CERBUNG: “OPERASI”
ASTRID. Wajahnya itu begitu imut dimataku, dia sedang menangis saat aku sadarkan diri.
"Papa udah bangun ya?" sepertinya dia mengharapkan jawaban dariku. Aku mengangguk. Dia tersenyum, sambil menyeka air matanya dengan tissue, hidungnya memerah matanya sembab. Rupanya dia kebanyakan menangis saat aku pingsan.
Dia anakku satu-satunya, hasil penikahanku dengan Dewi. Dewi istriku, entah dimana dia. Sejak kami bercerai lima tahun yang lalu dia memilih tinggal di Jerman, bersama orang tuanya yang menjadi dosen di sebuah universitas ternama di sana.
Saat ini Astrid, baru kelas 2 SD. Dia gadis yang lincah, cerdas dan mandiri, cuman isengnya minta ampun. Paling suka dia menyembunyikan sisirku. Maklum, aku paling suka nyisir, bahkan untuk tidurpun aku sempatkan untuk nyisir. Dia akan tertawa terbahak-bahak kalo kami mau tidur, terus aku nyisir dulu.
"Pa, nanti juga rambutnya berantakan lagi," katanya sambil ketawa renyah. "Jangan salah, barangkali papamu ketemu cewek cekep dimimpi, khan gak malu-maluin,"celotehku sambil terus nyisir. Astrid guling-guling menahan lucu. Ah, setelah itu kami terlelap dengan mimpi masing-masing.
***
Rupanya aku harus menjalani operasi by pass jantung. Betapa malang nasibku, masih muda tetapi keropos.
"Anda akan dibius total," Dokter Erwin membuyarkan lamunanku. Aku sudah berada di atas meja operasi, peralatan operasi aku dapat lihat dengan ujung mataku. Mengerikan!
Setelah segalanya dianggap beres, dokter Erwin menghampiri aku. "Okey, tenang, rileks… dalam hitungan tiga, anda akan tertidur," katanya sambil memegang tanganku. "Satu…dua….tiga!" Semuanya gelap, aku terlelap. Tidur pulas.
Aku masih merasakan gelap, eh ada cahaya diujung lorong sana batinku. Aku cepat-cepat berlari ke arah cahaya di ujung lorong. Hah, akhirnya aku melihat sebuah rumah.
Aku ingat ini rumahku saat aku masih kecil, sebuah rumah dengan pekarangan luas di Ampana, sebuah kota kecamatan di Kabupaten Poso Sulawesi Tengah. Setelah bertugas selama 10 tahun di Manado, kemudian di Bitung Sulawesi Utara, ayahku dipindah tugaskan di Ampana sebuah kota kecil tanpa listrik.
Untuk menempuh kota ini dari Poso, dibutuhkan waktu sehari semalam, dengan menggunakan mobil jenis Jeep hartop yang kemudian menjadi kendaraan dinas ayah. Harus menempuh jalanan berkubang lumpur, kemudian melintasi beberapa sungai besar dengan rakit kayu dan sekali-kali ketemu dengan segerombolan orang hutan, mungkin monyet kali ya.
Hahaha hore, aku sedang mandi di pesisir pantai Ampana yang indah. setelah itu dengan beberapa teman kami bermain perang-perangan di pusat pasar kota Ampana. Aku selalu menjadi komandan perang.
Sejak kecil bakat kepemimpinanku sudah menonjol. Saat ikut Pramuka siaga, aku selalu menjdi ketua regu. Lho, aku heran sendiri. Kok aku sekarang sudah berada di sebuah alun-alun. Ini bukan di Ampana, terlalu rame di sini.
Rupanya ini alun-alun kota Tegal, ya Tegal. Ayahku hanya 3 tahun di Ampana. Kemudian kami sekeluarga pindah ke Tegal, kota pelabuhan di Jawa Tengah. Hmmm, aku melangkahkan kakiku ke arah kantor pos besar Tegal. Aku senyum-senyum sendiri.
Aku pernah menjadi Juara ke-2 Lomba Menggambar kantor pos Tegal, yang memang sebuah bangunan tua peninggalan kolonial belanda. Kantornya besar, dengan tiang-tiang dan tembok yang kokoh. Aku tersenyum karena saat itu, aku masuk di berita daerah TVRI, waktu itu aku kelas 6 SD. Padahal cuman gambar foto hitam putih yang terpampang di monitor hitam putih TV di rumah kami. Tapi itu cukup membanggakan kami sekeluarga. Keesokan harinya aku disambut bak pahlawan oleh guru dan teman-temanku di sekolah. Maklum, aku khan Juara 2 lomba gambar se-Kabupaten Tegal untuk tingkat SD.
Aku masih tersenyum-senyum. Tiba-tiba, plaaak! sebuah tendangan keras menampar mukaku. Aku terjatuh, wajahku panas sekali, mungkin hidungku berdarah. Oh, ternyata tidak. tapi tendangan tadi cukup membuatku sakit dan sedikit berkunang-kunang.
"Kamu gak apa-apa?" seseorang berseragam putih-putih menghampiriku. Lho, itu khan sabam Siregar. Ada dimana aku sekarang? Horas! Aku sedang di arena sparing tae kwondo di sekolahanku. Cepat sekali aku ada disini, otakku masih mikir. Aku kemudian mudeng, setelah 2 tahun kami di Tegal, ayahku dipindah tugaskan ke Medan. Semboyan "Ini Medan Bung!" masih melekat dalam ingatanku sampai sekarang.
Ikut tae kwondo, sebenarnya lebih kepada gengsi. Biar gak ada yang ganggu, maklum perawakanku cukup mungil untuk ukuran anak kelas 2 SMP, makanya dengan beberapa kawan sekelas kami mengikuti kegiatan ekstra kurikuler tae kwondo. Sejak itu, aku menjadi sangat pede, bahkan saking pedenya, aku malah sering memalaki anak-anak baru kelas 1 SMP dimana aku sekolah. Aku jadi preman kecil-kecilan di sekolah. Aku juga sering kabur dari kelas kalau pelajaran biologi atau matematika. Pelajaran yang sangat aku benci.
Untuk meredam kebandelanku aku diajak oleh ketua OSIS untuk menjadi panitia perayaan Isra Mir’aj di sekolah. "Bam, kamu punya potensi seni," begitu rayu Hendra ketua OSIS yang juga teman sekelasku. Hendra anak pejabat, kami sering panggil nama ayahnya dengan sebutan Mr. HH (kepanjangan dari Harsudiono Hartas, Pangdam saat itu). "Oke, tapi hanya untuk kali ini aja ya. Kalau bukan kau yang ngajak, aku pasti gak mau," kataku dengan logat di batak-bataki.
Dekorasi panggung perayaan isra mir’aj sukses. Kepala Sekolah Pak Rambe sampai terkagum-kagum. Akhirnya disetiap perayaan atau kepanitiaan OSIS aku selalu mejadi seksi dekorasi. Jabatanku kemudian naik menjadi penanggung jawab majalah dinding (mading)sekolah. Tetapi kebiasaan memalak adik-adik kelasku tetap berljalan, hitung-hitung side job. Kebadunganku tidak berhenti.
Aku tertegun. Aku mendengar orang-orang menangis. Ada apa ini, batinku bertanya-tanya.
"Papa meninggal bam," begitu kata orang disampingku. Aku kaget sekali. Orang yang bilang kepadaku adalah ayahku sendiri.
BERSAMBUNG…
January 29th, 2008 at 9:48 pm
sedih banget ceritanya…tp salut mas tuh single parent yah …di tunggu cerita sambungannya (kabel kali)