CERBUNG: “PENGAKUAN”
"SIALAN!" umpatku. Dari mana Gilang bisa tahu aku nulis tentang dia dan Zakky di blog friendster. Padahal aku tidak pernah cerita-cerita kesiapapun kalo aku ikutan friendster, termasuk kepada Astrid.
Pantesan pagi-pagi kemaren Gilang telpon aku. Aku pikir dia akan menawarkan produk terbaru asuransi dimana dia bekerja. Ternyata tidak, Gilang marah-marah.
"Mas, keterlaluan, masak elo beberin gue di FS!" bentak Gilang. Aku tahu dia marah besar. Biasanya Gilang sangat respek ke aku, bukan dia saja, Zakky juga. Termasuk mantan pacar-pacar Gilang yang telah diputus setelah dia ketemu Zakky.
Aku mencoba menjelaskan, tapi sia-sia. "Gue benci kamu mas!" Telpon ditutup. "Sialan!" sekali lagi aku mengumpat. Cerita ini tidak bisa aku hentikan. Sepanjang perjalanan ke kantor aku berpikir, tentang perasaan Gilang, tentang aku. Aku yakin Zakky belum tahu, dia masih di Rumah Sakit.
***
Setahun yang lalu, tiba-tiba Gilang sudah muncul ditempat kerjaku. Biasanya dia telpon dulu kalau mau mampir.
"Mas, ada waktu gak?" tanyanya basa-basi. "Gak ada!" jawabku sekenanya. Dia agak memaksa aku untuk menerima dia, sepertinya ada yang ingin dia bicarakan. Untung saat itu aku bisa mengambil break diawal, tidak ada kerjaan yang berarti saat itu.
Kami langsung keluar, mencari makan. Gilang seperti ragu-ragu ingin mengatakan kepadaku apa yang dia ingin ungkapkan. "Elo mau ngomong apa lang?" aku membuyarkan keragu-raguannya.
"Aku mau curhat mas," agak malu dia. Mau bicara apa sich si Gilang, batinku. Aku lihat dia menarik nafas agak panjang, lalu berceritalah Gilang. Ceritanya merupakan suatu pengakuan. Pengakuan yang sebenarnya tidak perlu dia ceritakan. Aku anggap ini statement resmi Gilang, semacam legal formal untuk aku, bahwa Gilang seorang gay. Homo.
Gilang rupanya merasa ketertarikan kepada laki-laki sejak kelas 1 SMP, sejak ibunya meninggal. Ada trauma psikologi yang dia alami sehingga dia mengalami deviasi secara seksual. Rupanya ayah tiri Gilang juga seorang homo, Gilang sempat memergoki ayahnya bersetubuh dengan laki-laki saat dia pulang dari sekolah. Gilang semula sangat takut, jijik, marah melihat adegan ayah tirinya itu. Namun setelah itu muncul gairah, Gilang merasakan kehangatan disekitar kemaluannya, kemudian badannya bergelinjang. Tidak ada kemarahan untuk ayah tirinya.
Sejak kenal dengan Gilang aku sebenarnya sudah tahu dia gay. Dari bahasa tubuhnya, dari siapa-siapa saja yang dia kenalkan padaku, tidak pernah perempuan. Teman dan relasinya semua laki-laki, yang ternyata pacar-pacarnya.
Aku hanya sempat berpesan. "Coba kamu cari cewek, terus pacaran atau kawinlah sama perempuan," khotbahku. Agar dia bisa normal. Normal???
***
Aku mematut diri di depan cermin. Sepertinya aku normal. Tidak ada kejanggalan dalam struktur fisik tubuhku. Astrid saja selalu memuji penampilanku, baik saat aku bangun tidur, mau kerja ataupun saat aku mau tidur. Bahkan, dia bisa tertawa kalau sebelum tidur aku menyisir rambutku dulu. Katanya buat apa nyisir, nanti juga berantakan. Betul juga Astrid.
Tetapi aku selalu merasa tidak normal. Aku selalu merasa iri melihat orang-orang diseusiaku masih melakukan hal-hal yang dilakukan oleh orang-orang usia remaja. Atau aku sangat iri dengan orang-orang tua yang masih bisa beraktivitas selayaknya orang muda.
Aku merasa, aku hidup didua dunia yang berbeda. Dunia nyata, ada juga dunia nyata lainnya, tetapi bukan dengan orang-orang yang aku kenal. Kadang dalam duniaku, aku sekelebat saja melihat orang-orang yang kukenal dalam dunia lainku.
Suatu hari sepulang kerja, aku jalan-jalan sendiri disebuah mall. Suasana mall cukup ramai, mungkin karena hari itu hari jum’at. Namun sesaat kemudian, aku tiba-tiba melangkah memasuki sebuah ruangan yang sangat besar, putih bercahaya, tidak ada suara tidak ada orang. Aku terperanjat, bagaimana mungkin aku ada disini. Aku sempat bingung, dan akhirnya aku berteriak-teriak minta tolong. Suaraku bagai ditiup angin, aku teriak langsung senyap, begitu seterusnya. Tiba-tiba aku merasakan kedinginan diujung kaki-kakiku, dingin itu merambat naik mencapai perutku. Aku meronta, aku berusaha mengusap-usap tanganku ke bagian perut agar hangat, tetapi sia-sia. Dingin menjalar kedadaku, keleherku. Aku tidak bisa bernafas! Dadaku serasa mau pecah, tenggorokanku tercekat.
Tiba-tiba ada yang menghampiriku, dia memandangku. Aku meminta tolong, tapi orang berbadan besar berbaju putih berkilau itu hanya mengeluarkan satu ucapan, lirih sekali, tapi sangat bergetar dikupingku. "Belum saatnya!"
Ada apa ini? Kenapa orang-orang mengerubungiku. Aku tidak kenal wajah-wajah mereka semua. Tapi aku tahu aku sedang berada di mall, ya di Mall Ambassador. Aku juga heran, aku dibopong oleh beberapa orang, diantaranya berpakaian Satpam. Mereka sangat terburu-buru sekali, sampai aku juga ikut terengah-engah.
***
Astrid tampak cemas, dia memegang tanganku sambil menangis. Dimana aku? Hidungku kenapa memakai masker, masker oksigen. Kenapa juga ada kabel-kabel didadaku?
"Papa bangun papa…," Astrid menangis menghibah.
BERSAMBUNG…
December 13th, 2007 at 2:30 am
bos…..cerbungnya diselesaiin langsung…jadi mesti nunggu terusannya ,,,:-) regards