CERBUNG : KEPUTUSAN HEBAT
GILANG masuk ke kamar kostnya dengan geram. Hari ini dia menahan amarah yang amat sangat. Dihempaskan tubuhnya di atas spring bad. Sambil memegang kedua kepalanya. Selanjutnya dia menangis terisak-isak. Entah apa yang sedang terjadi pada dirinya.
Beberapa saat kemudian, dia mengambil air wudhu dan pergi sholat. Malam ini dia banyak merenung, biasanya Gilang masing berkeliaran di pusat keramaian ibu kota setelah ia pulang kerja.
Gilang terlahir dari keluarga china. Ayahnya tauke kaya di kawasan sunter 35 tahun yang lalu, saat ibunya melahirkan Gilang, ayahnya meninggal. Ibu Gilang hanya seorang ibu rumah tangga biasa yang sangat tergantung kepada suaminya, ibu Gilang juga china. Setahun setelah kematian ayahnya, ibunya Gilang menikah lagi dengan seorang pria china miskin asal Medan.
Gilang seorang yang cerdas, dari sejak SD hingga SMA prestasi belajarnya sangat cemerlang. Gilang bersekolah di sekolah rakyat biasa, karena dia china, sering sekali dia diledek oleh teman-temannya. Dia sendiri juga heran, kenapa dia dipanggil china, oleh teman-teman SD-nya, rupanya Gilang belum memahami masalah ras saat itu. Harta peninggalan ayahnya, dihabiskan oleh ayah tirinya untuk bermain judi. Makanya Gilang hanya dapat bersekolah dengan anak-anak pribumi di sebuah kawasan kumuh di Tanjung Priuk.
Kelas 5 SD, dengan uang tabungannya Gilang memutuskan untuk di sunat, alias di khitan. Aneh sekali kedengarannya, seorang anak kecil, china lagi, datang ke dokter, untuk di sunat. Tanpa ditemani oleh orang tuanya Gilang nekad memotong ujung kemaluannya, Gilang benar-benar disunat. Rupanya, saat mandi di sebuah sungai dengan teman-temannya, dia sempat melihat kemaluan teman-temannya tidak seperti dia, dan hal ini yang membuat dia terinspirasi untuk menyamakan bentuk kemaluannya dengan teman-teman sepermainannya di sungai. Lucu sekali, pemikiran yang polos, hanya agar tidak berbeda.
Mengetahui anaknya di sunat, ci Kwan ibu Gilang marah besar, tetapi ibunya hanya menangisi kebodohan anaknya. Berbeda dengan ko Acian, ayah tiri Gilang, dihajarnya Gilang sampai anak itu menggigil dan demam berhari-hari.
Ibunya merasa perlu menenangkan anaknya, keesokan hari, ibunya membuatkan bubur ayam kesukaan Gilang. Diusapnya kepala Gilang sambil menciumnya berkali-kali, seolah-olah ingin meminta maaf atas kelakuan ayah tirinya yang membuat tubuh kecil Gilang meriang karena dihajar oleh ayah tirinya.
"Maafkan ibumu, achai," bisik ibunya sambil memeluk Gilang yang tekulai lemas di tempat tidur. Achai, nama china Gilang. Lee Kwan Chai nama lengkapnya di akte kelahiran. Namanya menjadi Gilang Komara, sejak si Achai kecil memutuskan masuk Islam ketika dia kelas 3 SMP.
***
"Gila, elo dapat hidayah dari mana Lang?" begitu aku menanggapi cerita masa kecilnya di sebuah resto McDonald’s di kawasan Senayan.
"Gak tahu mas, waktu gue memutuskan untuk disunat datang begitu aja, gitupun waktu gue mutusin untuk masuk Islam, datang begitu aja," jawabnya enteng sambil mengunyah beberapa potong french fries renyah McDonald’s.
"Tapi, untuk masuk Islam, mungkin karena lingkungan teman-teman gue Islam semua," katanya. Selain itu, keindahan kemundang adzan dan lantunan ayat-ayat suci Al Qur’an dari mesjid kecil seberang rumahnya membuat jiwanya tenang. Begitu tambahan singkat penjelasan Gilang.
Akunya terpekur sedikit. Sambil menyeruput soft drink, ice lemon tea yang aku pesan. Aneh. Tapi ini adalah hidayah Allah. Allah yang maha tahu, batinku.
"Oke…. sekarang, gue mau tanya, kenapa elo jadi gay?" Nada suaraku agak aku pelankan dan aku atur agar tidak terlalu menyinggungnya.
BERSAMBUNG….