WANITA TABAH DAN KUAT
Seharusnya tulisan ini aku tulis tanggal 22 November lalu, tepatnya ketika ulang tahun ibuku yang ke-61. Memang sich pas tanggal 22 lalu pagi-pagi setelah sholat subuh aku telah menelpon beliau untuk mengucapkan selamat ulang tahun dan diterima olehnya dengan senang hati dan rasa haru. Begitupun aku, selalu ada rasa haru ketika mengucapkan salam atau sekadar menyapa beliau melalui telephone.
Ibuku, ketika ditinggal oleh ayahku almarhum, februari 1985 lalu, 22 tahun yang lalu. Saat aku, kakakku dan adikku baru meginjak masa remaja. Adalah seorang figur yang tabah, kuat dan setia. Walaupun aku tahu hatinya hancur, ketika harus ditinggal oleh suaminya tercinta. Aku tahu hatinya hancur, sebab setiap aku pulang sekolah beliau selalu kami temui sedang menangis tersedu-sedu mengenang ayahku almarhum, sampai sekarang, sampai aku dewasa.
Aku tahu dia wanita yang kuat dan tabah. Beliau dengan sisa uang peninggalan almarhum ayahku dan uang pensiun ayahku, menyekolahkan kami hingga ke Perguruan Tinggi. Kakakku laki-laki, walaupun terseok-seok menyelesaikan S-1 selama 8 tahun, tetapi dengan semangat ibuku menyuportnya dengan do’a dan air mata, sehingga ia lulus sebagai Sarjana. Adikku perempuan, sejak kecil otaknya paling cerdas, selalu berada di 3 besar ranking di kelasnya, dia masuk ke IPB tanpa seleksi dan dengan cepat meraih gelar sarjana hanya 4 tahun. Aku sendiri, menyadari sebagai seorang anak yatim pada waktu itu, dengan uang pensiun ayahku yang pas-pasan sangat ingin meringankan beban ibuku. Semula aku ingin bekerja saja selepas SMA, tetapi ibuku berpesan, bahwa ayahku ingin semua anak-anaknya menjadi Sarjana. Akupun kuliah dengan menyambi dengan aktivitas yang mengahasilkan uang, aku lulus Sarjana tepat 5 tahun.
Kadang aku berpikir, dari mana uang untuk membiayai kuliah ketiga anak-anaknya, tetapi pikiran anak-anakku tidak pernah menjangkaunya. Dengan berjalannya waktu, aku tahu bahwa dengan ketabahan, kekuatan dan kesetiaan seorang ibuku, disertai do’a beliau kami mampu menjadi Sarjana dan sekarang telah bekerja mempunyai penghasilan sendiri.
Ada satu hal juga yang membuat aku semakin sayang dan terharu dengan beliau, ibuku tidak pernah mau meminta baik berupa materi maupun uang kepada kami. Walaupun kami selalu agak memaksanya untuk beliau menerimanya.
Melalui tulisan ini, aku ingin mengucapkan bahwa aku sangat bangga menjadi anakmu, terima kasih mama. Engkau wanita perkasa dengan doa-doa yang selalu kau keluarkan untuk anak-anakmu. Selamat Ulang Tahun. Aku yakin Papa sedang melihat perjuanganmu dan Allah SWT selalu mendengar dan mengabulkan doa-doamu.
June 2nd, 2008 at 7:54 am
Dari tulisan ini, tercipta sebuah Cerpen “Aku tidak sehebat Kartini”