CERBUNG: “PERKENALAN”
AKU kenal Zakky sebenarnya tidak terlalu disengaja. Saat itu, aku sedang beristirahat karena sakit di rumah. Seorang temanku mengenalkan Zakky denganku ketika Gilang temanku itu membesukku di Rumah tempo lalu.
Aku sendiri agak sungkan untuk berkenalan dengan Zakky. Terus terang bukan karena aku tidak menerima orang asing di rumahku, tetapi lebih ke faktor Gilang. Gilang temanku adalah seorang gay, homoseksual tulen. Aku katakan tulen karena ketertarikannya terhadap lawan jenis alias cewek tidak ada sama sekali.
Aku pernah mengenalkan Gilang dengan seorang kerabat cewek yang kebetulan belum berjodoh, mereka sempat bertemu. Beberapa hari kemudian, Fira kerabatku itu menelpon aku sambil mencak-mencak. "mas, kalo ngenalin cowok ke aku jangan yang gay dong!’ katanya sewot. Aku hanya diam, tidak sangka Gilang akan berterus terang kepada Fira kalau dia seorang gay.
Yup! Gilang sudah lama mendeklarasikan dirinya sebagai seorang homoseksual, sejak dia masih dibangku kelas 1 SMP, saat ketika ibunya meninggal dunia.
Kembali ke Zakky. Akhirnya Zakky dan Gilang datang juga bersama ke rumah, setelah terlebih dahulu sms. Aku tidak membalas smsnya.
Zakky berambut agak keriting, perawakannya sedikit gemuk tetapi tidak juga tinggi, biasa-biasa aja. Tidak seperti Gilang, tinggi menjulang. Orangnya ramah dan banyak cerita. Dari cerita-cerita yang mengalir dari mulutnya, aku tahu dia pernah menjadi juara MTQ tingkat kabupaten di Makassar. Ayahnya dari Bone, ibunya Bugis. Makanya saat waktu sholat maghrib tiba, kami mendaulatnya untuk menjadi imam sholat. Bacaan surat-surat Al Qur’annya lumayan merdu, walaupun ada beberapa panjang pendek bacaan yang masih perlu koreksi.
Aku juga akhirnya tahu, bahwa sejak dia kecil, ada penyakit yang menggerogoti dirinya. Zakky mengidap Leukimia, kanker darah. Rasanya seperti cerita sinetron ketika aku bertutur tentang penyakitnya ini. Dia harus melakukan cuci darah minimal dua kali dalam sepekan. Untuk melangsungkan hidupnya dan agar membuat sel-sel darahnya yang masih sehat bisa mempertahankan metabolisme darah dalam tubuhnya, cuci carah untuk memompa zat zat makanan, oksigen keseluruh bagian tubuhnya. Tentu agar dia dapat terlihat dan berfungsi selayaknya orang normal.
Sejak mengetahui usianya, yang menurut dokter hanya dalam hitungan jari tangan, dia menyibukkan dirinya di sebuah LSM HIV/AIDS di Jakarta. Berbagai aktivitas di LSM-nya dia telah lakukan, mulai sessi Training, Seminar, Advokasi sampai mendampingi para penderita HIV/AIDS agar tetap punya semangat hidup, tepatnya dia menjadi motivator bagi penderita HIV/AIDS di Indonesia.
Aku tidak bertanya kenapa LSM yang peduli dengan HIV/AIDS yang ia geluti. Karena aku sudah tahu jawabannya. Zakky juga seorang gay. Dia berkenalan dengan Gilang di dunia maya, saat chating. Dan Zakky menyadari betul, perilakunya sangat rentan dengan virus mematikan yang belum ada obatnya di zaman super modern ini.
***
Ponselku bergetar. Sebuah sms masuk. Dari Zakky.
"Mas bamby, aku di rmh sakit"
Aku baca sekilas, kemudian aku replay.
"Cuci darah ya"
Sesaat kemudian, ponselku bergetar lagi. Sms Zakky masuk.
"Aku di rawat"
Aku tidak membalasnya.
Terakhir aku mendengar kabar Zakky, saat dia akan mengikuti sebuah seminar Internasional tentang AIDS di Canada, bulan Agustus lalu. Dia sempat menceritakan kesibukkannya mengurus visa canada waktu itu.
"Mas, aku akan ke Canada, mungkin dua minggu," begitu katanya saat dia menelponku di awal Agustus. Rupanya dia sudah di Bandara saat menelponku.
"Wah, udah beres tuh urusan visanya. Akhirnya elo ke Canada juga, Kapan berangkat?" tanyaku.
"Hari ini mas, aku udah di Bandara. Penerbangan jam 23.45," jawabnya santai. Aku melongok jam tanganku, menunjukkan jam 21.00.
"Oke Zak, good luck. Jangan lupa oleh-oleh untuk gua ya!" aku agak sedikit berteriak. Karena saat itu aku berada di depan Gang masuk ke rumahku dekat jalan raya. Aku baru saja pulang dari kantor.
BERSAMBUNG…
November 28th, 2007 at 7:36 am
seru .. kapan ada terusannya, wah.. mas jago nulis ya
January 9th, 2008 at 7:26 am
ingatanku tersadar karena getaran ponselku menandakan ada pesan baru masuk.Masih dari Zakky…”wah nampaknya ini serius”pikirku. “Aku harap kamu punya waktu untuk datang ke rumkit,ada yang mau aku sampaikan…”
Aku melirik ke arloji di pergelangan kiriku…hmmm dua puluh menit lagi jam kerja akan habis, mungkin aku bisa memenuhi permintaan Zakky.”Ada apa dengan Zakky?”pikirku was-was.Bergegas aku selesaikan sisa laporan hari ini. bersambung…
January 9th, 2008 at 8:06 pm
Boleh juga tuh koreksi dari mba Rosi, trims ya. comment di atas lebih pas agar pembaca akan lebih penasaran.
Makasih ya, feed backnya.