Bamby Menulis

Tentang pikiran, rasa, pengalaman hidup dan imajinasi

Archive for November, 2007


CERBUNG : KEPUTUSAN HEBAT

GILANG masuk ke kamar kostnya dengan geram. Hari ini dia menahan amarah yang amat sangat. Dihempaskan tubuhnya di atas spring bad. Sambil memegang kedua kepalanya. Selanjutnya dia menangis terisak-isak. Entah apa yang sedang terjadi pada dirinya.

Beberapa saat kemudian, dia mengambil air wudhu dan pergi sholat. Malam ini dia banyak merenung, biasanya Gilang masing berkeliaran di pusat keramaian ibu kota setelah ia pulang kerja.

Gilang terlahir dari keluarga china. Ayahnya tauke kaya di kawasan sunter 35 tahun yang lalu, saat ibunya melahirkan Gilang, ayahnya meninggal. Ibu Gilang hanya seorang ibu rumah tangga biasa yang sangat tergantung kepada suaminya, ibu Gilang juga china. Setahun setelah kematian ayahnya, ibunya Gilang menikah lagi dengan seorang pria china miskin asal Medan.

Gilang seorang yang cerdas, dari sejak SD hingga SMA prestasi belajarnya sangat cemerlang. Gilang bersekolah di sekolah rakyat biasa, karena dia china, sering sekali dia diledek oleh teman-temannya. Dia sendiri juga heran, kenapa dia dipanggil china, oleh teman-teman SD-nya, rupanya Gilang belum memahami masalah ras saat itu. Harta peninggalan ayahnya, dihabiskan oleh ayah tirinya untuk bermain judi. Makanya Gilang hanya dapat bersekolah dengan anak-anak pribumi di sebuah kawasan kumuh di Tanjung Priuk.

Kelas 5 SD, dengan uang tabungannya Gilang memutuskan untuk di sunat, alias di khitan. Aneh sekali kedengarannya, seorang anak kecil, china lagi, datang ke dokter, untuk di sunat. Tanpa ditemani oleh orang tuanya Gilang nekad memotong ujung kemaluannya, Gilang benar-benar disunat. Rupanya, saat mandi di sebuah sungai dengan teman-temannya, dia sempat melihat kemaluan teman-temannya tidak seperti dia, dan hal ini yang membuat dia terinspirasi untuk menyamakan bentuk kemaluannya dengan teman-teman sepermainannya di sungai. Lucu sekali, pemikiran yang polos, hanya agar tidak berbeda.

Mengetahui anaknya di sunat, ci Kwan ibu Gilang marah besar, tetapi ibunya hanya menangisi kebodohan anaknya. Berbeda dengan ko Acian, ayah tiri Gilang, dihajarnya Gilang sampai anak itu menggigil dan demam berhari-hari.

Ibunya merasa perlu menenangkan anaknya, keesokan hari, ibunya membuatkan bubur ayam kesukaan Gilang. Diusapnya kepala Gilang sambil menciumnya berkali-kali, seolah-olah ingin meminta maaf atas kelakuan ayah tirinya yang membuat tubuh kecil Gilang meriang karena dihajar oleh ayah tirinya.

"Maafkan ibumu, achai," bisik ibunya sambil memeluk Gilang yang tekulai lemas di tempat tidur. Achai, nama china Gilang. Lee Kwan Chai nama lengkapnya di akte kelahiran. Namanya menjadi Gilang Komara, sejak si Achai kecil memutuskan masuk Islam ketika dia kelas 3 SMP.

***

"Gila, elo dapat hidayah dari mana Lang?" begitu aku menanggapi cerita masa kecilnya di sebuah resto McDonald’s di kawasan Senayan.

"Gak tahu mas, waktu gue memutuskan untuk disunat datang begitu aja, gitupun waktu gue mutusin untuk masuk Islam, datang begitu aja," jawabnya enteng sambil mengunyah beberapa potong french fries renyah McDonald’s.

"Tapi, untuk masuk Islam, mungkin karena lingkungan teman-teman gue Islam semua," katanya. Selain itu, keindahan kemundang adzan dan lantunan ayat-ayat suci Al Qur’an dari mesjid kecil seberang rumahnya membuat jiwanya tenang. Begitu tambahan singkat penjelasan Gilang.

Akunya terpekur sedikit. Sambil menyeruput soft drink, ice lemon tea yang aku pesan. Aneh. Tapi ini adalah hidayah Allah. Allah yang maha tahu, batinku.

"Oke…. sekarang, gue mau tanya, kenapa elo jadi gay?" Nada suaraku agak aku pelankan dan aku atur agar tidak terlalu menyinggungnya.

BERSAMBUNG….

CERBUNG: “PERKENALAN”

AKU kenal Zakky sebenarnya tidak terlalu disengaja. Saat itu, aku sedang beristirahat karena sakit di rumah. Seorang temanku mengenalkan Zakky denganku ketika Gilang temanku itu membesukku di Rumah tempo lalu.

Aku sendiri agak sungkan untuk berkenalan dengan Zakky. Terus terang bukan karena aku tidak menerima orang asing di rumahku, tetapi lebih ke faktor Gilang. Gilang temanku adalah seorang gay, homoseksual tulen. Aku katakan tulen karena ketertarikannya terhadap lawan jenis alias cewek tidak ada sama sekali.

Aku pernah mengenalkan Gilang dengan seorang kerabat cewek yang kebetulan belum berjodoh, mereka sempat bertemu. Beberapa hari kemudian, Fira kerabatku itu menelpon aku sambil mencak-mencak. "mas, kalo ngenalin cowok ke aku jangan yang gay dong!’ katanya sewot. Aku hanya diam, tidak sangka Gilang akan berterus terang kepada Fira kalau dia seorang gay.

Yup! Gilang sudah lama mendeklarasikan dirinya sebagai seorang homoseksual, sejak dia masih dibangku kelas 1 SMP, saat ketika ibunya meninggal dunia.

Kembali ke Zakky. Akhirnya Zakky dan Gilang datang juga bersama ke rumah, setelah terlebih dahulu sms. Aku tidak membalas smsnya.

Zakky berambut agak keriting, perawakannya sedikit gemuk tetapi tidak juga tinggi, biasa-biasa aja. Tidak seperti Gilang, tinggi menjulang. Orangnya ramah dan banyak cerita. Dari cerita-cerita yang mengalir dari mulutnya, aku tahu dia pernah menjadi juara MTQ tingkat kabupaten di Makassar. Ayahnya dari Bone, ibunya Bugis. Makanya saat waktu sholat maghrib tiba, kami mendaulatnya untuk menjadi imam sholat. Bacaan surat-surat Al Qur’annya lumayan merdu, walaupun ada beberapa panjang pendek bacaan yang masih perlu koreksi.

Aku juga akhirnya tahu, bahwa sejak dia kecil, ada penyakit yang menggerogoti dirinya. Zakky mengidap Leukimia, kanker darah. Rasanya seperti cerita sinetron ketika aku bertutur tentang penyakitnya ini. Dia harus melakukan cuci darah minimal dua kali dalam sepekan. Untuk melangsungkan hidupnya dan agar membuat sel-sel darahnya yang masih sehat bisa mempertahankan metabolisme darah dalam tubuhnya, cuci carah untuk memompa zat zat makanan, oksigen keseluruh bagian tubuhnya. Tentu agar dia dapat terlihat dan berfungsi selayaknya orang normal.

Sejak mengetahui usianya, yang menurut dokter hanya dalam hitungan jari tangan, dia menyibukkan dirinya di sebuah LSM HIV/AIDS di Jakarta. Berbagai aktivitas di LSM-nya dia telah lakukan, mulai sessi Training, Seminar, Advokasi sampai mendampingi para penderita HIV/AIDS agar tetap punya semangat hidup, tepatnya dia menjadi motivator bagi penderita HIV/AIDS di Indonesia.

Aku tidak bertanya kenapa LSM yang peduli dengan HIV/AIDS yang ia geluti. Karena aku sudah tahu jawabannya. Zakky juga seorang gay. Dia berkenalan dengan Gilang di dunia maya, saat chating. Dan Zakky menyadari betul, perilakunya sangat rentan dengan virus mematikan yang belum ada obatnya di zaman super modern ini.

***

Ponselku bergetar. Sebuah sms masuk. Dari Zakky.

"Mas bamby, aku di rmh sakit"

Aku baca sekilas, kemudian aku replay.

"Cuci darah ya"

Sesaat kemudian, ponselku bergetar lagi. Sms Zakky masuk.

"Aku di rawat"

Aku tidak membalasnya.

Terakhir aku mendengar kabar Zakky, saat dia akan mengikuti sebuah seminar Internasional tentang AIDS di Canada, bulan Agustus lalu. Dia sempat menceritakan kesibukkannya mengurus visa canada waktu itu.

"Mas, aku akan ke Canada, mungkin dua minggu," begitu katanya saat dia menelponku di awal Agustus. Rupanya dia sudah di Bandara saat menelponku.

"Wah, udah beres tuh urusan visanya. Akhirnya elo ke Canada juga, Kapan berangkat?" tanyaku.

"Hari ini mas, aku udah di Bandara. Penerbangan jam 23.45," jawabnya santai. Aku melongok jam tanganku, menunjukkan jam 21.00.

"Oke Zak, good luck. Jangan lupa oleh-oleh untuk gua ya!" aku agak sedikit berteriak. Karena saat itu aku berada di depan Gang masuk ke rumahku dekat jalan raya. Aku baru saja pulang dari kantor.

BERSAMBUNG…

WANITA TABAH DAN KUAT

Seharusnya tulisan ini aku tulis tanggal 22 November lalu, tepatnya ketika ulang tahun ibuku yang ke-61. Memang sich pas tanggal 22 lalu pagi-pagi setelah sholat subuh aku telah menelpon beliau untuk mengucapkan selamat ulang tahun dan diterima olehnya dengan senang hati dan rasa haru. Begitupun aku, selalu ada rasa haru ketika mengucapkan salam atau sekadar menyapa beliau melalui telephone.

Ibuku, ketika ditinggal oleh ayahku almarhum, februari 1985 lalu, 22 tahun yang lalu. Saat aku, kakakku dan adikku baru meginjak masa remaja. Adalah seorang figur yang tabah, kuat dan setia. Walaupun aku tahu hatinya hancur, ketika harus ditinggal oleh suaminya tercinta. Aku tahu hatinya hancur, sebab setiap aku pulang sekolah beliau selalu kami temui sedang menangis tersedu-sedu mengenang ayahku almarhum, sampai sekarang, sampai aku dewasa.

Aku tahu dia wanita yang kuat dan tabah. Beliau dengan sisa uang peninggalan almarhum ayahku dan uang pensiun ayahku, menyekolahkan kami hingga ke Perguruan Tinggi. Kakakku laki-laki, walaupun terseok-seok menyelesaikan S-1 selama 8 tahun, tetapi dengan semangat ibuku menyuportnya dengan do’a dan air mata, sehingga ia lulus sebagai Sarjana. Adikku perempuan, sejak kecil otaknya paling cerdas, selalu berada di 3 besar ranking di kelasnya, dia masuk ke IPB tanpa seleksi dan dengan cepat meraih gelar sarjana hanya 4 tahun. Aku sendiri, menyadari sebagai seorang anak yatim pada waktu itu, dengan uang pensiun ayahku yang pas-pasan sangat ingin meringankan beban ibuku. Semula aku ingin bekerja saja selepas SMA, tetapi ibuku berpesan, bahwa ayahku ingin semua anak-anaknya menjadi Sarjana. Akupun kuliah dengan menyambi dengan aktivitas yang mengahasilkan uang, aku lulus Sarjana tepat 5 tahun.

Kadang aku berpikir, dari mana uang untuk membiayai kuliah ketiga anak-anaknya, tetapi pikiran anak-anakku tidak pernah menjangkaunya. Dengan berjalannya waktu, aku tahu bahwa dengan ketabahan, kekuatan dan kesetiaan seorang ibuku, disertai do’a beliau kami mampu menjadi Sarjana dan sekarang telah bekerja mempunyai penghasilan sendiri.

Ada satu hal juga yang membuat aku semakin sayang dan terharu dengan beliau, ibuku tidak pernah mau meminta baik berupa materi maupun uang kepada kami. Walaupun kami selalu agak memaksanya untuk beliau menerimanya.

Melalui tulisan ini, aku ingin mengucapkan bahwa aku sangat bangga menjadi anakmu, terima kasih mama. Engkau wanita perkasa dengan doa-doa yang selalu kau keluarkan untuk anak-anakmu. Selamat Ulang Tahun. Aku yakin Papa sedang melihat perjuanganmu dan Allah SWT selalu mendengar dan mengabulkan doa-doamu.

ENERGI

Setelah menjalani terapi syaraf di Klinik Pak Haryanto (seorang terapis Neuro Tendo Stimulasi /NTS, master Kungfu dan ahli Chi/prana) beberapa hari yang lalu, aku mencoba membahas masalah energi yang mengalir dalam tubuh manusia.

Dari pembicaraan tersebut, dijelaskan bahwa semua manusia di dalam tubuhnya tersimpan energi, energi itu tidak kelihatan tetapi bisa dirasakan. Ibarat aliran listrik, anda tentu tidak akan pernah melihat wujud aliran listrik, tetapi coba anda sentuh kabel yang sedang dialiri listrik pasti anda akan kesetrum, barulah kita merasakan energi tersebut.

Energi tubuh yang tidak seimbang, bisa mengakibatkan sakit pada manusia. Baik sakit fisik maupun psikis. Pak Har, demikian panggilan pendeknya, dengan sabar menerangkan bagaimana agar energi dalam tubuh kita seimbang, dan dengan energi tubuh kita dipadu dengan energi alam maka banyak sekali tindakan preventif yang dapat kita lakukan sehingga tubuh kita sehat dan terhindar dari sakit. Salah satunya dengan latihan meditasi, agar gelombang otak kita bisa masuk ke gelombang alfa, dan saat itulah kita melakukan afirmasi (lebih tepat doa) untuk kesehatan dan keselamatan ataupun apapun sesuatu yang sedang kita harapkan.

Penjelasan yang sederhana, tetapi buatku sangat bermanfaat. Karena do’a akan mudah untuk di jawab oleh Yang Maha Kuasa Allah SWT, apabila kita melakukannya dengan khusuk (meditatif). Alangkah indahnya hidup tanpa rasa sakit dan cemas.

MOVEMENT

Sudah semenjak setahun terakhir ini, suasana di tempatku bekerja seperti rumah kost yang ditinggal penghuninya. Satu demi satu teman temanku mulai pindah ke perusahaan lain.

Aku katakan seperti rumah kost yang ditinggal penghuninya, mungkin bisa kita bayangkan (anda yang pernah nge-kost), pada saat masih kuliah dulu, apabila ada penghuni yang lulus kuliah dan harus kembali ke kampung halamannya, dia meninggalkan rumah kost yang kita tinggali bersama, satu demi satu, pelan tapi pasti. Anda yang menjadi penghuni terakhir di rumah kost tersebut, akan merasakan ketersendirian, sepi, hampa. Walaupun banyak anak-anak baru yang menempati kamar-kamar kost yang kosong.

Saat ini, perusahaanku memang bukan lagi tempat yang "menyenangkan" untuk sebagian orang, kalau nyaman, mungkin akan banyak yang meng-iya-kan, termasuk teman-temanku yang pindah kerja ke tempat lain.

Hampir setiap bulan, HRD menerima surat pengunduran diri dari teman-temanku. Aku sendiri, seperti anak kost, sedang mencari kost-kost an baru. Tapi, banyak sekali pertimbangan untuk pindah ke tempat kost yang baru.

Akhirnya, dengan semakin tingginya tekanan pekerjaan di perusahaanku, rumah kost ini akan semakin kosong. Di isi oleh penghuni baru. Tidak seceria dulu, humorpun semakin basi ditelingaku.

SELAMAT MENEMPATI KAMAR BARU DI RUMAH KOST YANG BARU.