Bamby Menulis

Tentang pikiran, rasa, pengalaman hidup dan imajinasi

Archive for October, 2007


Menggambar

Hobbyku sejak kecil adalah menggambar. Aku bisa menggambar orang, alam, benda ataupun karikatur. Biasanya apabila aku dalam posisi Boring Total alias bete, aku pasti akan memainkan jari-jariku di atas selembar kertas untuk membuat gambar, apa saja, bisa gambar orang yang tidak kukenal, atau tokoh kartun, binatang atau suatu peristiwa, seperti hiruk pikuk pasar, orang yang lagi meeting, balapan mobil atau gambar abstrak yang kadang aku sendiri gak ngerti.

Oya, beberapa bulan belakangan ini, tepatnya bulan september, aku suka menggambar apa yang terlintas dalam penglihatan bawah sadarku.

Misalnya, aku pernah menggambar Foto Head Line KOMPAS, ternyata 2 hari kemudian koran Kompas menampilkan gambar foto seperti yang aku gambar walaupun tidak sama persis.

Kemudian, aku menggambar rangkaian Kereta Api yang terguling, dan beberapa hari kemudian ada beritanya di koran dan di TV kereta api terguling.

Sebulan yang lalu, aku menggambar Kapal Laut Tenggelam, tepatnya tanggal 19 September 2007, dan tanganku juga menulis kejadian tersebut terjadi di perairan Tomini Sulawesi Tengah, dan aku sangat tersentak ketika melihat berita tenggelam kapal motor ACITA III di Bau-Bau Sulawesi Tenggara tanggal 19 Oktober 2007. Kejadiannya memang tidak di Tomini Sulteng, tapi tetap juga di sulawesi, tepatnya di Sulawesi Tenggara.

Pernah juga aku menggambar, suasana pesisir pantai, tanganku menulis Donggala. Pada berita Metro TV tgl 21 Oktober, aku melihat puluhan rumah terancam hanyut karena abrasi pantai di Donggala.

Entah kenapa, kemaren, 21 Oktober 2007. Aku menggambar suasana orang terhempas ke langit, karena ledakan bom yang dasyhat di Jakarta. Aku ngeri juga menggambarnya, apakah karena terinspirasi ledakan bom di Karachi yang menewaskan ratusan orang atau hal lain aku gak ngerti, cuman tanganku pengen sekali menggambarnya.

Terus setelah itu aku menggambar wajah seseorang, ternyata mendekati wajah Osama Bin Laden, dan dia sedang melangsungkan Konferensi Pers di sebuah kawasan di Timur Tengah, diliput oleh Al Jazirah TV.

Dua gambar terakhir ini aku berharap hanya gambar tanpa arti apa-apa, hanya gambar karena aku sedang libur kerja dan tidak melakukan apa-apa.

Wuiii…. nulisnya aja aku mikir.

LEBARAN TIDAK MUDIK

Setiap tahun, menjelang lebaran pasti ada ritual nasional yang melibatkan puluhan juta manusia, namanya mudik.

Tahun ini, seperti tahun lalu atau 13 tahun lalu. Aku tidak bisa mudik pada saat menjelang lebaran, merayakan hari fitri bersama orang tuaku, dengan ibuku, yang tinggal sendiri di Tasikmalaya.

Aku selalu terjebak dalam keramaian lebaran di tempatku bekerja, maklum aku kerja di restoran yang tidak pernah tutup, istilah iklannya 24/7 (24 jam, 7 hari non stop) melayani pelanggan-pelangganku yang tidak sabaran untuk segera mengisi perutnya dengan makanan ala Amerika. Padahal sich, yang paling laku tetap aja ayam goreng dan nasi.

Kadang aku heran sendiri, melihat orang bersemangat mudik sampai mengorbankan keselamatan dirinya dan keluarganya. Atau juga sampai harus berhutang kanan kiri agar bisa mendapat uang secukupnya untuk ongkos mudik. Urusan untuk dapat uang pada arus balik, menjadi nomor 39, seperti nomor sepatuku. Yang penting bisa mudik. Tapi tidak dipungkiri spirit mudik adalah spirit silaturahmi, spirit kebanggaan memiliki kampung halaman.

Dulu, tahun 1994. Pertama kali aku merayakan lebaran sendiri di Jakarta. Saat malam takbiran datang, aku menyembunyikan kesedihanku tidak bisa berkumpul dengan Ibu, sanak saudara dan kerabat di tasikmalaya. Aku memilih masuk kerja di shift malam, agar aku lupa bahwa besok adalah hari lebaran.

Saat hari lebaran tiba, selesai melakukan sholat ied di sebuah mesjid di kawasan Kebon Jeruk. Aku duduk sendirian melihat orang-orang saling berpelukan, bersalaman, ayah ibu, adik kakak, teman saudara, mereka saling bermaafan di hari yang fitri itu. Sementara aku? Aku hanya menonton, sedih sekali. Dadaku sesak, mataku mulai berkaca-kaca, tanpa sadar tangisku pecah. Aku menangis tersedu-sedu di pojokan masjid. Aku berhenti menangis sampai hatiku benar-benar plong, meresapi kesedihan tersebut.

Aku yakin, semua yang mudik, tidak ingin merasa sedih seperti aku saat itu karena tidak mudik. Tetapi bukankah hari lebaran adalah hari kemenangan dan suka cita. Tahun ini, aku tidak mudik lagi, tapi aku sudah mendapatkan rasa bahagia, rasa kemenangan dan Lebaran adalah hari terindah dalam hidupku. Melalui sambungan telephone, aku bersujud di kaki ibuku, mohon maaf lahir dan batin.