LEBARAN TIDAK MUDIK
Setiap tahun, menjelang lebaran pasti ada ritual nasional yang melibatkan puluhan juta manusia, namanya mudik.
Tahun ini, seperti tahun lalu atau 13 tahun lalu. Aku tidak bisa mudik pada saat menjelang lebaran, merayakan hari fitri bersama orang tuaku, dengan ibuku, yang tinggal sendiri di Tasikmalaya.
Aku selalu terjebak dalam keramaian lebaran di tempatku bekerja, maklum aku kerja di restoran yang tidak pernah tutup, istilah iklannya 24/7 (24 jam, 7 hari non stop) melayani pelanggan-pelangganku yang tidak sabaran untuk segera mengisi perutnya dengan makanan ala Amerika. Padahal sich, yang paling laku tetap aja ayam goreng dan nasi.
Kadang aku heran sendiri, melihat orang bersemangat mudik sampai mengorbankan keselamatan dirinya dan keluarganya. Atau juga sampai harus berhutang kanan kiri agar bisa mendapat uang secukupnya untuk ongkos mudik. Urusan untuk dapat uang pada arus balik, menjadi nomor 39, seperti nomor sepatuku. Yang penting bisa mudik. Tapi tidak dipungkiri spirit mudik adalah spirit silaturahmi, spirit kebanggaan memiliki kampung halaman.
Dulu, tahun 1994. Pertama kali aku merayakan lebaran sendiri di Jakarta. Saat malam takbiran datang, aku menyembunyikan kesedihanku tidak bisa berkumpul dengan Ibu, sanak saudara dan kerabat di tasikmalaya. Aku memilih masuk kerja di shift malam, agar aku lupa bahwa besok adalah hari lebaran.
Saat hari lebaran tiba, selesai melakukan sholat ied di sebuah mesjid di kawasan Kebon Jeruk. Aku duduk sendirian melihat orang-orang saling berpelukan, bersalaman, ayah ibu, adik kakak, teman saudara, mereka saling bermaafan di hari yang fitri itu. Sementara aku? Aku hanya menonton, sedih sekali. Dadaku sesak, mataku mulai berkaca-kaca, tanpa sadar tangisku pecah. Aku menangis tersedu-sedu di pojokan masjid. Aku berhenti menangis sampai hatiku benar-benar plong, meresapi kesedihan tersebut.
Aku yakin, semua yang mudik, tidak ingin merasa sedih seperti aku saat itu karena tidak mudik. Tetapi bukankah hari lebaran adalah hari kemenangan dan suka cita. Tahun ini, aku tidak mudik lagi, tapi aku sudah mendapatkan rasa bahagia, rasa kemenangan dan Lebaran adalah hari terindah dalam hidupku. Melalui sambungan telephone, aku bersujud di kaki ibuku, mohon maaf lahir dan batin.