangan. Biasanya kalau ke pasar aku minta dibeliin mainan.

“Khan mainanmu masih banyak,” balas ayah memandangku.

Aku menunduk. Benar juga mainanku banyak. Semua mainan disimpan dengan amat rapih oleh ibu dalam sebuah kotak kayu besar.

Selesai sholat Dzhuhur, kami sudah bersiap. Ayah mengambil sehelai Kafiyeh dan dilingkari dikepalanya, mirip Yasser Arafat batinku. Tapi Yasser Arafat waktu berumur 38 tahun.

“Ayo kita jalan sekarang,” ayah langsung memegang tanganku. Ibu mengantarkan kami sampai ke depan pintu dan kemudian menutupnya rapat.

Jalanan siang ini tidak terlalu ramai oleh lalu lalang orang. Sebagian orang bergerombol di kedai-kedai atau di depan rumah yang berkanopi sambil ngobrol.

Kami berjalan kaki. Ayah masih menuntunku. Tangannya memegang erat tanganku. Padahal aku ingin tanganku jangan dipegang biar aku bisa jalan sambil berlari-lari atau menendang-nendang batu di jalanan yang berdebu.

Tetapi keinginan itu aku tidak sampaikan. Aku memandang wajahnya, wajah selalu serius. Menyadari aku menatapnya, ayah tersenyum.

“Kenapa lihat-lihat ayah?” tanyanya.

“Ayah keringatan tuh,” balasku. Beliau hanya tersenyum, sambil menyusutkan keringat di dahinya dengan kafiyeh.

“Kamu kepanasan juga ya, nanti di pasar ayah akan belikan jus dingin biar kamu segar,” rayu ayahku. Mungkin ayah pikir aku memandang dia karena kesal di ajak jalan ke pasar siang-siang.

Tujuan kami adalah pasar  Wahd, pasar yang paling ramai dan lengkap dikawasan Jalur Gaza. Pasar masih agak jauh untuk ditempuh dengan berjalan kaki.

Sesekali tanganku di lepas ayah, kemudian dipegang lagi, tadi tangan kanan, sekarang tangan kiri. Aku senang punya ayah sebaik Mister Taylor ini. Aku tidak akan berpisah dengannya. Aku membutuhkannya. Aku pandang lagi wajahnya.

***

Tiba-tiba dari arah depan kami, banyak orang-orang berlarian. Aku dan ayah menepi ke atas trotoar. Sebagian dari yang berlarian itu  terlihat berdarah-darah.

Ayah langsung memelukku dan menggendong tubuhku. Ayah mencari celah untuk bersembunyi. Kami akhirnya menemukan sebuah pot bunga besar di atas trotoar jalan.

Teriakan orang-orang menjadi lebih panik. Aku melihat tank-tank tentara Israel sudah mulai mendekat ke arah kami, suara tank-tank itu bergemuruh. Ayah tercekat. Di udara Helikopter serbu tentara Israel meraung-raung.

Disebelah jalan aku melihat beberapa pejuang sedang berusaha menembakkan roket RPG, aku hafal karena jenis roket tersebut sering kami lihat dipakai oleh para pejuang.

Roket RPG diluncurkan ke arah helikopter, tetapi tidak mengenai sasaran.

Balasan tembakan dari helicopter kemudian berdesing-desing dikuping. Aku menutup mata dan telinga. Ayah semakin rapat memelukku dibalik pot bunga besar. Beberapa rentetan tembakan membahana membelah siang yang panas. Keadaan sekeliling kami kocar-kacir. Akibat tembakan roket RPG, tentara Israel yang menggunakan tank kemudian membombardir jalanan.

Beberapa orang mulai melempar bom-bom Molotov ke arah tank. Pejuang Palestina terdesak di jalanan, aku bahkan melihat tiga tubuh tergolek bersimbah darah.

Aku tahu, ayahku bukan penakut. Dia sedang membela dan melindungi aku dari situasi pertempuran ini. Tubuhnya basah oleh keringat. Sekali-kali dia beristigfar dan menyebut asma Allah.

Deru tank-tank Israel semakin terdengar, petanda semakin dekat dengan tempat posisi kami bersembunyi. Tembakan mortir juga memekakan telinga. Menghancurkan rumah-rumah dan gedung yang berada di sepanjang jalan menuju pasar.

Suasana hingar bingar mendadak senyap. Ayah dan aku masih berjongkok, bersembunyi.

Tiba-tiba, ada suara lantang yang mengagetkan kami.

“Hai, keluar kalian dan angkat tangan!” hardik tentara Israel yang tiba-tiba sudah berada di depan kami.

Ayah tetap memeluk aku. Aku ketakutan luar biasa.

“Lepaskan anak itu!” kali ini tentara Israel sudah berjumlah tiga orang.

“Ini anak saya, biarkan kami pergi,” teriak ayahku kepada tentara Israel.

“Ngapain kalian di sini?” bentak seorang tentara berkumis tebal.

“Saya mau ke Pasar Wahd, dan kami terjebak dalam pertempuran ini,” jawab ayah tanpa terdengar takut.

“Cepat kalian pergi,” kata tentara lainnya.

Ayah cepat-cepat memegang aku, untuk pergi. Aku sangat curiga dengan perilaku ketiga tentara Israel ini. Mereka bersenjata lengkap, bahkan moncong senjatanya selalu mengarah ke muka kami.

Ayah berjalan cepat ke arah jalan menuju rumah kami, tanganku dipegang sangat erat. Ayah berjalan terus memandang ke depan. Aku berjalan sesekali kepalaku melihat-lihat ke belakang.

Ya, Allah! Aku terkesiap, saat aku memandang ke belakang tiga tentara itu sedang bersiap mengarahkan senjatanya ke arah kami, mereka telah mengokang senjata itu siap tembak.

“Tembak!” perintah seorang dari mereka.

Senjata laras panjang itu menyalak. Dengan refleks aku melepaskan tangan dari pegangan ayah. Aku berlari ke arah peluru yang sedang meluncur ke arah ayah. Keberanianku muncul, aku tidak mau kehilangan ayah, aku tidak mau ayah meninggal dibunuh tentara Israel.

Anak_palestina_2 Berondongan tembakan mengenai seluruh tubuhku. Ayah langsung berteriak memegang tubuhku yang hendak jatuh ke bumi. Aku tidak merasakan apa-apa, saat tubuhku tergolek dipangkuan ayah. Ayah menangis meraung-raung. Aku berusaha memegang wajah ayahku. Tapi tidak pernah sampai. Aku hanya tidak mau kehilangan ayahku. Aku tahu betapa sedih teman-temanku yang ditinggal mati seorang ayah. Namaku Jamal Ahmad Fayyad bin Mohammad Al Fayyad. Aku tameng untuk ayahku tercinta***

MY JOURNEY THRU TO YOUR MOUTH

AKU baru saja diturunkan di sebuah restoran cepat saji di kawasan Senen,  hari ini hari kamis, biasanya memang aku dan beberapa temanku selalu diturunkan di restoran ini setiap hari kamis atau hari senin.

Ternyata setelah melalui rute dari tempat kami diinapkan di daerah Pulo Gadung, kami sudah berada di pintu belakang McDonald’s Atrium Senen.

Beberapa karyawan McDonald’s menyambut kami dengan suka cita, mungkin karena kami datang lebih awal dari jadwal. Biasanya mereka akan ngedumel apabila jadwal kedatangan kami molor dari jadwal yang disepakati.

Aku sempat mendengar percakapan karyawan McD itu dengan driver yang membawa kami.

“Pak, gini dong datang lebih awal,” kata seorang crew dengan suara berseri-seri kepada driver kami.

“Kebetulan jalanan lancar mas,” sahut driver kami sambil dia menyerahkan beberapa lembar kertas, sepertinya kertas purchase order.

“Soalnya kalo bapak telat matahari keburu muncul pak, jadi kita kerjanya kepanasan,” lanjut crew yang bernama Rahman .

Sesaat kemudian, seorang karyawan McD yang lain muncul di pintu belakang restoran itu, mereka sering menyebutnya pintu back door, dia berdasi dan rapih, sementara si Rahman memakai seragam model polo shirt. Hmmm, rupanya dia Manager yang bertugas hari ini. Namanya Dewa Made. Dari namanya sepertinya dia orang Bali.

Kemudian Rahman dan Agung crew lainnya yang bertugas menyambut kami langsung bersiap di pintu mobil Truk Kontainer, bersama Mas Dewa. Aku panggil mas aja deh ke manager berdasi itu, tidak sopan kalau hanya panggil dia Dewa.

Kami disambut antusias dan penuh semangat, maklum hari masih pagi, jam belum menunjukkan pukul 08.00 WIB. Mas Dewa mulai mengabsen kami satu persatu sebelum kami diturun. Suaranya lantang.

Beef Patties, 5 case!” suara Mas Dewa memecahkan perhatianku.

French Fries, 10 case!” lanjut Mas Dewa. Sambil tangannya mencentang kertas purchase order.

Rahman dan Agung dibantu driver kami menurunkan teman-temanku yang disebutkan tadi.

Kini tiba giliranku.

Big Mac Buns, 7 tray!” seru mas Dewa. Aku sempat agak gelagapan saat aku diturunkan dari Truk.

Setiap mau diturunkan aku selalu gelagapan. Kata orang bule neuorves, gugup gitu. Gimana gak gugup, ada perbedaan temperatur  saat aku masih duduk di dalam Truk. Temperatur di dalam truk sangat dingin yaitu minus 7 derajat Celsius. Sementara saat aku diturunkan, aku langsung berada di suhu udara terbuka atau suhu ruang manusia.

Aku langsung keringatan. Badanku langsung basah.

Ya, aku sering disebut Big Mac Buns oleh orang-orang McD. Aku adalah sepotong roti beku. Makanya aku disimpan dalam truk dengan pendingin minus 7 derajat Celsius. Aku dibuat beku agar supaya lebih tahan lama.

Dalam keadaan beku, masa kadaluarsaku selama 60 hari di dalam freezer (ruang pendingin).

Aku adalah roti andalan McDonald’s, karena aku McDonald’s menjadi rajanya burger di dunia. Tubuhku berwarna coklat keemasan (golden brown), tubuhku tinggi  sekali dibanding dengan Reguler Buns atau Quarter Powder Buns, itu lho roti untuk membuat Beef atau Cheese burger dan McChicken Burger, selain itu tubuhku juga bagus dan seksi, aku ditaburi butir-butiran wijen secara merata.

Tubuhku terdiri  atas 3 bagian, yaitu Crown (mahkota yang bertabur wijen) di bagian atas, bagian tengah Club dan bagian bawahku namanya Heel. Pokoknya bentukku sangat semetris.

So, keseluruhan tinggi badanku yang atletis ini adalah 2 ½ inchi. Beratku 32 ons dan mempunyai diameter  atau lingkar perut 3 7/8 inchi. Kata teman-temanku aku sangat proporsional dan ideal. Makanya banyak yang tergila-gila padaku termasuk kaum hawa.

Biasanya setelah diturunkan dari truk delivery, aku langsung dimasukkan ke dalam Freezer restoran yang suhunya minus 18 derajat celcius. Tapi kali ini aku langsung di letakkan di area kitchen oleh Rahman untuk di thawing (dicairkan). Oh, aku tahu rupanya pagi ini mereka sudah kehabisan Big Mac Buns yang siap dimasak hehehe. Pantesan dari tadi Rahman, Agung dan Mas Dewa sumringah, rupanya akibat liburan panjang banyak persedian produk mentah yang run out alias habis hari ini. Mereka bisa selamat dari complain customer atau boss mereka hehehe.

Umurku sangat singkat kalau sudah di thawing, hanya 48 jam. Aku tahu McDonald’s sangat menjaga kualitas kami.

Tepat jam 12.00 siang, Riki nama crew yang bertugas di kitchen membuka plastik pembungkus tubuhku. Aroma roti yang masih fresh langsung menyebar keseluruh ruangan kitchen.

Rupanya ada seorang customer yang sudah memesanku.

Dengan sigap Riki, memilah-milah bagian tubuhku di Bigmac_burger
atas buns tray. Bagian Heel tubuhku sudah tergolek di atas buns tray, sementara bagian Crown dan Club pasrah tergeletak di atas buns spatula.

Aku menutup mata. Sebentar lagi tubuhku akan dipanggang oleh mesin pemanggang roti, namanya Toaster. Sebenarnya aku akrab banget dengan mesin toaster, hanya saja suhu toaster ini suka membuat aku kepanasan.

Benar saja, ceeeeessss, bagian club dan heelku sudah ditindih oleh toaster yang  panasnya 215 derajat Celsius. Aku dipanggang selama kurang lebih 35 detik, agar penampilanku terkaramelisasi dengan baik dan tentunya benar-benar hot dan fresh.

Setelah 35 detik, timer toaster berbunyi. Riki mengangkat bagian Club dan Heelku dengan menggunakan bun spatula. Lalu memasukkan bagian Crownku di bagian atas toaster untuk dipanggang juga.

Di atas bun tray, aku menuju meja dress. Untuk diberi bumbu-bumbu dan sayuran segar. Aku sempat melirik Riki memasukkan 2 buah beef patties ke dalam mesin Grill. Yup, karena aku adalah Big Mac Burger, maka tentunya untuk menyempurnakan cita rasaku, harus ada 2 buah potongan daging sapi import yang ikut dalam proses penyempurnaan ini.

Daging sapi dalam bentuk patties ini kemudian di masak dengan mesin Grill selama 38 detik. Aku mesem-mesem sendiri melihat beef patties dimasak, maklum mesin Grill sama panas dengan toaster. Suhu pemasakan Grill untuk bagian bawah (lower) platen 177 derajat Celsius dan bagian atas platen (upper) 218 derajat Celsius. Pasti mereka juga kepanasan.

Sambil menunggu beef patties matang, Riki kemudian memberi  aku baju dibagian Heelku, tepatnya sich bukan baju tapi semacam kerah dari kertas. Lalu setelah itu aku diberi saos, namanya big mac sauce sebanyak 1/3 flus ons ke bagian club dan heel. Selanjutnya di atas bigmac sauce dengan tangannya yang cekatan Riki menaburi onions (bawang dalam butiran kecil) sebanyak 1/8 tea spoon, dan akhirnya tubuhku diberikan sayur selada segar namanya Lettuce masing-masing ½ ons ke bagian club dan heel.

Belum cukup sampai di situ. Riki kemudian mengambil selembar cheese slice di letakan di atas lettuce di bagian heel dan memberikan 2 buah irisan pickles (acar timun) di atas lettuce di bagian club.

Bagian upper platen Grill mulai terbuka, itu pertanda waktu pemasakan beef patties sudah selesai. Glek, aku menelan ludah, aroma daging panggang menyengat lezat. Aku lihat Riki dengan kalemnya mengangkat 2 lembar daging sapi yang selesai dimasak itu. Diletakkannya 1 iris beef patties matang di atas cheese slice di bagian heel, satu lagi di atas 2 potongan pickles di bagian club.

Aku hampir berteriak, tapi aku urungkan. Rupanya Riki tidak lupa untuk mengambil bagian tubuhku yang masih dipanggang toaster, dengan menggunakan bun spatula bagian Crown di angkat dan digabung di atas bagian Club. Setelah itu Riki mengangkat bagian Club dan Crown untuk digabungkan dengan bagian Heel yang sudah berkerah. Sempurna! Batinku dalam hati. Aku sudah menjadi Big Mac Burger McDonald’s yang masih hot dan fresh. Santai dulu, aku masih telanjang nich.

Riki kemudian membungkus aku dengan kertas wrap.

Counter Crew,  one Big Mac ready, take it please!” teriak Riki kepada petugas counter yang memesan aku tadi. Riki melemparku ke transfer bin, tempat dimana produk jadi dari kitchen disimpan untuk diambil oleh petugas counter.

Thank you,” sahut petugas counter, segera itu dia mengambilku dan meletakkan aku di sebuah nampan.

Customerku seorang wanita. Cantik dan cukup seksi, aku mengintip dari balik pembungkus.

“Terima kasih ya,” kata wanita itu dengan sopan kepada petugas counter. “Sama-sama mbak,” jawab petugas counter tak kalah ramah dan sopan. Dengan lembut aku diangkatnya dengan nampan menuju meja lobby.

Rupanya wanita ini salah satu penggemar berat Bigmac_juga
Big Mac Burger. Dengan satu gigitan, aku telah berada dalam kunyahannya, masuk ke dalam perutnya dan beberapa gigitannya yang lain telah memenuhi selera kulinernya. Puas sekali aku, sama puasnya dengan wanita cantik itu saat mengusap mulutnya dengan tissue selesai menyantapku habis. Very fully total customer satisfaction!***

Bigmac_paket_4

CERITA: RAWALPINDI SUATU HARI

MALAM berselimut kabut. Udara diluar flat sangat dingin, angin menghembus membuat orang-orang mengetatkan jaket dan sweter mereka. Beberapa orang yang tidak mempunyai urusan penting lebih memilih tinggal di dalam rumah menghangatkan diri dengan secangkir kopi atau teh.

Flat ini memang kondisinya sudah agak tua, kusam dan terkesan tidak terurus. Hanya ada beberapa keluarga yang menempati kamar-kamar flat. Hembusan angin menyeruak masuk melewati jendela pintu flatku yang dibeberapa bagian kusennya sudah rapuh dan bolong.

Aku membiarkan angin masuk. Beberapa hari terakhir ini memang cuaca kota Rawalpindi sedang buruk, sering turun hujan dan kabut dimalam dan pagi hari. Kota ini banyak menyimpan kenangan saat aku tumbuh dewasa, kota yang berada di provinsi Punjab Pakistan berada persis dilereng selatan pengunungan Himalaya dan bukit Murree. Dibelah oleh aliran sungai Leh, Indus dan Jhelum. Sebuah kota yang indah, buatku selalu penuh kenangan.

Kenangan terakhir saat aku masuk ke sebuah Perguruan Tinggi cukup besar, namanya NUST Institute Of Information Technology Rawalpindi. Sebagai seorang yang baru menjadi mahasiswa, belajar di sebuah perguruan tinggi teknologi membuatku sangat bangga.

Walaupun aku terlahir dari keluarga sederhana, tetapi orangtuaku sangat memperhatikan pendidikan anak-anaknya. Sebelum memilih kuliah, sebenarnya aku pengen sekali bekerja di Afganistan. Maklum orangtuaku masih berdarah Afganistan, aku seringkali mendengar orang tuaku berbicara dengan kerabatnya dengan bahasa Pashto, yaitu bahasa pertuturan bangsa Pastun di Afganistan dan barat Pakistan. Kadang lucu mendengar logat pertuturan mereka.

Entah kenapa harus Afganistan. Yang pasti, saat naik ketingkat dua semester ketiga, aku harus meninggalkan bangku kuliah. Aku benar-benar pergi ke Afganistan.

***

Walaupun malam dingin kota Rawalpindi menjadi maha hangat, semua orang tampak bersuka cita. Jalan-jalanan di kota meriah penuh dengan bendera, umbul-umbul, baliho besar dan banner. Semuanya berisi slogan dan gambar Benazir Bhutto.

Aku masih di dalam flat. Perasaanku sangat tegang, aku berusaha untuk rileks dengan mengenang masa aku tumbuh besar di kota ini. Aku membuka laptop meyambungkan kabel telpon untuk membuka internet. Beberapa situs dalam dan luar negeri aku buka, aku berusaha untuk mencari lebih banyak informasi tentang kedatangan Benazir Bhutto ke Rawalpindi besok.

Sesekali aku beringsut ke springbed tempat tidur, aku memeriksa kondisi benda yang tergolek dalam koper hitam besar. Melihat kedua benda itu aku semakin tegang, entah kenapa aku berkeringat cemas. Jantungku berpacu cepat. Tidak sabar aku menunggu pagi. Malam ini terasa begitu panjang dan membosankan.

Benda itu akhirnya aku usap, sebuah senjata. Namanya Kalashnikov, aku memeluknya untuk melepas kecemasanku. Aku periksa amunisinya dan perlahan aku bersihkan ujung moncong senjata buatan Rusia ini. Setelah itu aku raih sebuah lagi, Pistol Bareta. Kupastikan pelurunya terisi dalam magazin. Pikiranku kemudian menerawang, entah apa yang aku pikirkan. Aku pengen malam berlalu cepat.

***

City_of_rawalpindi Pagipun tiba, kota Rawalpindi gegap gempita. Semua orang keluar dari rumah masing-masing. Tidak peduli dengan udara dingin. Hari ini Benazir Bhutto akan berkampanye di depan ribuan massa pendukungnya Partai Rakyat Pakistan. Kedatangannya sudah lama ditunggu sejak ia mengasingkan diri.

Gemuruh sorai sorai orang-orang di luar flat terdengar sangat keras. Tetapi justru gemuruh itu membuatku semakin tenang, semakin nyaman tiada rasa cemas dan takut.

Aku mengambil Jas dan memakainya. Mengenakan dasi di depan cermin, aku melihat lama pantulan wajahku di cermin. Wajahku cukup cakep untuk ukuran pemuda Pakistan masa kini, badanku tegap dan usiaku masih muda, belum genap berusia 30 tahun. Aku terus menatap wajahku dalam-dalam dalam cermin yang retak diujung bingkainya. Setelah puas aku ambil kacamata hitam dan memakainya.

Acara kampanye Benazir Bhutto sudah dimulai. Aku sempat berpapasan dengan beberapa reporter dan kameramen stasiun TV lokal dan Internasional di depan jalan keluar dari Flat.

Flatku sangat dekat dengan lapangan kampanye Benazir Bhutto, aku cukup jalan kaki saja melihat kemeriahan dan keramaian pesta politik ini. Pengamanan cukup ketat. Beberapa polisi dengan senjata laras panjang berada di setiap jalan, apalagi jalan menuju panggung kampanye.

Rupanya kampanye sudah selesai, massa pendukung Bhutto berteriak-teriak mengeluk-elukannya. Sampai aku sendiri terdesak-desak di antara orang-orang yang berpeluh dan bersemangat. Aku lihat Bhutto menaiki sebuah mobil entah Land Cruiser atau Toyota Cygnus Putih aku tidak terlalu perduli. Hanya aku mengamati mobil tersebut dilengkapi dengan jendela di atap (sunroof).

Aku menyelinap di antara kerumunan massa, jantungku berpacu cepat, aku hanya melihat sekelilingku berwarna abu-abu kabut, tidak ada suara, hanya terdengar suara semilir angin menghembus. Bhutto melambaikan tangannya padaku, seketika itu aku ambil pistol yang menyelip dipinggangku. Aku menembak Bhutto, tembakan pertama mengarah ke leher dan kedua ke arah dada, aku tidak yakin tembakanku mengena sasaran. Pandanganku mulai gelap dan kabur, aku memicu detonator yang ada dalam saku jasku. Warna kilat menghantam penglihatanku. Bom yang aku siapkan benar-benar sukses meledak tanpa aku tahu apa yang terjadi selanjutnya.

Pistol_1 

……..(tiada yang tahu namaku, tiada yang tahu siapa aku, aku hanya bagian cerita penghujung tahun 2007, cerita tragedi yang tragis)

ADELIN LIS

MASIH ingat dengan Adelin Lis? Itu lho tersangka pencucian uang yang masih buron sampai dengan hari ini.

Adelin Lis berstatus buron setelah kabur begitu Majelis Hakim PN Medan menjatuhkan vonis bebas dalam kasus pembalakan liar di Mandailing Natal SUMUT, pada 5 November 2007.

Banyak yang menduga, Adelin Lis disembunyikan orang, mungkin termasuk kalangan pejabat tinggi di tanah air, karena dia punya jaringan dan banyak duit.

Aku sich hanya mau sumbang saran, syukur-syukur blog ini dibaca oleh yang berkompeten.

Coba pencarian di fokuskan di Bali, karena kemungkinan besar Adelin Lis masih berada di Indonesia. Di Bali, kelihatannya dia bersembunyi di sebuah rumah di kawasan Kuta.

Kenapa Bali yang dipilih, karena Bali merupakan tempat tujuan wisata. Di sana banyak orang berlalu lalang, sehingga kemungkinan untuk luput dari pengawasan publik sangat besar.

Kita masih ingat, para teroris Bom Bali, yang menjadikan Bali sebagai tempat beraksi dan bersembunyi. Kita juga tentu masih ingat dengan mantan Perdana Menteri Thailand Thaksin Shinawatra, setelah lengser dari jabatan doi berleha-leha di Bali, dan baru ketahuan setelah beberapa hari dia berada di Bali oleh media.

So, ayo dong cari buronan ini sampai ketemu. Jangan sampai nasibnya seperti Edi Tansil, hilang ditelan bumi. Hanya Tuhan dan orang-orang yang membantu dia lari saja yang tahu nasibnya.

Adelin_lis_dan_kaki_tangan_1 Aku juga membuat sebuah lukisan rekaan Adelin Lis dengan seorang yang membuatnya aman sampai dengan sekarang.