Bamby Menulis

Tentang pikiran, rasa, pengalaman hidup dan imajinasi

“Pitekantropus Erektus!”

Seandainya Eugence Dubois tidak menemukan manusia jawa purba, yang kemudian ia namai dengan Pitekantropus Erektus, tentu saja aku tidak segeram ini. Tidak akan sampai semarah ini. Aku benar-benar murka, tersinggung dan terlecehkan oleh Kurowanto, seorang Manajer Personalia yang sok ganteng di kantorku.

Hanya gara-gara aku membuat segelas kopi yang terlalu manis, Kurowanto mengataiku seperti Pitekantropus Erektus. Aku tahu, ia sengaja mengatai aku dengan sebutan itu, agar derajatku sebagai manusia modern jatuh hingga sama dengan manusia jaman purbakala. Kurang ajar sekali si Kurowanto! Memangnya aku tidak tahu tentang Pitekantropus? Aku tahu, aku pernah baca dalam buku sejarah. Jangan mentang-mentang kamu Manajer, kamu bisa sewenang-wenang memberi stempel manusia purba kepadaku. Darahku bergelegak.

Namun sedikit demi sedikit kemarahanku kian surut. Entah karena aku mengguyur kepalaku dengan air dari kran washtafel atau memang murkaku sudah reda. Aku menyeka wajahku yang kuyub oleh air dengan kedua telapak tangan. Sambil masih menyeka muka, aku perhatikan wajahku yang terpantul dari cermin di atas washtafel.

“Sedemikian burukkah aku?” aku bertanya kepada pantulan wajahku di cermin. Diriku yang di sebelah kaca bening itu hanya mengatakan hal yang sama dari bibirnya. Aku menepuk-nepuk pipiku, menghilangkan sisa air yang masih menempel. Dengan menggunakan selembar toilet tissue, aku mengeringkan wajahku. Aku rasa emosiku sudah redam. Aku bersenandung dan sedikit bersisir dengan tangan.

“Tidak terlalu buruk,” gumamku, melihat sekilas ke cermin dan kemudian aku berpaling menuju ruang Personalia. Aku akan menemui si Kuro.

Kurowanto tidak aku temui di ruang Personalia, seorang stafnya mengatakan bahwa Pak Kuro sakit perut mendadak sehabis minum kopi. Kopi kemanisan buatanku tadikah yang membikin perutnya mulas mendadak? Aku hanya tersenyum, menyumpahinya. Puas kamu!

“Mas Kuncoro, ada urusan apa dengan Pak Kuro?” tanya Dona staf personalia yang lain.

“Ah, tidak ada kok Mbak Dona. Kalau begitu saya pamit dulu,” jawabku tergeragap.

“Kayaknya dia tadi memarahi Mas Kuncoro ya? Kenapa?” tanya Dona seperti penasaran dengan urusanku. Dona tidak menyebut lagi Kuro dengan kata Pak, tetapi dia. Aku pikir pasti mereka juga merasa senang si Kuro pulang karena sakit perut.

“Ya, Mbak. Tadi saya membuatkan kopi untuknya, katanya kemanisan. Lalu saya dikatai…” belum sempat menuntaskan perkataanku. Dona dan staf personalia yang lain berbareng mengatakan,”Pitekantropus Erektus! Ha ha ha…!” Pecah tawa mereka.

Sialan! Ternyata mereka juga sama saja dengan Kurowanto, batinku kesal sambil keluar dari ruangan Personalia dengan darah kembali mendidih. Aku membanting pintu.

Aku kembali ke dalam toilet. Berdiri terpaku di depan cermin di atas Pitekantropus_erektus meja washtafel. Sesaat kemudian aku membasuh wajah dengan air kran. Segar! Dengan seksama aku perhatikan raut wajahku di cermin, di sana terpantul seraut wajah dengan tulang dahi menonjol, tulang hidung melesak ke dalam alias pesek dan mulut sedikit monyong Pitekantropus karena struktur gigi yang menonjol ke depan. Ada lagi, tulang pipiku sangat menonjol. Pantas memasuki usiaku yang berkepala empat, aku belum pernah memiliki kekasih wanita yang dengan tulus  mencintaiku. Pantas, Kurowanto mengataiku Pitekantropus Erektus. Karena aku memang mirip dengan gambaran manusia jawa purba yang ditemukan oleh Eugence Dubois itu. Tidak pantas aku marah yang pantas aku menangis!***

Bertemu di Ruang Tunggu

Tasikmalaya, 16 Agustus 1987.

Pagi sangat cerah, sebagian masyarakat kota Tasikmalaya telah beraktifitas semenjak subuh usai tadi. Saya dan beberapa teman tim ekspedisi pendakian gunung Galunggung sudah berkumpul di halaman pendopo kantor Walikota.

Saya bersalaman dengan Walikota Tasikmalaya, kemudian kami melepas sepasang burung merpati berwarna putih sebagai simbol dimulainya kegiatan pendakian gunung Galunggung perkumpulan siswa pencinta alam sekolah. Saya adalah ketua perkumpulan, sekaligus ketua ekspedisi pendakian gunung Galunggung. Kami akan mengibarkan bendera merah putih tanggal 17 Agustus di puncak Galunggung.

Gunung Galunggung untuk masyarakat Tasikmalaya mempunyai daya tarik sekaligus kenangan yang tak terlupakan, gunung tersebut meletus di paruh tahun 1980 yang membuat kota Tasikmalaya dan sekitarnya tertutup awan hitam berbulan-bulan akibat hujan debu dan pasir. Pasir yang menutupi seluruh wilayah Tasikmalaya kemudian dimanfaatkan untuk percepatan pembangunan Bandar Udara Soekarno-Hatta dan beberapa ruas jalan tol di Jakarta.

Saya merapikan posisi ransel, memandang anggota ekspedisi dan mengajak mereka berdoa sebelum memulai perjalanan pendakian. Kemudian kami menaiki sebuah truk pasir yang telah dipersiapkan untuk membawa kami ke kaki gunung Galunggung di sebuah desa kecil bernama Indihiang.

Semenjak kematian Ayah dua tahun yang lalu, saya menjadi dewasa dari segi pemikiran dan bersikap untuk ukuran remaja kelas tiga SMA. Pemikiran dewasa yang memancarkan aura kepemimpinan yang cukup berkesan, saya menjadi ketua OSIS sekaligus ketua perkumpulan pencinta alam sekolah.

Harapan saya bersekolah di Tasikmalaya terpenuhi, tetapi berkat kematian Ayah. Ayah dimakamkan di Tasikmalaya kota kelahiran Ibu saya.

Tidak sulit mencapai puncak gunung Galunggung, karena rute ini sudah beberapa kali kami daki. Dan di puncak ini sebelum kami mengibarkan bendera merah putih sesuatu terjadi. Sesuatu yang membuka kenangan di kompleks perumahan saat di Medan dulu.

Saya berdiri berkacak pinggang memandang ceruk lembah raksasa yang tergenang air dari puncak gunung, kawah ini sangat indah, air dalam kawah menyerupai birunya lautan, seperti lautan mini di tengah samudra.

Saya berdiri di atas sebuah batu besar yang menjorok ke arah kawah, tepatnya sebuah jurang menganga terbentang di bawah sana. Saya kemudian menikmati semilir angin pegunungan yang sejuk membuai.

Dari kejauhan saya melihat teman-teman memanggil saya dengan suara keras bernada gusar, saya menatap mereka heran, mereka terus memanggil-manggil dan melambaikan tangan. Sebagian metutup mata mereka, sebagian tercekat. Heri wakil ketua ekspedisi berlari ke arah saya, tangannya berupaya menggapai. Saya tidak paham apa yang terjadi. Heri berubah menjadi kabut asap di depan mata saya, seperti embun pagi yang tiba-tiba menetes jatuh di atas daun dari udara. Gema gaung suara Heri yang memantul terdengar seperti sangat jauh, jauh dari jangkauan nalar saya.

“Pegang tanganku Galih, Galiiiiih……..” teriakan Heri lamat-lamat menghilang.

Pusaran kabut putih tipis kemudian menggulung-gulung di depan saya, membentuk spiral angin ternado dan berubah menjadi bayangan hitam pekat besar. Gulungan angin menghancur semua materi yang di ada di depan dan di sekeliling saya. Batu-batu terangkat ke langit, batang pohon dan daun-daun kering. Gemuruh angin sangat dashyat, saya belum menyadari apa yang terjadi.

Tubuh saya terangkat ke langit mengikuti angin yang menggulung, badan saya seperti kapas tak berdaya tetapi kenapa saya dalam keadaan sadar? Bayangan hitam pekat itu. Saya ingat, bayangan itu yang mebuka pintu rumah kami di Medan di tengah malam dan kemudian pergi bersatu dengan kegelapan malam mengikuti angin bercampur udara.

Saya merasa baru saja berpisah dengan dunia saat gulungan angin terus mengangkat tubuh saya ke langit. Sangat tinggi, menjauh terus menjauh melampaui awan-awan tebal yang dingin, semakin tinggi, tinggi dan akhirnya terhempas bukan ke langit apalagi ke surga,tetapi ke sebuah ruang.

***

Rupanya saya berada di sebuah ruangan dengan kursi-kursi panjang berderet, dinding ruangan ini menghembuskan hawa dingin sedingin es, hidung saya berembun saat bernafas.

Saya bersedekap, berdiri dan mengelilingi ruangan ini. Seperti ruang tunggu bergumam saya tak terucap.

“Kak Galih!” saya mendengar sebuah suara panggilan dari seseorang, seorang anak kecil, suara itu, itu suara Bayu!

“Bayu…?! Kamu dimana?” saya berseru bertanya mengedar pandangan.

Tiba-tiba sebuah cahaya putih menyilaukan pandangan mata saya, cahaya itu menyengat menyakitkan bola mata. Mata saya pejamkan untuk mengurangi efek sakit dan membukanya lagi setelah efek sakit berkurang. Agak sedikit berkunang-kunang saya melihat Bayu sedang bermain di depan saya.

Bayu adalah adik Rizal teman saya di Medan, Bayu meninggal karena sakit radang otak akut. Bayu berhenti bermain bola-bola bercahaya, seperti bola kristal, rupanya pantulan cahaya bola Kristal itu yang membuat bola mata saya sakit.

“Kak, aku menunggu lama di sini,” ucap Bayu cadel anak kecil.

“Kamu menunggu aku di sini? Lama?” tanyaku mashgul. Saya mendekati Bayu, mengelus-elus rambutnya yang pirang lembut. Hal yang sering saya lakukan saat ia masih hidup. Ia tersenyum lucu.

“Kak Galih, batunya masih kakak simpan?” kali ini Bayu yang bertanya.

“Batu apa Bay?” balas bertanya saya.

“Batu sungai Kak!” suara Bayu yang cadel terhenti. Ia menangis. Saya menjadi bingung. Ada apa dengan batu sungai yang dimaksud oleh Bayu?

“Batu itu kakak harus balikin…” lanjut Bayu merengek menatap saya, air matanya berderai. Saya mencoba merengkuh tubuh mungil Bayu, ia menepis. Bayu berlari ke arah sebuah pintu tanpa daun pintu, tubuhnya menghilang di ujung pintu.

“Batu yang mana Bay?” teriak saya.

“Batu yang membuat aku menunggu lama di sini….” sahut Bayu suaranya lenyap seketika.

Saya berusaha untuk memanggilnya, agar ia kembali ke ruangan dan mau bercerita tentang batu yang membuat ia harus lama menunggu di ruangan dingin ini.

Saya penasaran, saya panggil Bayu berkali-kali hingga suara saya parau. Saya berusaha mengingat tentang batu yang dimaksud Bayu.

“Bay… Bay.. Bayuuu….” Suara saya melemah masih terus memanggil Bayu, dari mulut saya keluar banyak darah dan darah itu tertelan setiap saya berteriak memanggilnya.

Sesosok bayang-bayang putih samar-samar terlihat sedang memegang wajah saya sambil berkata,”Tenang, tenang… jangan bersuara dulu, kamu pasti akan baik-baik saja.” Saya berusaha berontak.

“Siapa kamu?” hardik saya lemah. “Kamu malaikat maut kah? Kamu ingin saya mati ya!” bentak saya berusaha untuk bangun.

“Kamu tidak akan mati, kamu tenang saja, coba kamu tidur lagi,” katanya lembut menenangkan. Bayangan putih itu sibuk membuat sesuatu di wajah saya, sepertinya ia sedang menjahit. Ia menjahit wajah saya.

“Saya dimana, saya dimana? Kenapa saya ada di sini?!” teriakan saya mengeluarkan buih-buih warna merah, darah dari mulut bersemburan memerahkan sprei ranjang berbahan flannel tebal. Masih samar-samar dalam penglihatan bayangan putih itu menyuntikan sesuatu ke tangan saya. Setelah itu rasa kantuk menyerang. Saya tertidur. Tanpa mimpi.

***

“Galih kamu sudah sadar Nak?” itu suara Ibu nadanya cemas menahan isak. Saya terbangun, tetapi saya tidak bisa bangun, seluruh persendian kaku, sakit dan ngilu. Untuk bangkit dan duduk pun saya tak mampu. Ingatan saya mulai menggumpal, serpihan-serpihannya mulai menyatu dan menyentuh syaraf otak saya. Memori saya pulih.

“Saya dimana Bu?” tanya saya lirih memandang Ibu yang duduk bersimpuh di samping ranjang putih tanpa corak.

“Kenapa saya di sini Bu? Saya khan sedang berada di gunung, saya belum mengibarkan bendera di sana Bu!”

“Galih, kamu mengalami kecelakaan. Kamu jangan banyak bicara dulu, luka-lukamu masih basah dan berdarah,” Ibu saya berusaha membuat tenang dibalik isakan tangis tertahan. Saya beristigfar.

Kemudian saya mengangkat kedua tangan yang penuh dengan perban dan selang infus di lengan kiri. Kaki kanan tidak bisa saya gerakan, seperti terbungkus beton cor dan sesuatu yang mengerikan menghinggapi perasaan, wajah saya tertutupi perban persis seperti mumi. Hanya bagian mata, lubang hidung dan mulut yang tidak tertutupi perban. Saya merasakan sakit yang luar biasa, seperti sembilu yang menyayat entah di bagian apa. Hati atau jantung, tidak tahu.

Rasa sakit bertambah saat bahu saya terguncang menangis. Kecelakaan yang menimpa saya di gunung Galunggung, membuat kaki kanan patah dan wajah saya hancur, sobek dengan gigi-gigi di mulut rontok. Tubuh saya terjatuh di ceruk kawah, terguling-guling dan menghantam batu. Saya diselamatkan oleh team SAR kota Tasikmalaya.

Tetapi saya tidak ingin hidup lagi, saya ingin bertemu Bayu di ruang tunggu yang dingin, saya lebih ingin bertemu kematian. Waktu itu umur saya 17 tahun.***

Bersambung…

Tentangku dalam 100 kata

Perkenalkan, namaku Bambang Cahyadi. Namun, apabila anda mau Bamby_dan_dagu_plus_gelang panggil aku dengan Bamby berarti anda telah sangat akrab denganku. Posturku tidak segagah namaku yang Bambang itu, aku tidak tinggi tetapi aku juga tidak mengakui kalau aku pendek. Toh, kalau aku dikatakan berperawakan kecil aku lebih bisa menerimanya.

Aku bukan penulis, tetapi sangat ingin menjadi penulis. Karena pekerjaanku saat ini tidak ada hubungannya dengan dunia tulis menulis. Terkadang aku merasa hidup di dunia khayal dan imajinasiku. Seperti mimpi yang berakhir saat aku terbangun.

Mimpi, itulah yang ingin aku bangun dalam keterjagaan. Karena dengan mimpi aku berusaha untuk hidup mendirikan imajinasi dalam cerita.***

TATTOO

Pernahkah merasa tersanjung dan merasa bersalah seperti ini? Ada seorang wanita yang mengabadikan kebaikanmu, ketulusanmu dan cinta kasihmu dengan merajah tubuhnya, tepatnya di punggung badannya yang mulus tanpa cela dan di lengannya yang halus dengan otot sintal. Merajah tubuhnya, rasanya terlalu kasar kalimat itu untukmu, lebih pas kamu membuat dua buah tato  di punggung dan di lenganmu tanpa sepengetahuanku.

Sepulang dari Lombok, setelah kamu bersusah payah untuk mendapatkan ijin cuti. Kamu sempat mengeluh boss-mu tidak akan memberikan ijin untuk rehat dari rutinitas kerja yang membosankan. Ternyata dugaanmu salah, boss-mu langsung menyetujui rencana cutimu. Mungkin dia tahu kamu sudah berada di titik jenuh, dia khawatir kamu bekerja tetapi tidak produktif. Akhirnya kamu memilih Lombok untuk membunuh kebosananmu. Sekarang kamu sudah selesaikan masa cutimu yang mengasyikan itu.

Aku menjemputmu di Bandara, sebuah terminal besar yang hiruk pikuk seperti pasar atau layaknya terminal bus sesungguhnya yang penuh dengan calo penawar jasa apa saja. Mau taksi gelap, pengangkut barang, menawarkan parfum atau menukarkan mata uang semuanya ada, komplit.

Kamu keluar mendorong troli yang dipenuhi dengan koper besar dan jinjingan lainnya. Wajahmu berseri, walaupun kulitmu terlihat agak legam kemerahan, mungkin kamu terlalu sering berjemur di pantai Senggigi. Matahari telah menyengatmu, tetapi kamu tetap cantik dengan rambut panjang tebal tergerai. Kamu menyibaknya di depanku. Seraya menciumiku, bukan di pipi melainkan di bibir, melumatkan bibirku di keramaian terminal Bandara.

“Aku kangen kamu Mas,” katamu sambil menatap mataku dan masih memelukku. Belum sempat aku membalas ucapanmu, ujung bibirmu kembali mengerat bibirku. Aku kangen juga sama kamu batinku sedikit mengulum bibirmu, masih di depan umum. Aku dengan halus melepas pagutan.

“Digigit, digigit…!” suara orang iseng kampungan terdengar di kupingku, aku panas, meliriknya dengan ujung mata. Laki-laki itu mengalihkan pandangannya ketika bola mataku bersitatap dengannya. Lelaki tukang parfum yang culun, tadi ia menawari parfum aspal mengaku asli tetapi palsu dengan harga selangit kepadaku.

“Monik, mobil aku parkir di ujung sana, troli biar aku dorong,” kataku mengambil alih pegangan troli. Aku ingin kamu melenggang. Kita berjalan menuju pelataran parkir tanganmu masih merengkuh pundakku, kamu kangen aku Monik? Kangen sekali tentunya sayang.

Di mobil, tidak henti-hentinya bibir sensualmu berbicara tentang keindahan pantai-pantai di Lombok. Ya, benar! Bali bukan satu-satunya pulau yang menawarkan keindahan eksotik pantai, pilihanmu Lombok dan sepertinya telah terbukti.

Sayangnya aku tidak bisa menemani kamu menyaksikan indahnya pantai pasir putih atau sekadar berkeliling kota Mataram yang asri, kamu sangat tahu alasannya sayang. Sayangku Monik, tiba-tiba ada sesuatu yang kamu ingin katakan tetapi lidahmu tampak keluh. Tidak seperti biasa, kamu sangat lancar berbicara tentang pantai, gunung atau aksesoris dan kosmetik. Kenapa tiba-tiba bibirmu keluh? Nanti akan aku ceritakan sesampai di rumahku. Itu saja yang terucap, selanjutnya kita menikmati kemacetan jalanan tol Jakarta. Seharusnya jalan tol ini bisa lebih bebas hambatan dari jalan raya biasa, karena untuk masuk dan melintasi fasilitas jalan bebas hambatan ini kami harus bayar, tetapi kenapa ternyata kemacetan justru terjadi di jalan yang bebas hambatan ini dan harus bayar pula! Tanya kenapa? Kata sebuah tag iklan rokok. Kira-kira begitulah penjelasannya.

Monik mempermainkan ujung rambutnya, matanya memandang jalanan dan kemudian menatapku.

“Gimana proyekmu, Lancar Mas?” tanyamu, sepertinya berbasa-basi.

“Lancar, gak ada masalah berarti, mungkin bulan depan selesai,” balasku menatapmu lekat, jujur aku sangat rindu kamu Monik.

“Bagus deh!” decaknya.

“Kamu besok udah kerja lagi khan?” tanyaku memastikan hari masukmu setelah cuti seminggu penuh ini.

“Udah sih, tapi aku gak langsung turun ke lapangan, mungkin merapikan administrasi yang terbengkalaian saja,” jawabmu bermalas-malas di pundak kiriku.

Akhirnya kemacetan terlampaui. Kami kemudian memasuki sebuah jalan kecil dan sampailah di rumahmu. Seorang pembantu perempuan berusia setengah baya dengan memakai kebaya membukakan pintuk gerbang rumahmu yang terbuat dari besi tempa hitam. Kenapa pembantumu selalu berkebaya? Apakah agar ia kelihatan seperti pembantu sesungguhnya? Seperti emban-emban yang melayani tuan putri di keraton. Itu tidak penting katamu, aku juga sependapat. Membahas masalah pembantumu yang berkebaya tidak penting. Mari berbicara sesuatu yang lebih penting, bergairah dan kerinduan yang menggebu dan membuncah.

“Mas, kopernya taruh situ aja dulu,” jari telunjukmu menunjuk sebuah pojok di ruang tamu.

“Oleh-oleh untukku mana?” sindirku mengingatkan.

“Tentu ada sayangku,” ujarmu manja menarik aku masuk ke kamarmu.

Ah, rasa rinduku terobati membaui ruangan kamarmu, merasakan ranjangmu dan menginjak karpet Persia tebal di telapak kaki. Hawa AC menyemburkan kesejukan. Sekarang aku yang melumat bibirmu tanpa permisi. Maaf, aku lebih percaya diri menciummu di dalam ruangan seperti kamar ini Monik. Kamu membalas dengan memasukan lidah dalam rongga mulutku, lidahmu kugigit. Kamu berdesis. Aku mulai tidak sabar. Dan saat itu kamu menepis tanganku lembut. Agar aku tidak tersinggung.

“Mas, kabar istrimu gimana?” tanyamu menjauhi jangkauan tanganku, membereskan kancing baju yang terbuka.

“Baik. Baik, dia baik. Kenapa?” tanyaku balik bertanya dan menghempaskan tubuh ke ranjang sembari membuang nafas.

“Rasanya sudah lama aku tidak bertemu dia,” katamu. Haruskah kamu selalu bertemu dengan dia Monik. Jangan macam-macamlah, hubungan kita ini sudah sangat macam-macam, jadi jangan menambah masalah dengan pertanyaan macam-macam. Tentu aku bicara dalam hatiku.

“Mas… Aku mau bicara tentang sesuatu yang tidak sempat terucap saat di mobil tadi,” pelan sekali kamu berbicara.

“Tentang apa itu? Bicara saja.” Terkadang akan lebih sulit berbicara langsung, alangkah senangnya hidup di jaman sekarang, bicara bisa lewat ponsel dengan cukup menulis pesan singkat atau melalui e-mail yang tidak perlu memasukannya ke kotak pos dan menunggu beberapa hari untuk mendapatkan balasan jawaban. Apabila kita sungkan untuk bicara langsung kepada seseorang, cukup mengirim sebaris sms itu sudah lebih dari cukup, tentu bukan cukup ukuran kesopanan.  Tetapi paling tidak merasa tidak enak hati tertutupi tekonolgi.

“Aku persembahan ini kepadamu….” Ucapmu membuka pembicaraan yang kamu maksud.

Perlahan Monik membuka bajunya. Pelan sekali membuka kancing bajunya satu demi satu. Aku bertanya-tanya dengan perasaan berdesir. Kemeja model hem itu belum sepenuhnya terlepas dari tubuhnya, payudara Monik dengan balutan bra berwarna hitam bling-bling sedikit membuat jantungku berdegup. Monik malah membuka dan melepaskan bra hitam bling-bling itu. Dadanya mancung kencang berisi dan padat, salah satu sebab aku jatuh cinta kepadanya dan sebab-sebab lainnya. Ah, Monik sedang mempermainkan libidoku kah? Kurasa tidak. Ada sesuatu yang serius yang akan ia diperlihatkan kepadaku.

“Tarraaaaa…..!” serumu dengan keriangan yang luar biasa.

Ia membalik badannya, membelakangiku seraya melepas utuh kemejanya. Oh! Wajahku pucat pasi, mungkin karena terlalu kaget memandangi punggung tubuhmu.

“Mas, aku membuat tato ini sebagai rasa cintaku yang sangat besar untukmu,” katanya masih membelakangiku.

Di punggung yang semula bersih dan mulus itu kini terpampang sebuah gambar, sangat indah. Lukisan di punggung tubuh Monik itu, adalah gambar sepasang orang bersayap, gambar seorang lelaki bersayap sedang rebahan dan gambar seorang perempuan bersayap juga sedang terbang di atas lelaki bersayap itu. Bukan kah itu gambar malaikat pada umunya yang dikenal oleh manusia? Mereka tidak berpakaian, mereka telanjang, tetapi tidak benar-benar telanjang masih ada sebuah daun, mungkin daun tanaman perdu, yang menutupi kemaluan sang lelaki dan selembar selendang tipis yang menutupi payudara sang wanita bersayap. Monik membuat lukisan dipermukaan kulitnya, itu tidak akan hilang. Tidak seperti kanvas yang dilukis dengan cat minyak, bisa hilang dibasuh cairan tinner.

“Ada lagi Mas!” tanda keabadian, katamu melanjutkan percakapan dibuat oleh seniman tato ternama di tepian pantai Senggigi sembari menanti matahari terbenam di ufuk sebelah barat sana.

Sebuah tato berukuran kecil di lengan kanannya, bergambar dua buah hati yang tertusuk anak panah dengan sebuah tulisan kecil Monik dan namaku. Aku tidak perlu menyebutkan namaku di sini. Monik mendedikasikan kedua buah tato itu untukku. Dedikasi yang sangat menyanjungku sekaligus melambungkan rasa bersalahku, membuatku berpikir untuk memilikimu seutuhnya dan melepaskan istriku. Pertanyaannya, pernahkah anda tersanjung seperti ini dan juga bersalah? Tentu tidak akan untuk pengkhianat cinta.***

PEMUDA PENJAGA LIFT

Catatan cerita : Menurut saya dunia roh punya kehidupannya sendiri, seperti dalam cerita ini :

PEMUDA PENJAGA LIFT

“Selamat pagi, ke lantai berapa Pak?” tanyamu kepada seorang Bapak berpakaian safari rapi dan perlente. Bapak itu kemudian memperlihatkan lima jarinya tanpa bicara, kamu rupanya sudah paham, tombol lift kamu pencet angka 5. Kamu juga selalu berpakaian rapi, rambutmu selalu tersisir dengan sedikit minyak rambut membuat rambutmu berkilau apabila tertimpa cahaya lampu lift.

Kamu selalu tersenyum ramah kepada setiap orang yang menggunakan lift ini, setiap hari, mungkin setiap shift-mu karena pasti kamu pun membutuhkan libur untuk mengatasi kebosanan menjaga lift dan bertanya ke lantai berapa kesetiap orang yang menggunakan lift di apartemen ini setiap hari.

Hari ini kamu tidak berada di dalam lift ini. Seorang wanita muda menjaganya, mungkin kamu libur. Wanita muda itu tidak seramah kamu, senyumannya seperti senyuman yang dipaksakan tidak tulus. Sepertinya ia sangat terpaksa menjalankan profesi menjaga lift dari pada tidak bekerja sama sekali.

Sudah hampir sebulan kamu tidak menjaga lift dan sebulan ini beberapa petugas pengganti silih berganti. Kamu kemana? Apakah kamu sakit? Ataukah kamu mendapatkan pekerjaan baru?

Ingin sekali aku bertanya kepada temanmu, wanita muda yang sekarang menjadi penjaga lift itu. Sudah sebulan kamu tidak bertugas, tetapi tidak aku lakukan, aku tidak mau semuanya berubah menjadi runyam dan kacau.

Pagi ini sangat sepi, aktifitas apartemen belum dimulai seperti biasa aku memasuki lift. Aku sangat senang pagi ini aku menemui kamu berada di dalam lift dan sudah bertugas kembali.

“Mau ke lantai berapa Mbak?” tanyamu dengan suara yang sangat ramah. Aku terkejut bercampur bahagia kamu sudah menjaga lift ini lagi. Sambil memandangmu aku mengacungkan kesepuluh jariku, ke lantai 10. Kamu memencet tombol angka 10.

Tiba-tiba lift berhenti mendadak di lantai 2 padahal tidak ada orang yang berhenti untuk keluar di lantai 2. Pintu lift terbuka, masuk wanita muda penjaga lift penggantimu itu, ia bersama temannya, tetapi mereka tidak menegurmu. Kamu pun diam saja tidak menegur mereka. Aku dan kamu terdiam dalam bisu, hanya teman-temanmu yang berbicara.

“Sudah sebulan aku bekerja di sini, baru kali ini aku merasakan bulu kudukku berdiri merinding seperti ini,” kata wanita muda itu kepada temannya dengan ekspresi seperti orang yang ketakutan.

“Ya, aku juga merasakan hal yang sama,” kata teman wanita muda itu sambil bergidik dan memegang lehernya sendiri.

“Apa mungkin rohnya si Markum penjaga lift yang meninggal kecelakaan motor sebulan yang lalu sedang gentayangan di sini ?” lanjut wanita muda penjaga lift itu kepada temannya sambil memencet tombol lift ke lantai dasar.

“Mungkin saja, dulu juga waktu seorang gadis muda bunuh diri dari lantai 10 di lift ini sering terjadi sesuatu yang aneh-aneh dan menyeramkan,” kata temannya.

Terus terang aku sangat terkejut. Pandanganku beralih kepadamu yang sedang berdiri manis di pintu lift sambil tersenyum, mengangguk dan mengangkat bahu. Kamu bernama Markum. Pantas kamu bisa menegurku pagi ini.***

Kumpulan Cerita 100 Kata

Cerita-cerita di bawah ini adalah cerita pendek 100 kata, kalau ingin iseng menghitung jumlah kata dalam cerita-cerita ini ditanggung pasti jumlahnya 100 kata.

PERAMAL

Aku melihat guratan tangan kiri. Sebagai peramal aku menyarankan tangan kiri alasannya jarang dipakai.

“Hmm, garis tangan ini agak membingungkan!” gumanku

“Garis percintaan, kacau balau, tidak ada seorang wanitapun yang tertarik,” kataku memperhatikan garis jodoh.

“Untuk garis keuangan, juga sangat buruk, hutang di sana sini, gali lubang tutup lubang,” desahku.

“Kesehatan, sering sakit-sakitan. Terutama sakit kepala, apabila sakit kepala telah mendera bagaikan palu godam menghantam!” cerocosku berbusa.

“Apabila kelak menikah, punya kecenderungan untuk berpoligami,” kataku mantap.

“Ada tiga garis kecil nyata di bawah kelingking, itu garis penikahan!” tandasku.

Aku mengangkat tangan kiri itu. Betapa kagetnya aku, itu tanganku sendiri!***

KETIKA BERTEMU TEMAN

Ada perasaan kurang nyaman merambat di relung hati ketika harus bertemu dengan teman-teman lama, terutama mereka yang terakhir bertemu denganku di akhir tahun 2005.

Mereka selalu memandangku prihatin, kasihan dan selalu menanyakan kondisi kesehatanku.

“Apakah kamu merasa sehat?”

“Kenapa kamu begitu kurus?”

“Kamu masih sakit?”

Pertanyaan disertai pandangan yang bermaksud mendapatkan jawaban dariku, tetapi malah menjalarkan energi negatif buat pikiranku. Dan setiap selesai bertemu mereka, aku merasa terpuruk terpukul, begitu burukkah kondisi fisikku sekarang?

Rasanya lebih baik aku mencari dan bertemu dengan teman-teman baru, yang belum pernah mengenal sosokku sebelumnya. Karena mereka mengenal diriku dengan sosok  apa adanya.

DI DALAM KERETA BAYI

Hampir setiap hari pasangan suami istri itu berada di taman kota, mereka selalu membawa kereta dorong bayi tertutup berwarna biru tua. Pagi dan sore setiap cuaca cerah mereka bermain di taman kota dengan sang bayi.

Warna biru tua kereta dorong, setua usia mereka. Sang suami sudah terbungkung bungkuk dan sang istri berambut kelabu dengan raut wajah keriput.

Mereka selalu memandang ke dalam kereta dorongan bayi itu sambil tersenyum atau sesekali membunyikan mainan berkerincing. Pasti sang bayi merasa senang dan bahagia selalu disapa setiap hari cerah.

Sebenarnya tidak ada bayi dalam kereta dorong, di dalamnya ada harapan untuk mempunyai buah hati.***

BELUM BISA BICARA

Ingin sekali saya meremasnya sambil mengulum putingnya menghisap susu yang terkandung di dalamnya.

Kulit dadanya yang putih bersih membuat saya sangat ingin berbaring di atasnya, saya membayangkan tidur nyenyak seperti di atas kasur bulu angsa yang empuk.

Saya tidak terlalu suka apabila sembulan dadanya ditutupi oleh bra berenda dengan bahan lycra, membuat saya susah untuk menjamahnya apalagi untuk meremasnya dan mempermainkan putingnya.

“Saya sangat dahaga, berikan dadamu untuk aku hisap susunya,” saya merengek meminta kepadanya.

Bra renda yang menutupi dadanya tidak segera diturunkan untuk sedikit menyembulkan putingnya agar saya segera menghisapnya.

Sekali lagi saya merengek meminta Air Susu Ibu,“Oooowweeek!”.***

KENANGAN MEI 1998

Hari  ini suasana tempatku bekerja sangat  lenggang tersiar kabar akan terjadi malapetaka besar.

Biasanya menjelang makan siang pelanggan telah mengantri untuk mendapatkan menu makannya.

Melewati waktu makan siang kami diinstruksikan untuk segera menutup restoran tanpa bantahan.

Aku bergegas meminta pelanggan yang masih makan di restoran untuk segera meninggalkan tempat.

“ Sesuatu akan terjadi,” begitu kataku sambil meminta maaf.

Restoran sudah terkunci dan lampu telah dipadamkan.

Tiba-tiba sesuatu yang mengejutkan terjadi. Inilah awal dari malapetaka.

“Praaaaaang….!!!” bunyi kaca pecah diikuti oleh derap orang-orang kalap memasuki restoran bukan untuk makan, tetapi membakar dan menjarah seisi restoran. Tanpa belas kasih. Menjarah nurani.***

ADA DUA CERMIN

Ada dua buah cermin di rumahku. Sebuah cermin berada di pojok kamar tidurku dan sebuah lagi tergantung di kamar mandi.

Cermin di dalam kamar tidurku menyatu dengan meja rias, aku bisa melihat paras cantikku, rambut panjangku yang hitam berkilau saat aku menyisirnya. Ada lagi yang membahagiakan aku sebagai perempuan, lekuk tubuhku sangat indah memantul dari cermin itu.

Aku sangat benci dengan cermin yang tergantung di kamar mandi, apabila aku memandang wajahku di cermin itu, kulit mukaku sangat pucat, wajahku tirus, payudaraku melempem seperti balon kempes, aku sangat tersiksa, sepertinya cermin itu memantulkan diriku sebenarnya.

Cermin itu berkata aku "pelacur" murahan!***

TERMANGU DI CILIWUNG

Aku termangu di pinggiran sungai Ciliwung. Memandangi bayangan wajahku yang terpantul dari air sungai keruh, penuh sampah.

Sesekali aku berdiri, berkacak pinggang dan kembali jongkok termangu seperti orang bodoh yang kehilangan kesabaran.

Air sungai mengalir cukup lancar, karena semalam Jakarta diguyur hujan lebat. Sampah-sampah plastik dan limbah buangan lainnya terseret pelan mengikuti air ke hilir.

Aku kembali berdiri, gelisah, peluhku mulai menetes.

“Kenapa aku harus selalu seperti ini setiap pagi!” aku mulai menggerutu.Rasanya beban yang kutahan ingin aku tumpahkan di sungai ini. Tetapi tidak aku lakukan.

Karena aku tidak terbiasa buang hajat besar di sungai. Aku butuh WC!***

TRAINING YANG SIA-SIA

Hari pertama aku bekerja.

“Bersikap tetap tenang,” kata Menajerku membuka pembicaraan.

“Kemudian berikan semua yang diminta,” lanjutnya dengan mimik serius.

“Jangan menjadi pahlawan!” tegasnya.

Aku berpikir, kenapa tidak boleh menjadi pahlawan? Akhirnya aku bertanya kepada Menejerku.

“Kenapa tidak boleh menjadi pahlawan?” tanyaku.

“Karena nyawamu lebih penting!” tandasnya.

Setelah itu ia melanjutkan pembicaraannya.

“Perhatikan ciri-ciri fisik dan ke arah mana ia keluar,” ujarnya menutup percakapan.

Beberapa hari kemudian, peristiwa perampokan terjadi di tempat kerjaku, sebagai kasir yang bertugas pada malam itu aku tidak sempat lagi melakukan langkah-langkah menghadapi perampokan yang telah diajarkan oleh Menejerku, karena aku telah pingsan duluan.***

GARA-GARA PENJUALAN MENURUN

“Bam, penjualan store kamu  menurun?” tanya Ibu Erni atasanku mempermasalahkan omzet penjualan yang menurun.

“Menurut analisa saya, penjualan menurun saat pemerintah menaikkan harga BBM bulan lalu,” kataku dengan percaya diri.

“Tetapi beberapa store lain penjualannya malah meningkat,” balas Ibu Erni sambil memperlihatkan data penjualan store yang lain.

“Ya, jelas saja Bu, itu khan store-store 24 jam apalagi sekarang lagi musim EURO 2008, pasti malam-malam banyak yang order delivery,” kataku berkelit.

“Tetapi selain penjualan menurun, jumlah customer complain juga meningkat, sepertinya kamu kurang melakukan follow-up terhadap storemu dan jumlah CERPENmu meningkat di Blog.Friendster!” kesabaran Ibu Erni meledak.***

TANGAN KIRI UNTUKMU

Ingin sekali aku memberikan sepotong tangan ini kepada Utik, mungkin aku telah jatuh kasihan melihat Utik gadis kecil yang belum genap berusia lima tahun. Utik terlahir tanpa kedua tangan.

Utik juga yatim piatu, orangtuanya mungkin masih hidup, tetapi entah kemana. Mungkin mereka sengaja meninggalkan Utik begitu saja di pinggir jalan setelah mengetahui anak mereka terlahir cacat. Saat ini Utik diasuh oleh Ibu Irah. Ibu Irah tukang pecel yang mempunyai warung kecil sederhana di depan rumahku.

Tetapi aku sendiri bingung bagaimana caranya aku memberikan sepotong tangan ini kepada Utik, karena saat ini usiaku lebih tua setahun dibanding Utik dan lagi aku laki-laki. Aku berpikir akan memberikan potongan tangan sebelah kiri saja untuk Utik, karena ternyata aku banyak beraktifitas dengan tangan kanan, sehingga ukurannya lebih besar dibanding dengan tangan kiri. Sehingga tangan kiriku sangat cocok untuk Utik.

Pada beberapa pertemuan bermain dengan Utik aku sering mencocok-cocokan tangan kiriku di lengan kiri Utik yang tanpa tangan itu. Aku berada di belakangnya dan kemudian sambil tertawa aku menjulurkan tanganku ke depan, pada saat melihat tanganku yang terjulur dari belakang wajah Utik berseri-seri, apalagi kalau kedua tanganku aku julurkan, tetapi aku harus seolah-olah memeluknya dari belakang. Terus terang aku malu melakukannya, tetapi terkadang Utik memaksa, aku tidak tega. Aku senang apabila kemudian wajahnya berseri-seri dan Utik pun seolah merasakan memiliki dua belah tangan.

“Din, tangannya dikepalkan dong!” pinta Utik, saat itu aku menjulurkan

tanganku dari belakang tubuhnya.

“Nih aku kepalkan,” kataku.

“Aku ingin meninju, kayak Muhammad Ali di film Din,” mohon Utik.

“Kamu tuh ada-ada saja…. Jep, Jep, Jep!” kataku sambil memperagakan gerakan meninju ala Muhammad Ali, meninju udara.

Rasanya lucu juga menirukan gerakan Ali petinju legendaris yang hanya aku dan Utik ketahui dari film VCD bajakan yang kami tonton di rumahku beberapa hari yang lalu. Kata Ayahku yang bermain sebagai Ali itu bukan Muhammad Ali sebenarnya, Ali sebenarnya sudah tua dan sakit-sakitan. Aku dan Utik tidak peduli, kami hanya tahu Ali yang bermain di film yang judulnya ALI itu.

Utik sangat gembira, kakinya bergerak ke sana ke mari, ke depan ke belakang dan ke samping. Aku terus membuat gerakan tinju dengan tanganku di belakang tubuh Utik. Jep, jep, jep! Akhirnya aku kelelahan. Aku berhenti.

“Sudah ya Tik, aku capek nih,” kataku ngos-ngosan.

“Kalau capek nggak apa-apa berhenti, tapi aku ingin tepuk tangan dulu Din,” pintanya lagi.

Aku kemudian bertepuk tangan diikuti teriakan riang gembira Utik. Aku merasakan kegembiraan yang luar biasa dari tawa Utik, seolah-olah Utik yang bertinju dan seolah-olah ia yang bertepuk tangan. Aku semakin bertekad untuk memberikan sepotong tanganku untuk Utik, walaupun aku harus kehilangang tangan kiriku.

“Tik, aku ingin memberikan tangan kiriku untuk kamu,”

“Yang benar? Tapi gimana caranya Din?”

“Itulah Tik, sedari tadi aku berpikir gimana caranya”

“Tapi kamu beneran mau kasih tangan kirimu Din?”

“Aku serius Tik!”

Kami berdua pun terdiam, duduk termangu di pinggir jalan depan rumah. Utik kelihatan sangat berharap-harap cemas, ia ingin sekali aku menemukan ide memindah tanganku ke lengan kirinya yang tanpa tangan itu. Aku pun berpikir keras.

“Bagaimana kalau aku potong dengan gergaji saja tanganku,” aku berseru dan bangkit dari duduk.

“Haaah?” mata Utik terbelalak mendengar ideku.

“Setelah aku potong tanganku, nanti kita sambung pakai tali,” lanjutku meyakinkan.

“Aku sih gimana kamu saja Din,” balas Utik berbinar.

Tidak susah untuk mencari sebilah gergaji, aku cukup membuka kotak perkakas milik ayahku yang tersimpan di garasi mobil. Aku dan Utik kemudian menuju halaman belakang rumahku. Gergaji yang kupegang cukup tajam, dari ujung gergaji baja itu berkilau ketika tertimpa sinar matahari.

Aku sudah bersiap untuk menggergaji tanganku, yang kulakukan pertama adalah mengikat bagian pangkal lengan dengan tali agar darah yang keluar tidak terlalu banyak. Dengan menggunakan tangan kanan sekuat tenaga aku menggergaji tanganku, darah muncrat kemana-mana. Utik tampak panik, tetapi ia tidak dapat melakukan apa-apa, matanya terkadang terpejam, sedetik kemudian terbuka lagi melihatku sambil meringis.

Aku terus menggergaji, mata gergaji mengenai tulang lenganku menimbulkan bunyi keretek yang ngilu. Aku banjir keringat menahan sakit. Akhirnya tangan kiriku terpotong, aku melempar gergaji dan cepat-cepat meraih tangan kiriku yang jatuh ke rerumputan. Dengan cepat pula pangkal ujung tangan kiriku yang sudah terpotong aku ikat dengan tali dan kemudian mengikatnya ke bagian bahu kiri Utik. Tangannya terpasang sempurna di lengan Utik. Utik sangat bahagia, seperti bahagianya aku bisa memberikan sepotong tanganku kepada Utik.

“Didin…!” aku mendengar suara Utik memanggilku.

Aku terjaga dari lamunanku. Aku melihat Utik sedang terheran-heran memandang wajahku. Kulihat Utik tanpa tangan kiriku yang baru saja kupotong untuknya. Aku melihat Utik tanpa tangan, sebagaimana Utik yang aku kenal selama ini.

Utik tersenyum seolah menjulurkan tangannya mengajakku berdiri.***

Tebet, 6 Juni 2008

Sorry…. di delete

Maaf tulisan ini dalam proses perbaikkan. Terima kasih.

(bamby cahyadi)

KENTUT BOMBAY DARI LIBERIA

Cerita kolaborasi Luigi Pralangga dan Bamby Cahyadi

Luigistarbase_logistics_base Suatu hari Luigi Pralangga anggota The UN Peacekeeping Mission in Liberia (UNMIL) dari Kontingen Garuda Indonesia yang sudah bertugas selama tiga tahun lebih di Monrovia ibu kota negara di Afrika Barat Liberia mendapat telephone.

Suara telephone yang berdering kencang di meja kerjanya membuat Luigi sedikit terkejut karena hari masih sangat pagi, penduduk kota Monrovia mungkin sebagian besar masih terlelap dalam tidur. Caller id pada layar display telephone menunjukan sebuah nama, dari Deputy Indian FFPU (Female Formade Police Unit). Tambah terkejut Luigi. Ada apa gerangan kenapa ia di telephone oleh Indian FFPU?

Akhirnya gagang telephone diangkat juga oleh Luigi, masih dengan tanda tanya besar dipikirannya, Luigi akhirnya tahu yang menelpon adalah Wakil Komandan Kontingen Polisi Wanita Anti Huru-hara India.

Terjadilah percakapan dengan bahasa Inggris yang kalau diterjemahkan secara bebas, istilah Luigi diterjemahkan secara sontoloyo sebagai berikut :

“Selamat pagi, ini Pak Luigi? tanya suara di seberang sana.

“Yup! Betul sekali, saya bicara dengan siapa?” tanya Luigi balas bertanya.

“Oh, ini dari Indian FFPU, saya Jaykumise Meregehese, Deputy Commander Indian FFPU… kalau nggak salah kita pernah ketemu dan ngobrol saat pesta perpisahan Mister Roberto Buratbaretos yang dari Guetemala bulan lalu… masih ingat Pak Luigi?” kata Jaykumise Meregehese nyerocos tanpa jeda.

“Oh iya, ya saya ingat… gimana khabarnya Mas Jay?” balas Luigi sambil mesem mengingat-ingat wajah orang yang sedang berbicara dengannya.

“Saya baik-baik saja Pak, gini Pak saya mau minta tolong nich…” suara Jay agak merajuk manja.

“Oke, apa yang bisa saya bantu  Mas?” tanya Luigi.

Mas Jay kemudian nyerocos lagi dan panjang. “Gini Pak, mohon bantu kita untuk dokumentasi. Komandan saya diundang ikut konferensi di London minggu depan. Dia diminta ceramah soal peranan polisi wanita India di medan peacekeeping seperti di Liberia ini, nah saya pernah lihat foto hasil jepretan sampeyan itu kueren-kueren, foto sampeyan nanti untuk bahan presentasi beliau di sana. Waktu di pesta saya pernah cerita soal ini juga… mungkin anda udah nggak ingat lagi, wong waktu itu keliatannya sampeyan sibuk dengan wanita-wanita cantik njeh!”

Luigi mesem-mesem lagi, kali ini untuk dua hal, pertama hidungnya kembang kempis karena hasil foto-fotonya dipuji dan diminta untuk mejadi fotografer aktivitas FFPU India untuk dipakai presentasi segala di London dan yang kedua yang bikin Luigi tambah berbunga-bunga dengan pipi merona merah karena perkataan Mas Jay yang bilang ia sibuk dengan wanita-wanita cantik. Siapa dulu dong, Aku!, batin Luigi sumringah.

“Ah bisa aja nich Mas Jay, Oh gitu ya, kapan sich waktunya?” tanya Luigi masih belum mudeng.

“Ini dia masalahnya, bisa nggak sampeyan kalau lewat dari jam 10 PM besok malam?” kata Jay.

“Haaa??? Malam amat! Ini mau motret siapa sich? Kok malem-malem gini toh?” kata Luigi masih terkejut.

“Itu lho, sampeyan diminta motret pasukan kita yang sedang patroli malam, dijamin deh anggota pasukan akan kelihatan lebih cantik dan gagah saat beraksi dimalam hari, apalagi kalau Pak Luigi yang motret, para prajurit pasti lebih bersemangat,” rayu Jay sambil tertawa.

“Oh begitu ya…” jawab Luigi sambil alisnya naik turun ngebayangin perkataan Jay.

“Iya, oke ya dijemput besok jam 8 PM dari rumah sampeyan. Nanti saya siapkan makan malam bersama bareng dengan para officers di Mess, itu loh di Accommodation-quarter kita, akan saya siapkan hidangan khas. You would be our special guest!” Jaykumise Meregehese menutup pembicaraan.

“Kebetulan saya malam besok nggak ada acara sih, boleh deh Mas Jay, saya di Reverview Compound. 8 PM sharp!” balas Luigi menutup telephone.

***

Rumah Luigi berada di Reverview Compund sebuah kawasan pemukiman untuk para staff PBB. Malam telah merayapi kota Monrovia, ibu kota Liberia yang sedang berkecamuk akibat perang saudara beberapa tahun yang lampau.

Selepas maghrib, Luigi telah bersiap-siap di depan rumahnya dan tepat jam 8 PM terdengar suara klakson mobil membahana memecahkan kuping terdengar di depan rumahnya.

“Beeep….beeeep….beeeep!” tiga kali klakson di tekan.

Luigi menghampiri mobil jemputan sebuah Jeep perang. Seraya menghormat ala tentara dan memberi salam, seorang perwira tinggi India yang turun dari mobil menyambutnya dengan khas logat Indian English yang sangat kental.

Good evening, Sir… My name is Captain Rakhee Shemanukdadalee, my commander has asked me to take you to the Indian FFPU Headquarters, we are ready to go when!” kata Captain Rakhee sigap.

Sepanjang perjalanan dari Riverview Compound menuju FFPU Headquarters, Luigi dan sang Captain berbicara ngalor-ngidul, sambil kedua telinga Luigi berjuang keras untuk mengerti bahasa Inggris Captain Shemanukdadalee dengan logat kental India, kentalnya seperti kuah kare. Sambil berbicara Luigi juga berusaha untuk tidak latah mengikuti kepala Captain Rakhee yang godeg-godeg saat ia berbicara.

Godeg-godeg itu maksudnya si kepala orang yang berbicara ikut bergoyang-goyang menggeleng ke kanan ke kiri seperti bandul jam ding-dong. Kemudian yang terjadi adalah Luigi malah ikut menggeleng-geleng kepalanya juga, bukan karena latah, tetapi berusaha untuk membaca bibir sang Captain. Apa nggak puising tuh orang ngomong sambil geleng-geleng kepala terus, batin Luigi cekikan dalam hati.

Akhirnya rombongan sampai juga ke tujuan dengan selamat. Kemudian Luigi dan Captain Rakhee turun dari kendaraan. Di gerbang pintu yang berportal ala tentara, Jaykumise Meregehese sang Deputy telah menjemput dengan senyuman yang sangat ramah memamerkan giginya yang putih berderet, mungkin bukan giginya yang terlampau putih tetapi wajahnya terlalu hitam. Husss jangan menghina orang!

Deputy Jay memberi salam kepada Luigi seraya menghormat. Di samping Pak Jay berdiri tegap dan gagah seorang polisi wanita yang menjaga pintu piket, Luigi sempat melirik polisi cewek India itu, walaupun masih berusaha menatap Pak Jay tetapi kepala Luigi masih sempat untuk menoleh melihat si Mbakyu Polisi India yang sedang berjaga, tetapi maaf, rupanya Luigi bukan melihat keayuan Polisi cewek itu yang mirip bintang Film itu, tetapi Luigi melihat senjata laras panjang yang disandang olehnya. Bedilnya itu serem amat!, Luigi membatin lagi.

Luigi kemudian diantar masuk ke dalam ruangan Officer Mess, benar saja seperti yang dijanjikan oleh Pak Jay, di dalam ruangan telah tersedia jamuan makan malam. Sayangnya dalam jamuan makan malam ini Luigi hanya ditemani oleh tiga perwira India selain Pak Jay. Kata Pak Jay para Polwan India sudah makan duluan, rupanya Pak Jay memahami raut wajah Luigi yang flamboyan khas Play boy.

“Ya sudahlah, kita makan tanpa wanita,” kata Luigi bercanda. Semua tertawa. Dan memang saat itu, jam makan reguler para prajurit telah lewat.

Ternyata makanan India itu sangat enak. Saking enaknya Luigi makan dengan bersemangat, selain itu memang sedari tadi Luigi sudah merasa lapar, maklum sehabis maghrib ia belum sempat menyantap apa-apa. Semua makanan masuk ke mulutnya, digoyang oleh lidahnya, sruuuuput, glek!

Saat itu Pak Jay menyodorkan tambahan makanan berupa lapapan ala India. Jangan dulu membayangkan lalapan khas Indonesia yang terdiri dari mentimun, daun selada hijau segar atau daun semangi dan kacang panjang. Lapapan mereka, adalah BAWANG. Betul, Luigi disodori sebuah bawang besar, sebesar bola tenis ukurannya. Kalau di kampung kita menyebutnya Bawang Bombay. Karena semua makanan yang disajikan berkuah dan berkari, maka Luigi pun dengan terpaksa mengunyah bawang bombai itu, terasa agak segar sewaktu menggigit bawang itu.

Saat itu dalam pikiran Luigi hanya menyantap makanan sampai tuntas, tancap terus! Katanya dalam hati. Urusan bau bawang, urusan belakangan. Luigi dan para perwira India larut dalam makanannya masing-masing, tetapi sebenarnya Luigi agak sedikit aneh menyaksikan perwira India yang sangat lahap menguyah bawang mentah itu seperti makan buah apel. Pokoknya, gila banget, eduuun man! Sorak batin Luigi hampir tersedak.

Selepas kekenyangan makan malam, suasana seketika menjadi heboh, tiba-tiba ada panggilan radio dari Unit Patroli FFPU dari luar sana. Suara di radio itu menjerit lantang semula dengan bahasa Inggris dan kemudian dengan bahasa India.

Mari kita simak isi panggilan radio tersebut.

Lima Two…Lima Two… reporting to Zulu Hotel, over….Crrrrk!”

Zulu Hotel, this is Lima Two please confirm your twenty, over ….!”

Nah setelah itu Luigi mendengar mereka berbicara dengan bahasa India beneran, telinga Luigi hanya bisa menangkap percakapan yang sering ia dengar dalam adegan film India kegemarannya. Eit, kata siapa ane suka film India, fitnah lu! Luigi menghardik.

Ini dia percakapan bahasa India yang terdengar.

Geleee..gleee…gleeee, acha-acha!”

Krecap gere mege rege geleee gleeee!”

Pokoknya begitu susah bagi Luigi untuk mengerti isi percakapan tersebut, sama susahnya dengan menangkap aksen Inggris India mereka.

Tidak lama kemudian setelah panggilan radio selesai, Luigi, beberapa perwira dan prajurit India bersiap diri dan langsung keluar dari Mess, sebuah Jeep dan mobil berlogo UN sudah menunggu di luar. Mereka menuju sebuah kawasan tempat pasukan FFPU melakukan patroli malam ini.

Celaka buat Luigi, selama di dalam kendaraan sepanjang perjalanan perutnya mulai berulah, Luigi merasakan perutnya bagaikan ayam yang ingin berkokok. Ini sebuah tanda bahwa dari perutnya akan melepaskan, memerdekakan GAS MAUT! Jelas ini akibat ia kebanyakan makan bawang Bombay.

“Kampret!” rutuk Luigi kepada dirinya sendiri. “Sumpah, berani mampus gua udah nggak tahan!” teriak Luigi dalam hati.

Dengan terpaksa sambil duduk agak menikung sedikit dan berpura-pura batuk serta sambil mengibas hidungnya seolah-olah mengenyahkan debu malam yang menerpa hidung, Luigi pelan-pelan membuang angin yang sudah tidak bisa dibendung lagi.

“Uhuuk…uhuuk…uhuukk!” mulut Luigi terbatuk-batuk, diikuti oleh bunyi: “Preeet!” yang tersamarkan. Keluarlah gas maut yang mematikan itu.

Masih belum puas, sambil kedua bola matanya berpura-pura melihat ke arah langit yang sedang terang benderang oleh bulan purnama, Luigi kembali mengulang trik batuknya dan terus membuang angin sialan yang tak tahu diri. Mungkin karena terlalu sering terbatuk-batuk palsu, tenggorakan Luigi malah menjadi iritasi beneran.

Dan sang Captain Shemanukdadalee yang sedari tadi melirik memperhatikan tingkah Luigi pun akhirnya bertanya.

“Sir, are you OK?” katanya sambil geleng-geleng.

“Oh… I am fine, thanks…. Just a sore throat,” kata Luigi ngeles.

Terpaksa Luigi berbohong. Walapun kemudian, suara batuk palsu Luigi terus berlangsung.

“Uhuk…uhuk! Preeeet!”

Luigi_patrol Bahkan sampai mereka telah tiba di lokasi Foot Patrol, kalau di Indonesiakan Foot Patrol adalah RONDA MALAM, Luigi masih terus mengeluarkan gas maut akibat kebanyakan makan bawang Bombay.

Sesekali apabila Luigi akan menghempaskan gas maut beraroma bawang, Luigi mengambil posisi barisan paling belakang, atau kalau kebetulan posisinya berada di depan pasukan, maka Luigi akan menjauh beberapa langkah dengan berlari kecil ke depan dan melepaskan tekanan gas yang tak mau kompromi. Gila sekali situasi ini, Luigi kembali mengutuk si bawang Bombay. “Gelo sia!” geramnya.

Namun demikian, terlepas dari permasalahan gas maut kentut Bombay, patroli malam ini sangat berkesan untuk Luigi, karena sepanjang patroli Luigi didampingi oleh Laksmi, salah seorang Patrol Leader cewek yang cantik, dan banyak informasi serta cerita pengalaman seru mereka saat bertugas di FFPU. Laksmi bercerita tentang prestasi mereka menangkap aksi kejahatan yang pernah terjadi beberapa minggu lalu di pinggiran kota Monrovia.

Ternyata ikut Ronda Malam sambil foto sana foto sini seru dan mengasyikan bagi Luigi, walaupun disertai dengan kentut bawang Bombay di sebuah Negara di Afrika Barat bernama Liberia.***

(Seperti yang diceritakan oleh Luigi Pralangga).Luigimonrovia_kids_1

Cerbung: TEMAN WANITAKU

Ada beberapa wanita yang dekat denganku sejak aku bercerai dengan Dewi, apalagi Astrid sangat mendukungku untuk segera mencari pengganti ibunya yang sekarang tinggal di Jerman. Astrid anakku terkadang ikut terlibat dalam proses pencarian calon ibunya. Tetapi terkadang aku merasa risih kepadanya, karena tidak semua wanita itu mempunyai rasa keibuan, sabar dan penyayang seperti sering ia lihat di tayangan sinetron televisi.

Nicky adalah seorang yang dekat denganku saat ini. Cewek berdarah campuran Manado dan Sunda ini adalah Sekretaris Marketing di tempatku bekerja. Nicky, cantik dan manis. Aku katakan cantik, karena wajahnya memang cakep untuk ukuran cewek berkepala tiga dan manis karena memandangnya tidak akan pernah bosan, kulitnya tidak putih namun tidak juga hitam, sawo matanglah. Rambutnya tebal dan panjang, di ujung rambutnya yang melambai ada sedikit gulungan-gulungan kecil yang membuatnya semakin modis.

Aku sendiri heran kenapa cewek secakep Nicky kini menjadi teman dekatku. Aku katakan masih teman dekat, karena kami belum berikrar untuk pacaran. Sepulang kerja sering kami habiskan waktu untuk sekedar makan malam bareng atau nonton film, atau saat libur kami sering jalan bareng di mall. Aku belum memperkenalkan Nicky kepada Astrid.

Malam ini Nicky mengajakku mampir ke rumahnya sebuah rumah mungil minimalis, dengan mengendarai mobilnya aku dan Nicky sudah berada di sebuah komplek perumahan di daerah Cibubur.

“Ayo turun, masuk dulu,” katanya setelah memarkirkan mobil di garasi rumahnya.

“Ada siapa saja di rumah ini?” tanyaku basa-basi sambil turun dari mobil.

“Hanya aku, sesekali adikku nginap di sini, sekarang dia kost dekat kampusnya,” Nicky menjawabku sambil membuka pintu rumahnya.

Pintu rumah terbuka, Nicky menyalakan lampu taman dan beberapa lampu lain di ruang tengah.

“Bam, kamu mau minum apa?” teriaknya dari dalam, aku masih terpaku duduk di sofa ruang tamu.

“Apa sajalah, asal jangan yang dingin!” balasku.

Tidak ada jawaban darinya. Aku mengitari ruang tamu Nicky dengan pandanganku. Ada sebuah lampu duduk di pojok ruangan, di atas meja kecil dekat lampu terdapat sebuah pesawat telephone dan sebuah vas bunga kecil. Sofa hanya tiga buah, dua buah berukuran sedang dan sebuah berukuran panjang. Meja terbuat dari besi tempa dengan kaca tebal hitam tidak terlalu besar di atasnya terdapat sebuah vas bunga segar. Karpet tebal berwarna hijau lumut bermotif bunga lotus menghiasi lantai keramik yang tampaknya selalu bersih dan sebuah pigura foto ukuran cukup besar, Nicky dan keluarga besarnya.

“Bam, teh manis hangat ya,” Nicky meletakkan secangkir teh di depanku. Kemudian ia mengambil posisi duduk di sofa panjang, ia masih mengenakan pakaian kerja tangannya memegang sebuah gelas besar.

“Kamu minum apa Nick?” tanyaku.

“Jus, jus strawberry, kamu mau?” balasnya memandangku sambil tersenyum. Aku menggeleng.

“Oya, rumahmu rapi banget, siapa yang ngurus?” tanyaku sambil menyeruput teh hangat buatan Nicky.

“Aku semua, semuanya aku yang urus, aku sudah terbiasa mengurus rumah sendiri, bahkan untuk urusan genting bocor aku tangani sendiri,” jelas Nicky. Aku tersenyum.

“Kenapa kamu tersenyum, gak percaya dengan omonganku ya?” tebaknya sambil mengibaskan rambutnya ke  sisi yang lain, wangi parfumnya menebar. Cantik, batinku. Ia tersenyum, kali ini manja.

“Aku percaya kok, masa sekretaris gak bisa ngurus rumah sendiri?” kataku.

Malam ini aku makan malam dengan masakan buatan Nicky. Aku tidak menyangka cewek seperti Nicky bisa memasak dan juga mengatur rumah dengan sangat rapi. Setahuku sebagai Sekretaris Marketing pekerjaannya sangat banyak dan memerlukan ketelitian dalam mengerjakan sesuatu hal. Aku semakin kagum dengan kepribadiannya.

“Bam, udah minum obat?” Nicky mengingatkan. Aku hanya mengangguk mengiyakan.

Kedekatan aku dengan Nicky berawal selesai aku di operasi. Ia dan beberapa staf Marketing membesukku di rumah sakit, waktu itu ia bertanya, siapa yang menjaga aku, tentu saja hanya Astrid yang menjagaku. Entah kenapa, keesokannya hampir setiap hari Nicky menengokku di Rumah Sakit dan Nicky selalu datang di saat Astrid sedang tidak bersamaku.

Setelah aku bisa bekerja lagi, Nicky sering mangajak makan siang bersama dan akhirnya kami sering jalan bersama.

“Bam, kamu masih suka menggambar?” pertanyaan Nicky yang tiba-tiba sempat membuatku sedikit gelagapan.

“Apa?”

“Kamu masih suka menggambar, melukis gitu?”

“Masih, kenapa?”

“Hmmm… kalau gambar suka gambar apa?”

“Akhir-akhir ini aku lebih suka menggambar ekspresi, ekspresi wajah orang. Sedih, gembira, melamun, menatap.”

“Gak gambar bunga?”

“Bunga?” aku berpikir. Rasanya aku belum pernah menggambar bunga, saat senggang aku memang suka menggambar, tetapi belum pernah aku menggambar bunga. Semua gambar lebih banyak gambar manusia dan ekspresinya atau gambar alam  dan suasana sebuah tempat, misalnya pasar.

“Boleh gak aku request?  kamu gambarin aku bunga,” suara Nicky memohon, sangat manja.

“Nick, kenapa bunga?”

“Aku suka bunga.”

“Bunga apa?”

“Semua bunga!”

“Jadi aku harus menggambar semua jenis bunga?” kataku terbelalak diikuti tawa. Nicky pun ikut tertawa.

Malam yang indah ini aku lalui dengan bercakap-cakap berbagai hal dengan Nicky. Percakapanku dengannya lebih di dominasi  dengan tema bunga. Seperti hatiku yang berbunga-bunga, menghabiskan malam bersama Nicky.

***

Nicky bukanlah satu-satunya wanita yang sedang dekat denganku saat ini. Ada Ratih, seorang terapis, seorang dokter dengan spesialis psikiatri. Dokter Ratih, sama seperti Nicky, wanita dengan usia telah melebihi kepala tiga, tidak cantik tetapi menarik. Tubuhnya tinggi melebihi tinggi badanku, kulitnya putih dan memakai kaca mata yang selalu berganti-ganti mode setiap aku bertemu dengannya.

Setelah menjalani operasi by pass jantung, aku juga mengikuti sejumlah terapi psikologi. Aku agak kurang siap menghadapi kenyataan yang menimpaku, harus mengatur hidup dengan sangat disiplin dan dengan berbagai jenis obat yang harus ku minum setiap hari. Aku sempat depresi, dan kemudian Zakky sahabatku merekomendasikan dokter Ratih.

Beberapa pertemuan terapi malah menjadi pertemuan rutin yang membuat aku menyukai Ratih. Ratih sangat sabar mendengar semua keluhanku dan ia juga sangat tegas, ia membimbingku dengan memberikan teori-teori psikologi praktis yang membuat aku termotivasi. Beberapa kali juga ia menemaniku untuk mengikuti pertemuan-pertemuan penderita gagal jantung atau penyakit-penyakit berat lainnya, ternyata penderitaanku tidak ada apa-apanya dibandingkan penderita Lupus, atau juga Leukimia seperti yang diderita oleh Zakky. 

Pagi ini aku harus bertemu Ratih, ada yang akan aku sampaikan kepadanya, sebuah mimpi. Aku sangat terganggu dengan mimpi itu, aku pikir aku akan curhat kepadanya.

Bersambung…